Tulisan Khas Bernama Feature

June 7, 2008 · Filed Under jurnalisme · 7 Comments 


Feature adalah arti-kel yang kreatif, kadang kadang subyektif, yang terutama dimaksudkan untuk membuat senang dan memberi in-formasi kepada pembaca tentang suatu kejadian, keadaan atau aspek kehidupan. Feature memungkinkan reporter ‘’menciptakan’’ sebuah cerita. Meskipun masih diikat etika bahwa tulisan harus akurat karangan fiktif dan khayalan tidak boleh, reporter bisa mencari feature dalam pikirannya, setelah mengadakan penelitian terhadap gagasannya itu, ia menulis.

Secara kasar karya jurnalistik bisa dibagi menjadi tiga, pertama stright/spot News berisi materi penting yang harus segera dilaporkan kepada publik (sering pula disebut breaking news)
Kedua, news feature, memanfaatkan materi penting pada spot news, umumnya dengan memberikan unsur human/manusiawi di balik peristiwa yang hangat terjadi atau dengan memberikan latarbelakang (konteks dan perspektif) melalui interpretasi.Dan ketiga, feature bertu-juan untuk menghibur melalui penggunaan materi yang menarik tapi tidak selalu penting.
Dalam persaingan media yang kian ketat tak hanya antar media cetak tapi juga antara media cetak dengan televisi, straight/spot news seringkali tak terlalu me-mu-askan. Spot news cenderung hanya berumur sehari untuk kemudian dibuang, atau bahkan beberapa jam di te-levisi. Spot news juga cenderung menekankan seka-dar unsur elementer dalam berita, namun melupakan back-ground. Kita memerlukan news feature, perkawinan an-tara spot news dan feature. Karena tradisi ini relatif baru, kita perlu terlebih dulu memahami apa unsur-unsur dan aspek mendasar dari feature.

Subyektifitas
Beberapa feature ditulis dalam bentuk ‘’aku’’, sehingga memungkinkan reporter memasukkan emosi dan piki-rannya sendiri. Meskipun banyak reporter, yang dididik dalam reporting obyektif, hanya memakai teknik ini bila tidak ada pilihan lain, hasilnya enak dibaca.
Tapi, reporter-reporter muda harus awas terhadap cara seperti itu. Kesalahan umum pada reporter baru adalah kecenderungan untuk menonjolkan diri sendiri lewat pe-nulisan dengan gaya ‘’aku’’. Kebanyakan wartawan ka-wakan memakai pedoman ini: ‘’Kalau Anda bukan tokoh utama, jangan sebut-sebut Anda dalam tulisan Anda.’’

Informatif
Feature, yang kurang nilai beritanya, bisa memberikan informasi kepada masyarakat mengenai situasi atau aspek kehidupan yang mungkin diabaikan dalam penu-lisan berita biasa di koran. Misalnya tentang sebuah Mu-seum atau Kebun Binatang yang terancam tutup. Aspek informatif mengenai penulisan feature bisa juga dalam bentuk-bentuk lain. Ada banyak feature yang enteng-enteng saja, tapi bila berada di tangan penulis yang baik, feature bisa menjadi alat yang ampuh. Feature bisa menggelitik hati sanubari manusia untuk menciptakan perubahan konstruktif.

Menghibur
Dalam 20 tahun terakhir ini, feature menjadi alat penting bagi surat-kabar untuk bersaing dengan media elektronika. Reporter suratkabar mengakui bahwa me-reka tidak akan bias ‘’mengalahkan’’ wartawan radio dan televisi untuk lebih dulu sampai ke masyarakat. War-tawan radio dan TV bias mengudarakan cerita besar hanya dalam beberapa menit setelah mereka tahu. Se-mentara itu wartawan koran sadar, bahwa baru beberapa jam setelah kejadian, pembacanya baru bisa tahu sesuatu kejadian — setelah koran diantar.
Wartawan harian, apalagi majalah, bisa mengalahkan radio dan TV, dengan cerita eksklusif. Tapi ia juga bisa membuat versi yang lebih mendalam (in depth) menge-nai cerita yang didengar pembacanya dari radio.
Dengan patokan seperti ini dalam benaknya, reporter selalu mencari feature, terhadap berita-berita yang paling hangat. Cerita feature biasanya eksklusif, sehingga tidak ada kemungkinan dikalahkan oleh radio dan TV atau koran lain.
Feature memberikan variasi terhadap berita-berita ru-tin seperti pembunuhan, skandal, bencana dan perten-tangan yang selalu menghiasi kolom-kolom berita, feature bias membuat pembaca tertawa tertahan.
Seorang reporter bisa menulis ‘’cerita berwarna-warni’’ untuk menangkap perasaan dan suasana dari sebuah peristiwa. Dalam setiap kasus, sasaran utama adalah bagaimana menghibur pembaca dan memberikan kepadanya hal-hal yang baru dan segar.

