Sepak Bola

June 30, 2008 · Filed Under pribadi · 1 Comment 


Hari ini, Senin 30 Juni 2008 headline koran-koran umumnya masih berkutat soal kecelakaan pesawat Cassa TNI AU atau (Kompas,Republika) dan dugaan suap menteri (Koran Tempo) dan koran-koran lokal di Batam memilih berita Anwar Ibrahim. Sedangkan Batam Pos, memilih berita utama soal kejayaan tim sepakbola Spanyol yang menumbangkan kedigjayaan Jerman dengan skor 1-0. Mengapa Batam Pos memilih juara Euro 2008 sebagai berita utama?

Read more

Lelaki Kemayu

June 17, 2008 · Filed Under psikososial · 1 Comment 


Perhatikanlah sekeliling kita. Ada saja makhluk Tuhan paling seksi. Gerak tubuhnya gemulai. Tutur sapa dan bicaranya lemah-lembut. Ia lelaki bukan, wanita tidak. Kenapa ada orang yang tergolong wanita pria yang kerap dipanggil bencong atau wanita tomboi ini?

Saat masih kuliah dulu, seorang teman jurusan Sastra Indonesia meminta saya membantunya meneliti bencong. Ia tertarik dengan bahasa yang digunakan para wadam itu dan menyebutnya bahasa kemayu.
Bahasa yang dilafalkan dengan gaya keperempuanan itu, hanya dipakai para bencong saat berkomunikasi dengan sesamanya.
Read more

Kode Etik Jurnalistik

June 13, 2008 · Filed Under jurnalisme · 2 Comments 

Untuk menjamin kemerdekaan pers dan memenuhi hak publik untuk mem-peroleh informasi yang benar, wartawan Indonesia memerlukan lan-dasan moral dan etika profesi sebagai pedoman operasional dalam menjaga kepercayaan publik dan menegakkan integritas serta profe-sionalisme. Atas dasar itu, wartawan Indonesia menetapkan dan menaati Kode Etik Jurnalistik.

Read more

Menjadi Wartawan Pemula

June 13, 2008 · Filed Under jurnalisme · 29 Comments 

Kenal dengan Rachmania Arunita? Kalau kamu menonton film Eiffel I,m in Love, dialah penulis ceritanya dan merampungkan novel itu saat berusia 15 tahun. Kini, penulis muda itu dikontrak PT Soraya Intercine Film selama empat tahun untuk menulis novel. Luar biasa bukan?

Banyak orang bercita-cita menjadi Dokter, Insinyur, Pengusaha atau bahkan jadi Presiden. Artinya, persaingan untuk menggapai cita-cita seperti ini, juga makin sulit. Tapi, tidak banyak orang bercita-cita menjadi penulis ternama atau wartawan terkenal. Kenapa tidak memilih yang sedikit ini?
Menulis itu gampang, bagi yang sudah melakukannya. Tapi, bisa susah setengah mati buat mereka yang baru mulai. Nah, bagaimana caranya, atau apa yang harus dilakukan seorang penulis atau wartawan pemula?
Pertama, tanamkan sugesti positif. Ini untuk memompa semangat dan mensugesti diri sendiri. Katakan pada dirimu, Ayo, kamu pasti bisa! Saya ingin menjadi penulis ternama. Semangat menulis ini harus dijaga agar jangan sampai kendor. Seperti kata pepatah, dimana ada kemauan, disitu ada jalan.

Read more

CITIZEN JURNALISM

June 13, 2008 · Filed Under jurnalisme · 2 Comments 

Ketika orang biasa menjadi wartawan, inilah era citizen jurnalism. Wartawan tak bisa lagi mengklaim sebagai pewarta. Sebab, kemajuan teknologi bisa menjadikan orang biasa seperti wartawan. Apalagi, tak selalu wartawan lebih cepat, hadir pada setiap peristiwa. Wartawan bakal dapat saingan? Bisa jadi. Kehadiran backpaper jurnalis, wartawan yang meliput untuk koran, televisi dan multimedia pun belum tentu ‘mengalahkan’ orang biasa yang menjadi wartawan ini.

