Kisah PWI Kepri (2)

December 26, 2008 · Filed Under jurnalisme 

 Selama menjadi Ketua PWI Perwakilan Batam, tak banyak kegiatan yang menonjol yang kami lakukan. Namun, kedekatan dengan Ketua Umum PWI Pusat Tarman Azzam, sangat membantu kami mengetahui perkembangan pers nasional. 


Untuk menjalin hubungan silaturahmi dengan wartawan, paling acara buka puasa yang diadakan, dengan menggelar tikar di kantor PWI Perwakilan Batam. Yang memasak makanan ibu-ibu Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia (IKWI) yang saat itu cukup aktif. Antara lain, istri saya Yenni Astuti, Asni istri AT Sinaga, Erni istri Depan Maju Sihite, istri Rumbadi Dale serta Umi Sulamika Rani, istrinya Wiliater Sidabutar. Karena istri saya paling muda dan harus menjadi ketua yang lebih tua, ia sengaja berbohong soal usianya. Padahal, saat itu ia masih 23 tahun!

Lantaran makin banyaknya keluhan dari masyarakat terhadap wartawan bodong, saya dan pengurus sepakat mengadakan dialog pers. Judulnya sederhana. Curhat Pengusaha dan Pejabat terhadap wartawan. Selain itu, meski tingkat perwakilan, beberapa pengurus pergi menghadiri Hari Pers Nasional (HPN) di Bali pada tahun 2003. Malah, rombongan dari Batam lebih banyak daripada pengurus PWI Cabang Riau, sehingga IKWI Batam yang tampil mewakili Riau saat ada pertandingan antara ibu-ibu wartawan.

Saya lebih dipusingkan dengan memikirkan operasional kantor PWI Perwakilan Batam. Apalagi, makin lama, jumlah wartawan yang kos makin berkurang. Ada yang menikah, ada yang sudah punya rumah sendiri. Akibatnya, pemasukan kantor berkurang. Sementara, koperasi PWI yang diidamkan, belum terbentuk. Kami pernah membuat kalender PWI untuk dijual. Tapi, hasil penjualannya entah kemana.

Saya risih meminta-minta sumbangan untuk PWI. Pernah ada pengurus yang mengusulkan agar kami mengajukan permintaan lahan untuk wartawan anggota PWI. Tapi, saya menolak mengurusnya. Saya punya pengalaman pribadi yang tidak mengenakkan soal lahan ini sehingga saya kapok berurusan soal lahan di Batam.

Saat itu,  saya sudah lima tahun di Batam, tapi rumah masih ngontrak di Baloi Centre. Suatu hari, saya bertemu Deputi Operasi Otorita Batam. Ia memperlihatkan beberapa lembar surat permintaan lahan dari beberapa wartawan, mengatasnamakan medianya.  ‘’Yang penting, ada alokasinya dan membayar UWTO,’’ katanya, saat saya bertanya, apa syaratnya orang meminta lahan. Padahal, saya sudah membuat surat setahun sebelumnya, mengajukan permohonan lahan.

Lalu, saya memberanikan diri mengajukan permohonan lahan. Saya punya tabungan untuk membayar UWTO. Ternyata, ada surat bermaterai yang harus saya teken. Isinya, siapa yang meminta lahan, harus mengosongkan rumah liar di atas lahan itu. Menurut saya, ini berbahaya karena akan muncul konflik horizontal antara masyarakat.

Masalah itu saya beritakan di koran, mewawancarai Ketua REI yang selalu berurusan dengan lahan. Dan ia mengakuinya. Meski saya sudah mengantongi izin prinsip lahan yang strategis, seminggu kemudian, lahan itu saya kembalikan! Keinginan teman-teman wartawan mendapat lahan juga dipicu oleh keberhasilan anggota PWI Riau yang mendapatkan perumahan wartawan di Pekanbaru.

Saat PWI Perwakilan Batam terbentuk, saat itu perjudian dan bisnis hiburan sedang berkibar. Ada kesepakatan yang kami buat secara tidak tertulis sesama pengurus, bahwa PWI Perwakilan Batam tidak akan berurusan dengan mafia judi. Dan selama saya menjadi Ketua, baik di Perwakilan maupun di Cabang Kepri, saya tidak pernah melanggar kesepakatan itu.

Saya malah bergaul dengan mereka setelah perjudian ditutup. Alasan lain adalah, saat itu saya bekerja di koran kriminal, yang beritanya soal kejahatan dan peristiwa berdarah-darah. Pertanyaannya, kalau saya menerima upeti dari mereka, bukankah saya akan berada dalam posisi terjepit, ketika ada keributan dan penangkapan dalam bisnis abu-abu itu? Lalu, apalagi yang bisa diberitakan?