Awet
Menurut seorang wartawan kawakan, koran kemarin hanya baik untuk bungkus kacang. Unsur berita yang se-muanya penting luluh dalam waktu 24 jam. Berita mudah sekali ‘’punah’’, tapi feature bisa disimpan berhari, ber-minggu, atau berulan bulan. Koran-koran kecil sering membuat simpanan ‘’naskah berlebih’’ – kebanyakan feature. Feature ini diset dan disimpan di ruang tata mu-ka, karena editor tahu bahwa nilai cerita itu tidak akan musnah dimakan waktu.
Dalam kacamata reporter, feature seperti itu mem-punyai keuntungan lain. Tekanan deadline jarang, sehi-ngga ia bisa punya waktu cukup untuk mengadakan riset secara cermat dan menulisnya kembali sampai mem-punyai mutu yang tertinggi.
Sebuah feature yang mendalam memerlukan waktu cu-kup. Profil seorang kepala polisi mungkin baru bisa dipe-roleh setelah wawan-cara dengan kawan-kawan seker-janya, keluarga, musuh-musuhnya dan kepala polisi itu sendiri. Diperlukan waktu juga untuk mengamati tabiat, reaksi terhadap keadaan tertentu perwira itu.
Singkat kata, berbeda dengan berita, tulisan feature memberikan penekanan yang lebih besar pada fakta-fakta yang penting, fakta-fakta yang mungkin merang-sang emosi (menghibur, memunculkan empati, disampil tetap tidak meninggalkan unsure informatifnya). Karena penakanan itu, tulisan feature sering disebut kisah hu-man interest atau kisah yang berwarna (colourful).

Teknik penulisan feature
Jika dalam penulisan berita yang diutamakan ialah pe-ngaturan fakta-fakta, maka dalam penulisan feature kita dapat memakai teknik ‘’mengisahkan sebuah cerita’’. Memang itulah kunci perbedaan anta-ra berita ‘’keras’’ (spot news) dan feature. Penulis feature pada hakikatnya adalah seorang yang berkisah.
Penulis melukis gambar dengan kata-kata: ia meng-hidupkan imajinasi pembaca; ia menarik pembaca agar masuk ke dalam cerita itu dengan membantunya mengidentifikasikan diri dengan tokoh utama.
Penulis feature untuk sebagian besar tetap menggu-nakan penulisan jurnalistik dasar, karena ia tahu bahwa teknik-teknik itu sangat efektif untuk berkomunikasi. Tapi bila ada aturan yang mengurangi kelinca-hannya untuk mengisahkan suatu cerita, ia segera menerobos aturan itu. ‘’Piramida terbalik’’ (susunan tulisan yang meletakkan informasi-informasi pokok di bagian atas, dan informasi yang tidak begitu penting di bagian bawah – hingga mu-dah untuk dibuang bila tulisan itu perlu diperpendek) se-ring ditinggalkan.
Jenis-jenis Feature

Feature kepribadian
Profil mengungkap manusia yang menarik. Misalnya, tentang seseorang yang secara dra-matik, melalui ber-bagai liku-liku, kemudian mencapai ka-rir yang istimewa dan sukses atau menjadi terkenal ka-rena kepribadian mereka yang penuh warna. Agar efektif, profil seperti ini harus lebih dari sekadar daftar pen-capaian dan tanggal tanggal penting dari kehidupan si individu. Profil harus bisa mengung-kap karakter manusia itu.
Untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan, penulis feature tentang pribadi seperti ini seringkali harus meng-amati subyek mereka ketika bekerja; mengunjungi ru-mah mereka dan mewawancara teman-teman, kerabat dan kawan bisnis mereka. Profil yang komplit sebaiknya disertai kutipan-kutipan si subyek yang bisa menggam-barkan dengan pas karakternya. Profil yang baik juga bisa memberikan kesan pada pembacanya bahwa me-reka telah bertemu dan berbicara dengan sang tokoh.
Banyak sumber yang diwawancara mungkin mengungkap r
ahasia pribadi atau anekdot tentang si subyek. Tapi, banyak sumber lebih suka meminta agar identitasnya dirahasiakan. Informasi sumber-sumber itu penting untuk emberikan balans dalam penggambaran si tokoh.
Feature sejarah
Feature sejarah memperingati tanggal-tanggal dari pe-ristiwa penting, seperti proklamasi kemerdekaan, pem-boman Hiroshima atau pem-bunuhan jenderal-jenderal revolusi. Koran juga sering menerbitkan feature peri-ngatan 100 tahun lahir atau meninggalnya seorang tokoh.
Kisah feature sejarah juga bisa terikat pada peristiwa-peristiawa mutakhir yang memangkitkan minat dalam topik mereka. Jika musibah gunung api terjadi, koran sering memuat peristiwa serupa di masa lalu. Feature sejarah juga sering melukiskan landmark (monumen/gedung) terkenal, pionir, filosof, fasilitas hiburan dan me-dis, perubahan dalam komposisi rasial, pola perumahan, makanan, industri, agama dan kemakmuran.

Feature petualangan
Feature petualangan melukiskan pengalaman-pe-ngalaman istimewa dan mencengangkan — mungkin pengalaman seseorang yang selamat dari sebuah ke-celakaan pesawat terbang, mendaki gunung, berlayar keliling dunia pengalaman ikut dalam peperangan.

Feature musiman
Reporter seringkali ditugasi untuk menulis feature tentang musim dan liburan, tentang Hari Raya, Natal, dan musim kemarau. Kisah seperti itu sangat sulit ditulis, karena agar tetap menarik, reporter harus menemukan angle atau sudut pandang yang segar.

