Axel dan Sonya
Anakmu bukanlah anakmu, tapi anak masa depan…
Kalimat itu saya kutip dari kata-kata pujangga Khalil Gibran. Saya kadang merenung dan menerawang melihat dua anak saya, Axel Ariel Muhammad dan Alliya Sonya Azarena, dalam keseharian mereka. Anak pertama saya, laki-laki kini 8 tahun kelas II SD Kalista dan adiknya perempuan bernama Sonya 4 tahun di TK Islam Bintang Kejora.
Sungguh, saya berbahagia dikarunia sepasang buah hati yang sehat, cerdas, lincah dan rupawan. Si sulung Axel yang biasa disapa Ari, menyandang nama yang saya artikan orang yan gagah perkasa dan penyayang seperti Nabi Muhammad. Sementara Sonya artinya wanita yang berakhlak mulai, bijaksana dan penyayang. Beda usia keduanya empat tahun.
Sejak awal, saya ingin mendidik Axel menjadi anak yang mandiri. Sebab, sejak ia mulai bisa berjalan, tampaknya ia sangat tergantung pada ibunya. Ia anak yang lasak dan tak suka diam. Meloncat, berlarian dan membuat suasana rumahjadi gaduh. Saat saya bawa ia menghadiri acara yang dihadiri gubernur, ia malah bergulingan di dekat panggung.
Saat adiknya lahir, sebagai anak sulung, ia agak cemburu. Malah, kadang tak segan-segan ia mengungkapkan kecemburuan itu pada istri saya yang mereka panggil Bunda. Saya mulai mengajarinya mengambil keputusan saat mau masuk sekolah dasar. Seharian saya tak masuk kantor dan mengajaknya mengunjungi beberapa sekolah yang dinilai favorit.
Kami berkeliling. Mulai dari SD Islam Terpadu di Tiban, SD unggulan di Sei Panas, Sekolah Nabila dan terakhir ke SD Kalista, afiliasi sekolah internasional Global Indoasia. Setelah itu, saya tanya, ia mau sekolah dimana. Namun, pertanyaan saya dijawabnya dengan ucapan tidak tahu, sambil memalingkan muka. Tak lama kemudian, saya mendengar ia meminta kepada ibunya agar sekolah di Kalista saja.
”Kan sekolahnya pakai bahasa Inggris?” kata istri saya. Anak saya menjawab enteng. ”Ya, nggak apa-apa. kan kalau kita ke Singapura bisa ngomong,” katanya. Ketika saya mengajuknya masuk sekolah itu mahal, lagi-lagi ia menjawab,” Kan tabungan Ai (sebutan sayangnya) ada,” katanya. Sejak bayi, kami memang menabung untuk biaya sekolahnya.
Meski masih kelas 2, anak saya kini terbiasa bicara memakai bahasa Inggris di sekolahnya. Tapi, ia menolak bila di rumah diajak berbahasa Inggris. Capek, katanya. Nilai rapornya bagus. Ia juga keranjingan komputer dan internet. Laptop milik omnya di rumah jadi sasarannya untuk membuka games cartoonnetwork. Saya juga melihatnya mencatat beberapa alamat situs internet.
Yang jadi pikiran saya, saya bapaknya tidak pernah kursus komputer dan baru paham setelah bekerja. Itupun dengan mencatat di tangan bagaimana mengoperasikan komputer. Sesekali, kalau ia libur, saya ajak Axel meliput dan melihat bagaimana realitas kehidupan.
Berbeda dengan abangnya yang agak serius dan pendiam, terutama sejak sekolah yang dari jam 07.30 WIB hingga pukul 15.00 sore, adiknya Sonya sifatnya bertolak belakang. Selalu ceria dan suka tertawa. Umur dua tahun dan saat pandai berjalan, ia susah bicara. Tapi sekarang, cerewetnya minta ampun. Saya tercengang ketika saat mulai bisa ngomong ia berkata,” Batu, jembatan, ai juuun…” celotehnya. Saya heran. Oala, ternyata ia menirukan ucapan Dora, dalam film Dora Explorer.
Sonya memang generasi televisi. Kini, ia sering menirukan iklan kartu selular murah seperti: jojing-jojing,cakep-cakep, mau, mau, mau?…Atau iklan coca cola yang setelah diminum langsung berucap brrrrrr…Ia juga senang menyanyi dan mewarnai. Satu kegemarannya terhadap boneka berbie dan princess membuat saya dan istri kadang kewalahan. Tidak saja boneka dan tas, apa saja yang bergambar putri itu ia mau. kalau tak dipenuhi, ia langsung berdiri tegak dengan muka manyun!
Apapun, saya bersyukur punya buah hati yang membanggakan hati. Saya hanya makin terkaget-kaget ketika Sonya bilang ia mau nonton sinetron Cinta Fitri. Meski saya sibuk dan kadang harus pulang larut malam, sesekali saya berusaha mendongeng dan membacakan buku cerita. Untunglah kedua buah hati saya ini suka buku. Sehingga ia tidak kehilangan daya imajinasi. ***
Comments
3 Responses to “Axel dan Sonya”
Leave a Reply



baca tak baca terserah…… digantilah bang……
menurut abang, siapa orang yang paling berjasa dalam hidup abang???
menarik,,sedikit aksen n real realty life