Agustus yang Melelahkan
Bulan Agustus 2008 bagi saya punya catatan tersendiri. Bulan ini cukup melelahkan. Baik secara fisik maupun pikiran. Berkejaran dengan waktu, seperti berada di stasiun kereta api melihat sepur terus menjauh. Namun, tetap ada sisi lain yang membahagiakan. Itulah kehidupan.
Setelah mengikuti Kongres PWI di Nanggroe Aceh Darussalam, tak terbayangkan negeri serambi Mekkah itu bangkit dari nestapa tsunami. Sisa-sisa duka menyelinap dimana-mana. Tatapan mata yang kosong, perasaan bergidik kalau kisah itu ditanyakan lagi, tergambar di mata orang-orang Aceh.
Saat berangkat ke Aceh, saya dan teman-teman menempuh perjalanan memutar. Sebab, seat pesawat Batam-Medan-Aceh penuh sehingga rutenya menjadi Batam-Jakarta-Medan dan Aceh. Kami landing jam 10.00 malam dan baru masuk hotel pukul 01.00 dinihari.
Kongres selesai, sepuluh orang delegasi PWI Kepri berpisah sesuai tujuan masing-masing. Ada yang balik ke Natuna, ke Jakarta, atau langsung pulang ke Batam. Saya harus menunggu kedatangan tim sepakbola Divre Batam yang akan berlaga di Medan. Entah kenapa, Medan menjadi menjemukan. Naiklah becak motor kalau Anda ingin tahu kacaunya lalu lintas di Medan.
Dua hari di lapangan Kebun Bunga, markas PSMS Medan menyaksikan teman-teman bertanding, juga melelahkan. Bukan soal kalah menang. Tapi karena sikap tidak sportif pemain yang berlanjut ke luar lapangan. Lalu, apa lagi yang harus saya pertahankan? Apalagi, saya tak begitu suka dan mengerti sepakbola. Ya, sudahlah.
Kembali ke Batam dan hari bersejarah bagi Batam Pos menjelang usia sepuluh tahun, sudah menanti. Apa yang akan dilakukan agar hari ulang tahun koran ini berkesan? Agenda rally wisata sudah matang. Begitu pula kerjasama dengan Yayasan Maria Monique Last Wish yang akan memberikan 17 kursi roda bagi penderita lumpuh layu, sudah disiapkan.
Gagasan besar pun datang dari Pak Rida. Gerakan seribu rumah baca se Kepulauan Riau. Lalu, ditambah dengan pemberian 500 kacamata gratis dari Juwis Optical. Lalu, apa lagi? Alangkah bahagianya kalau buku saya yang sudah disiapkan sejak bertahun-tahun lalu, bisa diluncurkan. Sebagai kado buat Batam Pos.
Klop. Ada rally wisata, festival band dan dancer sebagai acara entertaint, ada pemberian kursi roda dan kacamata, ditambah gerakan rumah baca dan peluncuran buku. Semua agenda yang semula tak nyambung itu seakan direkatkan sesuatu sehingga menjadi sebuah mozaik acara yang fenomenal.
Kegiatan yang sambung menyambung itu, membuat fisik saya tergerus. Padahal, saya harus ke Jakarta, menghadiri undangan seorang vice president perusahaan ternama. Saat bangun pagi, tulang belikat saya sakit sekali. Seperti keseleo. Saya pikir, hanya kecapean. Saya kaget, saat cek darah ke laboratorium, ternyata kolesterol saya tinggi. Rasa sakit di tangan makin menjadi-jadi dan menjalar sampai ke jari.
Saat orang merayakan hari kemerdekaan, saya malah masuk rumah sakit di unit gawat darurat Awal Bross. Meski disuntik penghilang nyeri, tetap tak sembuh. Dokter bagian rehabilitasi medik yang biasa menangani pasien patah tulang mengatakan, otot saya bermasalah. ”Seperti orang olahraga, tapi tak ada pemanasan,” katanya. Pijat? Sudah enam tukang pijat tapi tak sembuh juga.
Pada tanggal 17 Agustus hari itu, putri saya Sonya ulang tahun ke empat dan dirayakan di rumah, bersama anak tetangga. Saya meringkuk di kamar kesakitan. Ia sebenarnya lahir tanggal 20 Agustus. Istri saya kali ini juga mau merayakan bersama anak-anak teman sekantor pas tanggal 20 itu. Sampai saatnya tiba, saya masih belum sembuh juga. Baru kali ini kami memesan tempat ulang tahun di luar. Kalau dibatalkan, sudah bayar down payment. Walah.
Senin tanggal merah. Saya sudah lama janji dengan Pak Abidin bos Satnusa Persada pertandingan persahabatan dengan Batam Pos. Saya memaksakan diri datang dengan bahu dibalut perban lantaran sakit. Istri saya yang nyetir, saya nyengir kesakitan sepanjang jalan.
Meski mendadak, acara ulang tahun putri kami lumayan meriah. Malah, kami sekeluarga terlambat datang ke tempat acara. Malamnya, kami pergi ke panti asuhan di dekat rumah, merayakan ultah Sonya dengan anak-anak panti asuhan Darul Aitam. Lengkap sudah. Iseng saya tanya istri saya soal ulang tahun yang komplit itu, ia menjawab,” Kan Sonya ulang tahun tanggal 20-08 tahun 2008…,” katanya. Walah!
Hari Jumat 22 Agustus juga istimewa. Sebab, mama saya berulang tahun yang ke 66. Istri saya beli kue, lalu kami beli lilin-lilin kecil, kedua anak saya mengucapkan selamat ulang tahun buat neneknya di rumahnya malam hari. Ibu saya tersenyum bahagia. Sakit di tangan saya pun sudah mulai reda. Begitulah. Agustus memang melelahkan, sekaligus membahagiakan. ***
Comments
Leave a Reply