Feature Interpretatif
Feature dari jenis ini mencoba memberikan deskripsi dan penjelasan lebih detil terhadap topik-topik yang telah diberitakan. Feature interpretatif bisa menyajikan sebu-ah organisasi, aktifitas, trend atau gagasan tertentu. Mi-salnya, setelah kisah berita menggambarkan aksi tero-risme, feature interpretatif mungkin mengkaji identitas, taktik dan tujuan terorisme. Berita memberikan gagasan bagi ribuan feature semacam ini. Setelah perampokan bank, feature interpretatif bisa saja menyajikan tentang latihan yang diberikan bank kepada pegawai untuk me-nangkal perampokan.

Feature kiat (how-to-do-it feature)
Feature ini berkisah kepada pembacanya bagaimana melakukan sesuatu hal: bagaimana membeli rumah, menemukan pekerjaan, bertanam di kebun, mereparasi mobil atau mempererat tali perkawinan.
Kisah seperti ini seringkali lebih pendek ketimbang jenis feature lain dan lebih sulit dalam penulisannya. Re-porter yang belum berpengalaman akan cenderung men-ceramahi atau mendikte pembaca — memberikan opini mereka sendiri — bukannya mewawancara sumber ahli dan memberikan advis detil dan faktual. ***

Dia Tak Mau Menyusahkan Orang

June 7, 2008 · Filed Under pribadi · 2 Comments 


Kolom Kamisan yang ditulis Hasan Aspahani, Pimred Batam Pos tanggal 6 Juni lalu punya kesan tersendiri buat saya. Sebab, orang yang dipanggilnya Mama itu, adalah mamaku Emmywarsih yang melahirkan aku 41 tahun yang lalu. Ini hanya sekelumit kisah ketegaran dan kemandiriannya. Tulisan Hasan membuat aku bangga punya ibu seperti dia yang telah memberiku nama Socrates. Terima kasih yang tulus buat Hasan. Semoga tulisan itu tidak karena aku bosnya.

