Adipura Singapura
Melihat Singapura, saya sering teringat Batam. Kota yang bersih dan tertata apik ini, bisa jadi inspirasi
menata Batam. Karena menjaga kebersihannya secara konsisten, siapa yang menganugerahkan Piala
Adipura untuk Singapura?
Warga kelas menengah ke atas, pengusaha, para pejabat Batam, pasti pernah ke Singapura. Mulai dari pelabuhan, bandara, jalan-jalan, pusat pertokoan hingga ke perumahan di Singapura tampak bersih.
Singapura tidak hanya bersih di atas (jalan-jalan, taman, perumahan) juga di bawah (rute Mass Rapid Transpor di bawah tanah yang menghubungkan seluruh Singapura).
Piala adipura merupakan lambang kebersihan sebuah kota di Indonesia. Kota yang layak dapat
adipura adalah yang bebas dari sampah dan bersih, rindang, teduh dan hijau serta drainase yang bebas dari gulma dan sedimentasi. Warga Batam dan pejabatnya pantas gembira. Sebab, sebelumnya Batam malah dapat julukan kota terkotor.
Ketika piala adipura sudah di tangan, lalu apa? Tidak mungkin jumlah petugas kebersihan yang sedikit itu, bisa melayani semua warga Batam agar kota pulau ini bersih. Lihatlah prilaku warga yang masih suka membuang sampah sembarangan. Alangkah capeknya melihat seorang petugas kebersihan,
berseragam hijau kuning dengan kantong plastik besar di tangannya memungut sampah dari pinggir jalan. Sementara, orang seenaknya membuang sampah dari kendaraan.
Penilaian adipura meliputi kebersihan perumahan, jalan, pasar, pertokoan, perkantoran, sekolah,
rumah sakit, hutan dan taman kota, terminal, pelabuhan, perairan terbuka, pantai wisata, pemanfaatan sampah dan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah.
Kebersihan perumahan, perkantoran, pertokoan tentu saja juga menjadi tanggungjawab warga di
lokasi itu. Namun, jalan, pasar dan terminal serta TPA sebagai sarana publik, mendapat bobot yang
cukup besar dalam penilaian tersebut. Celakanya, swastanisasi sampah yang sudah sampai pada proses tender, tak jelas juntrungannya.
Begitulah kalau sebelum tender, sudah ada nama pemenangnya dan tinggal dicarikan alasannya,
kenapa dia harus menang. Kuat dugaan, proyek sampah ini menjadi piutang politik yang harus dibayar
pejabat yang mengandalkan tim sukses meraih kemenangannya. Bagi warga, tak jadi soal benar, siapa
yang menang. Yang jelas, mereka berharap sampah diangkut dan lingkungan mereka bersih.
Tapi ya sudahlah. Selama 34 tahun, baru kali ini Batam meraih piala Adipura yang lalu
dipertontonkan kepada warga. Jadi, pantaslah untuk bergembira. Lalu, setelah itu apa? Saya menduga,
Singapura yang begitu bersih diawali oleh penegakan hukum yang tegas dan konsisten. Istilah kerennya: law enforcement. Penegakan hukum ini yang memaksa warganya dan siapa saja, tidak boleh membuang sampah sembarangan.
Buktinya, mesti saban hari ada orang Batam yang bolak-balik ke Singapura, tidak ada yang berani
melanggar aturan di negara yang dijuluki Habibie noktah di peta itu seperti meludah sembarangan,
merokok seenaknya atau membuang sampah sesuka hati. Mereka takut kena denda dan tegasnya
peraturan di Singapura.
Saya pernah bertemu seorang warga Singapura yang memilih tinggal di rumah liar di kawasan
Bengkong. Kabarnya, ia orang kaya pengusaha kapal tanker. Tahu apa alasannya tinggal di Batam? ”Di
Batam enak. Bisa buang sampah sembarangan, buka baju sesuka hati. Di Singapura, mana boleh?”katanya terkekeh. Sayang, ia menolak diwawancarai.
Melihat kebersihan Singapura, saya atas nama pribadi menganugerahkan kota itu Piala Adipura. ***
Comments
Leave a Reply