Sudah pasti, mereka akan meminta atau bahkan memaksa, jangan beritakan yang macam-macam, karena mereka sudah memberikan jatah kepada kami. Seorang kaki tangan bos judi, menemui saya dan meminta saya membagikan jatah para pimpinan surat kabar. Saya tak berani dan menolak. Saya sering mendengar kabar, ada daftar wartawan yang menerima jatah bulanan.

Pengusaha tempat hiburan, sering berkeluh kesah kepada saya. Sudahlah tamu sepi, jatah untuk oknum aparat harus dikeluarkan. Ditambah lagi gangguan dari wartawan. Caranya beragam, tapi modusnya sama, yakni uang. Malah, ada yang datang menjual buku jurnalistik kepada seorang pengusaha karaoke, agar jangan diganggu wartawan.

Saya pernah dimintanya berfoto bersama, lalu fotonya mau digantung di dinding. Tentu saja saya menolak. ’’Biar kalau aku diganggu wartawan, aku tunjukkan bahwa kamu teman saya,’’ katanya, dengan lugu. Saya terbahak. Tapi, begitulah. Saking bingungnya menghadapi wartawan.

Seorang wartawan tua juga pernah datang marah-marah dan mengaku anggota PWI ke karaoke itu. Saya telepon wartawan itu dan bertanya, apa masalahnya. Wartawan itu bilang, dia hanya ingin happy di tempat hiburan itu. Ops! Ini masalahnya. Lalu, saya katakan kepada pengusaha karaoke itu, agar menservis wartawan tersebut. ’’Kan nggak bangkrut juga kalau membuat dia happy,’’ kata saya. Lalu, sang wartawan datang dan dilayani dengan baik. Masalahnya selesai.

Pernah ada kejadian unik. Seorang wartawan berusia sekitar 45 tahun, mengirim SMS kepada pengusaha karaoke. ’’Mukamu kulihat seperti monyet,’’ tulisnya. Tentu saja pengusaha itu marah. Padahal, ia sering juga membantu wartawan itu, dengan alasan membayar ongkos cetak korannya. Mau tak mau, saya harus mendamaikan mereka, karena saya ketua PWI.

Kadang saya berpikir, kenapa mereka yang usianya jauh di atas saya, tidak bertindak dengan bijak? Beberapa kali, ada dua wartawan yang sama-sama lebih tua dari saya, berseteru dan bermusuhan. Malah, ada yang datang mengadu sampai ke rumah saya. Paling-paling, saya hanya bisa menasehati mereka, agar masalahnya diselesaikan dengan baik.

Yang agak mengherankan saya, ada dua wartawan (keduanya kini sudah almarhum) yang selalu ikut kegiatan PWI Perwakilan Batam, padahal mereka bukan anggota PWI karena tidak lulus tes. Namanya Wilson Tampubolon yang suka naik motor besar kemana-mana dan Arwin Romeo. Malah, Pak Tampubolon, dikerjai ibu-ibu IKWI saat arisan. Ia bertanya kepada saya, kenapa namanya tak muncul menerima arisan.

Oala, ternyata namanya tak dimasukkan dalam daftar nama yang dikocok untuk menentukan pemenang arisan. ’’Biar Pak Tampu selalu datang kalau ibu-ibu IKWI arisan,’’ kata ibu-ibu istri wartawan itu sambil ketawa-ketawa. Seorang wartawan tua yang pernah bermasalah dengan imigrasi Singapura, saya coret namanya dari keanggotaan. Ia protes dan berkata,’’ kejadiannya kan tidak di Indonesia,’’ sergahnya. ’’Nah, itu yang lebih parah, bikin malu negara,’’tukas saya.

Kendati begitu, saya tetap berhubungan baik dengan wartawan-wartawan tua dan wartawan senior itu. Bagi saya, mereka tetap wartawan, meski medianya kadang terbit, kadang tidak. Jangan sentuh kebanggaan mereka sebagai wartawan, karena itu akan menyinggung harga diri mereka.

Ada wartawan yang baik, tapi bekerja di media yang tidak sehat. Namun, ada pula wartawan yang bekerja di media yang baik, tapi moralnya rusak. Ya, sama saja! Tanpa bermaksud membela wartawan yang dicap bodong, jumlahnya makin banyak karena memang Batam juga banyak pengusaha hitam, bisnis ilegal dan pejabat yang menyelewengkan kekuasaannya. Buktinya, ketika perjudian ditutup, wartawan-wartawan bodong itu sebagian besar juga menghilang bagai ditelan bumi. (bersambung)

 

Comments

Leave a Reply