BULAN Agustus nanti umurnya sudah 65. Saya memanggilnya Mama, sebagaimana sebutan dia ketika meng-aku-kan diri kepada orang-orang muda seperti saya. Selasa kemarin, saya bertemu dia. Itulah pertama kalinya saya singgah di rumah yang ia bangun sendiri di Batubesar. Ya, ia bangun sendiri. Ia beli sendiri tanahnya. Ia rancang sendiri bangunannya. Bangunan yang amat sederhana, tapi tampak sekali ia sangat bangga dengan rumah itu. Di depan dan di belakang rumah itu ia tanami berbagai jenis tanaman obat. Ia beberapa kali menyebut kumis kucing.
“Saya sudah pelajari, obat-obat hasil pabrik farmasi itu kebanyakan bahan bakunya kumis kucing,” katanya.
Ingatannya masih sangat baik untuk seorang seumur dia. Dia masih sangat sehat. Kemarin ketika saya telepon lagi, dia bercerita baru saja mencari buku untuk hadiah ulang tahun menantu perempuannya. Kepada anak-anaknya pun dia selalu memberi hadiah ulang tahun buku. Dia memang suka membaca. Amat suka. Mungkin karena itu ingatannya tak menumpul.
Ia bahkan mengingat jam ia dilahirkan. “Jam 12, hari Minggu. Di Batusangkar. Sekarang tinggal di Batubesar,” dia lantas tertawa. Kalau bertemu dengannya saya tak pernah tidak menjumpainya sebagai seorang yang periang. Kelihatannya dia tak pernah bersedih, ah lebih tepat dia tampak selalu ingin membuat orang lain bersemangat. Ia ingin menularkan semangat hidupnya.
Saya mengagumi dia sebagai orang yang luar biasa. Dulu dia bekerja sebagai perawat. Ah, bahkan sampai sekarang pun di depan pintu rumahnya yang amat sederhana itu ia pasang papan nama dan kata “bidan” di depannya. Saya bertanya dengan hati-hati, takut membuat dia tersinggung,”Kenapa mama masih juga praktek bidan?” Dia tertawa dan ah syukurlah tawa itu bukan keluar dari hati seseorang yang tersinggung.
“Hasan, Mama tak mau membebani anak-anak. Kalau ada orang yang minta tolong mama bantu,” katanya. Saya lalu meminta dia memeriksa tekanan darah saya. “Wah, rendah sekali, Hasan. Kamu harus banyak minum jus wortel dan tomat. Suruh Yana menyiapkannya,” ia menyebut nama istri saya, yang juga dia kenal baik.
Kalau dia mau, dia bisa memilih tinggal di salah satu dari empat anaknya yang pasti tak akan merasa direpotkan oleh kehadirannya. “Mama tak mau merepotkan orang lain. Tak mau merepotkan anak-anak. Mama masih bisa berguna bagi Tuhan, diri sendiri dan orang lain.”
Saya bilang bukankah anak-anaknya juga harus diberi kesempatan untuk membalas jasanya? Dia tidak mengharapkan itu. “Kalau Mama serumah dengan anak-anak, nanti suatu saat ada kalanya mama marah, atau bosan atau anak-anak yang bosan. Pasti akan jadi masalah. Lebih baik terpisah tapi kan juga tidak jauh, jadi sayangnya dobel. Sayang karena tidak serumah, dan sayang karena Mama memang harus disayangi,” ujarnya, lagi-lagi dia tertawa.
Ia lantas mengambil sekeping obat dari lemari kaca di depan mejanya. Ada buku panjang, buku catatan keuangan yang baginya digunakan untuk mencatat apapun. Beberapa nomor telepon, dan tulisan berikut ini yang paling menarik:
Bicara 10 Persen
Mendengar 45 Persen
Membaca 25 Persen
Menulis 20 Persen.
Saya bertanya apa maksud tulisannya itu. Lagi-lagi dia tertawa. “Itu pola hidup Mama,” dan ia bilang begitulah kalau ingin mencapai keberhasilan. Orang harus mendengarkan orang lain lebih banyak daripada bicara tentang diri sendiri. Dan tentu saja saya amat tertarik dengan persentase membaca dan menulis itu.
“Sejak tahun 1971 sampai sekarang, Mama langganan Intisari. Banyak ilmu pengetahuan bisa didapat dari majalah itu,” katanya. 1971? Ah, itu tahun kelahiran saya. Dan dia sudah membaca majalah itu? “Sekarang mama juga langganan majalah lain, dan beli buku. Sekarang lagi baca buku ESQ,” katanya.
Tapi, rasanya dia melanggar persentase pola hidupnya tadi. “Mama membaca Quran sehari satu juz, katanya. Lalu dia menyebut beberapa surat kabar, majalah, dan beberapa judul buku. Jangan-jangan persentase membaca dia lebih dari 25 persen!
Saya suka tulisan tangannya, khas tulisan orang-orang yang berpendidikan di sekolah lama. Saya ingat begitulah tulisan Ayah saya. Tersambung rapi dari huruf ke huruf, dengan derajat kemiringan konsisten dan selalu terasa ditarik dengan kecepatan tetap. Hmm, pernah lihat tanda tangan Soekarno? Nah, kira-kira seperti itulah. Dia sekolah perawat dulu di RSU Ahmad Muhtar, Bukittinggi.
Hal lain yang sangat saya teladani dari dia adalah semangat belajarnya. Beberapa waktu lalu dia kursus Bahasa Jepang! Ya, Bahasa Jepang. Saya tanya alasannya. “Anak angkat Mama kan menikah dengan orang Jepang. Kalau bertemu dengan keluarga Jepang itu, Mama bisa bicara dan belajar banyak, termasuk tentang ilmu pengobatannya,” katanya.
Dia mengagumi Hembing, si pakar pengobatan herbal itu. Dia menyebut sudah tamat belajar pada Profesor itu tentang berbagai khasiat obat dari berbagai tanaman. Di mana belajarnya? “Saya ikuti dari televisi,” katanya. Lihatlah, betapa dia tak memandang media belajar. Dia bisa belajar di televisi, dari siapa saja, dari buku, dari majalah.
Berapa saya membayar untuk konsultasi dan sekeping obat penambah tekanan darah? Gratis. Kami sepakat membarter jasa itu dengan sebuah handgrip – alat melatih otot tangan milik saya yang kebetulan saat itu saya kantongi.
“Tiap pagi Mama kesemutan, ini bagus buat mama, kamu beli saja lagi. Iklhas, Hasan?”
“Ikhlas,” kata saya.
Sepulang dari pertemuan dengannya, saya lalu terpapar pada sejumlah pertanyaan: seberapa merepotkan saya bagi orang lain? Seberapa tergantung saya pada orang lain? Apakah saya sudah menularkan semangat hidup pada orang lain, atau sebaliknya merepotkan dan membuat orang lain tidak bersemangat? Seberapa merepotkan saya bagi kantor tempat saya bekerja yang tiap bulan menggaji saya? Seberapa merepotkan saya bagi negara saya? Apakah saya terlalu menuntut? Seberapa manjakah saya?
Setiap pertanyaan itu akhirnya hanya memingatkan saya pada Mama: Dia yang tak mau menyusahkan orang lain, bahkan orang yang akan sangat ikhlas ketika harus ia repotkan. Saya ingin bertemu lagi dengan dia, dan seperti setiap kali saya bertemu dia, saya akan menyalaminya dan mencium tangannya.***

* Komentari tulisan ini di www.hasanaspahani.blogspot.com

Cerita tentang Istriku

June 7, 2008 · Filed Under pribadi · Comment 


Aku beruntung dapat istri yang cantik dan baik serta unik. Kami menikah 26 Maret 2000 delapan tahun lalu. Kini dikaruniai sepasang buah hati yang sehat dan lucu. Istriku seorang yang keras hati sekaligus si lembut hati.

Suatu malam, aku mau mengunjungi adikku Ira, yang kos tak jauh dari kantor. Saat bertemu, Yeni Astuti–wanita yang kini jadi istriku, terkesan cuek. Kulitnya putih. Mata sipit mirip orang Cina dengan rambut lurus sebahu. Gadis Palembang itu, segera menyita perhatianku.
Akrab seminggu, aku ajak menikah. Ia menangis tersedu-sedu. Belakangan, ia bilang terharu. Antara nekad dan spontan. Soalnya, saat itu aku sudah 33 tahun dan ia baru 22 tahun. Tapi, masa pacaran sampai setahun juga. Saya melamarnya dan kami menikah.
Lagu Terlena yang disenandungkannya di acara pernikahan kami, seolah mewakili perasaannya terhadapku. Lalu, kami melewati bulan madu yang indah di Thailand, selama dua minggu. Sampai hamil delapan bulan, istriku masih bekerja di perusahaan kosmetika Mirabella. Saat putra pertamaku Axel Ariel Muhammad lahir, ia memutuskan berhenti dan menjadi ibu rumah tangga yang baik.
Istriku anak ke empat dari enam bersaudara. Ayahnya mantan pelaut dan berasal dari Jawa Timur. Ibunya wanita sederhana dari Ogan Komering Ilir. Namun, hanya istriku yang berkulit putih dan mata sipit seperti Cina. Sejak kecil, ia sering diolok-olok orang Cina.
Istriku seorang wanita yang sangat pengertian. Ia memahami pekerjaanku sebagai wartawan. Sering ia kubawa ke kantor agar ia tahu, wartawan bekerja kadang tak mengenal waktu. Saat aku bentrok dan nyaris disekap oleh seorang oknum pejabat tentara, ia ikut kubawa kabur. ”Ternyata, beginilah rasanya menjadi istri wartawan,”katanya. Ia ketakutan.
Istriku senang jalan-jalan. Ia suka hal-hal baru dan unik. Klop dengan tugasku sebagai wartawan. Wajahnya yang mirip orang Cina, sering membuat orang salah sangka. Kalau belanja di Nagoya, ia diajak bicara Mandarin yang tidak dimengertinya. Bosku Dahlan Iskan pun pernah bertanya,” Istri Anda Tionghoa?,.. aku tersenyum dan geleng kepala.
Tak pernah ia merecoki pekerjaanku. Kadang aku pulang tengah malam bahkan subuh, ia menelepon dan bertanya, apakah aku tidak pulang ke rumah. Sejak menikah, aku selalu bawa kunci rumah.Saat anak kami Alliya Sonia Azarena lahir, lengkap sudah kebahagian kami.
Satu hal yang aku salut padanya, salat lima waktunya tak pernah tinggal. Setelah ikut ESQ ia memutuskan memakai jilbab. Ia rajin menjadi guru anakku saat mengerjakan tugas sekolah. Ikut kursus bahasa Inggris agar bisa komunikasi dengan guru anakku karena bahasa pengantar di sekolahnya bahasa Inggris.
Beberapa kali, aku membuatnya jengkel. Suatu pagi, aku pergi dengannya membeli sarapan pagi. Setelah memutar mobil, aku kelupaan menjemputnya dan terus melaju di warung tempat ia membeli sarapan. Aku lupa, ha..ha..ha! Ia hanya cemberut melihat aku tertawa-tawa.
Pernah pula, saat mengantarnya belanja ke pasar pagi, aku pergi ke mobil boks yang mendistribusikan koran. Aku baru sadar, istriku sudah kelamaan di tengah keramaian pasar. Aku mencarinya, tapi tak ketemu. Jangan-jangan, ia sudah menunggu di mobil membawa belanjaan.
Celakanya, kami tak membawa handphone. Ternyata benar. Dari jauh kulihat ia berdiri di antara tumpukan belanjaan, sambil menangis terisak-isak. Oalah, istriku. Kalau ia kesal, dnegan ulah kedua anakku,ia juga menangis tersedu-sedu.
Ia juga bukan wanita yang suka jaga gengsi. Kendati aku menjabat sebagai pemimpin redaksi, ia tak malu-malu bikin kue, lalu dijual di kantir kantor. Aku yang disuruh mengantar penganan itu dan mengutip uang penjualannya. Suatu pagi, karena ngerem mobil mendadak, kue-kue itu berhamburan dalam mobil.
Satu persatu, kupungut kembali lalu aku tiup agar tidak kotor. Kue itu lalu dititipkan ke kantin. Sorenya, kulihat kue itu hampir habis. Barulah aku cerita, tadi kue itu terserak di mobil. Ha..ha..ha..
Istriku juga pernah membuka konter kosmetik di mal. Tiap hari ia ke mal berjualan. Namun, hanya bertahan delapan bulan lantaran mal itu semakin sepi. Pernah pula ia menjual pakaian secara kredit kepada ibu-ibu di komplek atau wirid pengajian.
Benarlah kata orang. Istri yang baik akan menjadi pendorong semangat suami. Aku bangga, istriku tak suka bergunjing, iri dan dengki seperti kebanyakan wanita. Postingan ini sebagai kado ulang tahunnya yang ke 30 tanggal 20 Juni 2008. Soal tanggal lahir ini, aku dan istriku serta kedua anakku, semua lahir tanggal 20 tapi bulannya berbeda. ***

Akurasi, Kunci Kredibilitas

June 6, 2008 · Filed Under jurnalisme · Comment 

Informasi yang penting adalah informasi yang akurat dan jelas. Penulis dan pembaca mempunyai keperluan yang berbeda, namun bisa bekerjasama. Penulis tak ada artinya tanpa pembaca, dan pembaca masuk dalam sebuah cerita dengan harapan besar bisa memahami semuanya.

Tanggung jawab yang terbesar terletak pada penulis. Jika penulis mengkhianati harapan pembaca dengan membuat sejumlah kesalahan atau kekurang-tepatan, dia merusak kerjasama yang telah ter-bentuk. Ketidakakuratan biasanya disebabkan karena kecerobohan, ke-malasan, penipuan atau ketidakpedulian reporter dalam menuliskan hasil reportasenya.
Pengecekan ulang sebelum kita menulis, membaca kembali dengan hati-hati dan mengeceknya kembali setelah kita menulis adalah benteng terbaik terhadap ke-tidak-akuratan. Berikut ini adalah elemen-elemen utama dalam mencermati sebuah fakta atau detil.

Jangan menebak
Penulis harus memegang betul apa saja yang dike-tahui dan apa saja yang dimengerti. Jika kita tidak benar-benar memahami, cek kembali hal itu atau tinggalkan sama sekali. Jangan pernah mengira-kira.

Angka
Ceklah dua kali semua angka dan jumlah. Sebuah angka seringkali tak memiliki makna, kecuali diletakkan pada konteks yang mudah dipahami pembaca. Angka tentang omset penjualan misalnya, tak punya makna jika tak disertai omset penjualan tahun lalu, berapa prosen-tase kenaikan atau penurunan dari tahun sebelumnya.
Angka juga seringkali lebih bermakna jika disertai penjelasan yang menyentuh pembaca: Seberapa jauh melam-paui standar pencemaran udara? Seberapa mahal dibanding APBN Indonesia tahun ini atau dibanding harga mobil Kijang yang rata-rata dimiliki pembaca? Seberapa luas dibanding lapangan sepakbola?
Dengan kata lain, angka yang ada sebaiknya disertai ekuivalennya yang mudah diserap pembaca. Ukuran-ukuran juga sebaiknya dikonversikan ke ukuran yang lazim dipakai pembaca: km bukan mil, rupiah bukan dolar, meter bukan kaki, kg bukan pound. Jika Anda tak menghitung sendiri, sebutkan dari mana angka itu dikutip

Nama, Tanggal dan Tempat
Tak ada orang yang suka namanya ditulis secara salah. Usahakan untuk meminta sumber berita mengeja sendiri nama sekaligus gelar dan nama panggilannya. Lihat di buku rujukan yang terpercaya, misalnya buku apa siapa atau ensiklopedi. Jangan percaya hanya pada leaflet atau selebaran atau omongan teman Anda. Catatan pen-ting tentang nama sumber: sebagian besar nama orang Indonesia terdiri atas dua kata (kecuali Soeharto misal-nya). Cantumkan nama lengkap ketika pertama kali Anda menyebutnya dalam laporan.
Pada saat kita menulis tentang tanggal, lihatlah kalender lebih dahulu. Ketika menulis tentang tempat, lihat-lah kembali peta. Jika mungkin, milikilah sebuah buku pintar, infopedi, tabel konversi, kalender dan peta kecil. Letakkan pada tempat yang mudah dijangkau, sehingga tak enggan kita untuk mengecek sesuatu fakta.

Kutipan
Apakah sesuatu kutipan benar-benar seperti yang di-katakan oleh sumber? Apakah catatan kita benar dan kita berani mempertahankan sampai di meja penga-dilan? Jika tidak, sebaiknya dijelaskan dengan kata-kata kita sendiri saja.

Terburu-buru
Kata-kata yang sering digunakan sebagai permintaan maaf atas beberapa kesalahan adalah: ‘’Saya tidak punya waktu untuk mengeceknya kembali’’. Alasan yang tidak bisa diterima.

Cerita Bohong
Sangat jarang penerbitan yang tidak memasukkan hal ini ke dalam beritanya. Keragu-raguan adalah perlin-dungan yang terbaik. Jika sebuah cerita atau kenyataan seolah-olah sangat aneh atau menakjubkan untuk diper-caya, jangan percaya sebelum ada pembuktiannya.

Kesalahan Teknis
Perhatian yang istimewa sangat dibutuhkan pada tu-lisan khusus seperti ilmu pengetahuan, hukum, kedok-teran, teknik, keuangan dan sejenisnya. Sediakan waktu untuk menelitinya, dan kemudian ceklah kembali infor-masi yang kita peroleh melalui pakar yang dapat diper-caya pada bidang tersebut.

Rekayasa
Manipulasi, perubahan konteks, distorsi, pemaparan yang salah, sindiran, kebencian, gosip, kabar angin dan melebih-lebihkan. Semua itu sangat tinggi ongkosnya, sementara hasilnya sangat rendah.

Dalam over-quoting, penulis hanya sekadar menyusun kutipan, seraya kadang-kadang menysipkan kata penyambung.

Cara pengutipan seperti ini sering tidak bisa diterima. Sedikit orang
yang menggunakan kata-kata secara ringkas dalam percakapan. Sebagai penulis, wartawan harus mampu menyampaikan pesan itu dengan lebih jelas dan ringkas dengan cara membuat menjadi kali-mat kutipan tak langsung.

Over-quoting juga menghancurkan salah satu tujuan baik dalam
pengutipan: menghapuskan kejemuan karena gaya yang sama. Dengan over-quoting, penulis hanya mengganti gaya monoton dirinya dengan gaya monoton seorang lain.

Unverquoting juga merusak. Banyak penulis baru yang tidak yakin akan kemampuannya mengambil kutipan, sehingga ia selalu membuat kutipan tidak langsung. Cara ini juga menghilangkan tujuan baik pengutipan.

Reportase Omong Doang

June 6, 2008 · Filed Under jurnalisme · Comment 


Kenapa berita di koran-koran dan televisi cenderung sama? Bukankah ini era reformasi dan kebebasan pers? Kemana wartawan-wartawan militan pergi? Di tengah kecenderungan besar jurnalisme omong-doang (statement-journalism), kita perlu mengingat kembali kewajiban wartawan yang paling dasar: meng-gali dan memverifikasi fakta dari lapangan, sesederhana apapun. Itu bisa dilakukan dengan kesediaan untuk keluar dari balik meja atau dari ruang konferensi pers: mengalami sendiri, merekam hidup orang kebanyakan dan menyua-rakan suara orang-orang yang kurang punya suara di media (voiceless).

Salah satu tuntutan sikap seorang wartawan adalah skeptisisme (kecurigaan/ketidakpercayaan terhadap yang apa yang kita dengar atau bahkan yang kita lihat sendiri secara permukaan). Skeptisisme menjadi motor penggerak keingintahuan, modal utama seorang wartawan.
Salah satu cara untuk memuaskan keingintahuan adalah menga-lami sendiri. Seringkali bahkan untuk hal-hal sederhana. Beberapa tahun lalu, ketika menjadi re-daktur rubrik ilmiah populer di Majalah Editor, saya ingin menulis cerita tentang “roller coaster”. Kenapa “roller-coaster” yang modern berbentuk elips, bukannya ling-karan sempurna?
Disamping menggali bahan dari literatur, saya juga menyempatkan diri pergi ke Taman Impian Jaya Ancol, membeli tiket naik roller-coaster Halilintar dan mencobanya.
Hasilnya adalah tulisan yang tidak hanya menjelaskan tentang konsep roller-coaster modern, yang lebih aman dari segi fisika dinamika karena berbentuk elips, tapi juga tulisan yang lebih berjiwa serta punya kedalaman karena penulisnya menghayati obyek tulisan-nya.
Dalam hal yang lebih dramatik, keingintahuan lah yang mendorong Alfian Hamzah meliput bencana tsunami di Aceh di kawasan “yang tak terjamah”. Atau yang mendorong saya meliput Perang Bosnia pada 1993. Keingintahuan dan sedikit kemarahan. Alfian marah pada dirinya sendiri karena tidak tahu apa yang terjadi dengan Calang, kota kecil di pantai Barat Aceh yang pernah dia kunjungi dua tahun sebelumnya, sementara banyak wartawan hanya berkerumun di Banda Aceh. Saya ke Sarajevo karena marah pada diri sendiri hanya bisa mengutip berita Reuters dan AFP.
Dalam beberapa tahun terakhir, saya banyak menulis tema sosial dan ekonomi (tentang subsidi, kemiskinan, utang luar negeri dan strategi pembangunan). Di sam-ping melakukan riset dan terus belajar tentang konsep ekonomi pembangunan mutakhir, saya juga mengim-banginya dengan mengenali realitas lapangan secara lebih baik. Salah satunya dengan menghayati secara langsung. Tidur di kolong jembatan, menyusuri Jakarta dengan sepeda motor, naik KRL yang padat (kadang di atapnya, untuk memahami kenapa orang menjudikan nyawa dengan risiko jatuh atau kena sengatan listrik).
Ada banyak hal yang semestinya kita lakukan sebagai wartawan (tidak selalu hal yang “heroik” seperti meliput perang) ketimbang hanya sekadar menampung kata-kata pejabat dan akademisi di ruang seminar serta konferensi pers.
Keingintahuan dan kemarahan. Membantu kita menggali fakta lebih jauh (dari sekadar statement) dan menuliskannya secara lebih meyakinkan dan berjiwa.

BLOG: Kekuatan Media Baru

June 5, 2008 · Filed Under weblog · 3 Comments 


BLOG. Kata ini makin akrab di telinga kita. Apalagi, di mal-mal, cafe-cafe,bandara dan tempat rehat, makin banyak orang menenteng laptop dan notebook, berselancar di internet. Dan Batam merupakan kota yang memiliki hotspot terbesar di Sumatera. Mengapa makin banyak jumlah weblog atau blog? Apakah blog menandai lahirnya kekuatan media baru?

Lihatlah angka-angka ini. Technorati, lembaga penelusur blog, mendapati kenyataan jumlah blog bertambah dua kali lipat setiap bulan. Blog kini 30 kali lebih banyak dari tiga tahun lalu. Setiap hari tercipta 70.000 blog baru di seluruh dunia. Sampai akhir tahun 2005 saja, ada 20,1 juta blog.
“Sejumlah laporan memperkirakan, kini telah tercatat 50 hingga 100 juta blog di seluruh dunia. Sepuluh persen pengguna internet membaca blog sekali atau lebih dalam seminggu,” tulis Bowman dan Willis mengutip hasil survei Forester Research.
Bagaimana di Indonesia? Belum ada penelitian berapa angka pastinya. Namun, dengan makin banyaknya penyedia gratis untuk membuat blog seperti Blogspot atau Blogdrive, diperkirakan pengguna blog negeri ini membengkak dari hari ke hari. Apa yang bisa dicermati dengan kehadiran blog dimana-mana dan membengkaknya penggunaan internet di seluruh dunia?
Blog awalnya lahir sebagai sebuah gaya hidup masyarakat urban yang melek internet. Tetapi sekarang, anak-anak muda, eksekutif, sudah tersambung ke internet memiliki blog. Justin Hall (34) yang juga seorang wartawan freelance, dianggap sebagai blogger pertama karena menulis catatan hariannya di internet tahun 1994.
Istilah weblog diperkenalkan Jorn Barger pada 17 Desember 1997, sementara kependekannya, blog, diciptakan Peter Merholz dua tahun kemudian. Pemilik blog disebut blogger. Xanga, penyedia blog, yang diluncurkan tahun 1996 semula hanya memiliki 100 catatan harian pada tahun 1997. Akan tetapi, sampai Desember 2005 Xanga sudah meluncurkan 50 juta blog.
Tahun 1998 muncul Open Diary dan setahun kemudian Brad Fitzpatrick meluncurkan LiveJournal. Masih di tahun yang sama muncul Pitas.com dan Diaryland, juga Evan William dan Meg Maurihan yang meluncurkan Blogger.com, yang kemudian dibeli Google tahun 2003.
Pemilik blog bisa saling tersambung satu sama lain berkat hadirnya permalinks, blogrolls, dan TrackBacks, yang bersama mesin pencari atau pelacak jejak blog memungkinkan para blogger tersambung sesuai minat masing-masing.
Kehadiran blog memungkin orang memiliki media sendiri dan bisa tersambung dengan warga dunia lainnya, tanpa mengenal sekat batas wilayah dan negara sehingga menciptakan komunitas yang demikian besar.
Saat internet makin populer di mata anak-anak muda, awalnya mereka senang melakukan chatting. Tapi kini, dengan makin banyaknya blogger, mereka makin suka membuka blog miliknya atau berkunjung ke blog temannya (blogwalking). Penyedia blog gratis seperti Friendster dan Blogspot menjadi rujukan terfavorit.
Padahal, masuk ke dalam kategori personal media di dunia maya selain blog adalah video blog (vlog), foto blog (photoblog), dan audio blogpodcast). Orang bisa meng-up load (memuat) video, foto, maupun musik di blog masing-masing.
Inilah realitas media internet, lengkap dengan serbuan variannya, mulai blog, jurnalisme warga (netizen), online berita, sampai metamorfosis sebuah koran menjadi koran online. Blog mulanya diciptakan sebagai catatan harian elektronik. Sebelum blog lahir, cikal bakalnya antara lain e-mail, mailing list, usenet, dan bulletin
board system.
Menurut Budi Putra, yang memulai karirnya sebagai wartawan Singgapang, Padang lalu menjadi wartawan Tempo dan kini memutuskan hidup sebagai blogger dan menjabat sebagai CEO Asian Blogger Network, fenomena blog di Indonesia mulai marak sejak tahun 1997 dalam format yang sederhana, yakni sebagai online diary journal atau catatan harian atau jurnal elektronis.
Kehadiran situs personal web di beberapa domain di antaranya Geocities dan Tripod, juga bagian dari perkembangan awal dunia blog. Format itu disempurnakan pada 2001 dan menjadi populer pada 2003 – 2004.Setelah itu, blog berkembang luas. Dari semula hanya sekadar “personal log”, materi blog lalu didominasi isu-isu teknologi dan masalah sosial.
Kini, materi dalam blog makin spesifik, dan semakin terbatas pada topik bahkan subtopik (contoh: teknologi – teknologi informasi). Sejumlah topik paling hangat saat ini adalah kuliner dan tips kesehatan.
Blog tidak hanya bisa menjadi sarana mengekspresikan diri, tetapi juga dapat memberi manfaat komersil. Pasalnya, blog telah menjadi media iklan baru yang makin dilirik. Blog kini menjadi pilihan baru dunia usaha dalam mengkomunikasikan bisnis mereka.
Blog juga memiliki daya tembus dan penetrasi massa yang cukup mengejutkan. Sebab, kini ada blog yang dikunjungi ribuan orang setiap harinya. Jika media cetak seperti koran dilihat dari segi oplahnya, televisi dari sisi rating, maka blog dan situs internet memiliki sistem statistik untuk mengenal pembacanya yang disebut traffic berisi data jumlah pengunjung per satuan waktu tertentu, serta berapa banyak “halaman” yang diakses setiap pengunjung.
Satu keuntungan lain blog adalah sistem RSS field yang memungkinkan blog di-subscribe oleh “konsumen” melalui email. Blog memang tidak dapat menyamai situs internet dalam hal jumlah pengunjung, namun batasan topik dalam blog menciptakan “pengikut” yang lebih “berkualitas” karena beberapa alasan seperti; kesamaan minat, orientasi yang jelas, serta kesetiaan.
Namun semua keunggulan blog itu tidak akan berguna dalam menjaring pengunjung dan mempertahankannya tanpa kelansungan dan konsistensi dalam memperbarui materi blog. Kuncinya adalah passion pemilik blog atas apa yang dia kerjakan.
Pertanyaannya, apakah blog produk jurnalistik? Menurut Budi Putra, blog tidak bisa dikategorikan sebagai produk jurnalistik. Sebab, jurnalisme adalah proses yang harus melalui berbagai tahapan pengerjaan dan melibatkan kelompok kerja, bukan individu.
Kurangnya proses verifikasi, maupun kurangnya “tekanan” formal untuk melaksanakan prosedur jurnalistik yang utuh dalam menyusun materi blog, adalah beberapa alasan lain. Kendati yang ngeblog adalah wartawan, menurut Budi materi dalam sebuah blog bisa saja sama baiknya atau bahkan jauh lebih unggul dari produk-produk jurnalistik
tertentu pada media massa. Namun proses jurnalistik kolektif yang tidak dilalui produk blog, menurut dia, membuat blog tidak dapat dikategorikan sebagai produk jurnalistik. ***

« Previous Page