Read more

Media Online & Jurnalistik Virtual

June 12, 2008 · Filed Under jurnalisme · 3 Comments 


Media online adalah media massa yang dapat kita temukan di internet. Sebagai media massa, media online juga menggunakan kaidah-kaidah jurnalistik dalam sistem kerja mereka. Tapi apakah ada bedanya dengan media massa konvensional?
Sebetulnya, tak ada perbedaan yang terlalu signifikan. Perbedaan yang pa-ling mencolok adalah mediumnya. Yang satu virtual, satunya lagi tercetak. Kare-na itu, se-cara teknis ada hal-hal tertentu yang – mau tidak mau – membuat mereka berbeda.
Read more

Pers Kita Tak Menggigit?

June 11, 2008 · Filed Under jurnalisme · Comment 


Reformasi sudah berjalan sepuluh tahun. Ya, sepuluh tahun. Banyak yang berubah di negeri ini, termasuk kebebasan pers kita. Tak ada lagi bredel. Yang ada adalah media yang mati kehabisan nafas bersaing dan kena seleksi alam. Anehnya, berita di media makin seragam dan membosankan. Kemana daya kritis para wartawan? Masihkah wartawan mau berjerih payah menghasilkan karya jurnalistik yang hebat? Tulisan Wannnofri Samry, kandidat PhD pada School of History, Politic and Strategic Studies, National University Malaysia, dan Staf Pengajar Jurusan Sejarah, Universitas Andalas cukup menarik dicermati para wartawan.

MENURUT Duncan MC Cargo(2000) ada beberapa pradigma yang sering berlaku dalam literatur politik dan media. Pertama, hegemony of state power (dominasi kekuasaan
negara). Dalam hal ini media hanyalah sebagai bidak dan pelayan negara. Fenomena ini sangat kentara di berbagai dunia ketiga seperti Thailand, Malaysia, dan Indonesia sebelum jatuhnya Soeharto, bahwa pers tidaklah bebas.
Berbagai media menjadi corong pemerintah dan menyalurkan kepentingan- kepentingan penguasa. Istilah Goenawan Mohammad, pers ibarat ‘pesawat yang dibajak’. Artinya, ia dikendalikan. Pers semacam ini sulit diharapkan bisa mengkritisi pemerintah. Dalam
konteks literatur sejarah pers Indoensia, pers semacam itu bukan pers yang berjuang untuk kepentingan bangsanya.
Kedua, media sebagai watchdog. Ia sebagai anjing penjaga dari pada kepentingan publik. “Suatu teori tentang watchdog adalah: pers sebagai wali oposisi dan
bertindak dengan kuat menentang segala penyimpangan serta mempromosikan kepentingan publik. Dalam konteks ini pers merupakan media yang progesif untuk demokratisasi.
Ketiga, media sebagai institusi yang netral, menengahi kepentingan publik. Ia mendedahkan berita ke pembaca dan meninggalkan pembaca begitu saja. Pembaca dan
media berjalan sendiri-sendiri. Silakan pembaca untuk mengambil kesimpulan dan
tindakan terhadap informasi yang diberikan media. Kalau banyak media mengemukakan informasi tentu banyak informasi yang diolah. Dalam media seperti itu tentulah semua informasi telanjang, lalu masyarakat, dan pemerintah siap menerima apa adanya.
Keempat, media sebagai agenda setter; yaitu untuk mengembangkan isu dan menempatkan mereka dalam agenda debat dan diskusi publik. Model ini sering
berhubungan dengan analogi watchdog, yang sering menafsirkan dan menghadirkan dengan a highly positive light.
Keberhasilan pers dalam pradigma ini adalah sejauh mana ia mampu mengangkat isu-isu publik ke permukaan dan menjadi agenda bagi pemerintah dan masyarakat
dalam meningkatkan kemajuan hidup mereka. Pers semacam ini tentu juga berani untuk berdebat mengenai berbagai masalah yang peka terhadap kekuasaan sekalipun.

Pers Kita
Di manakah posisi pers kita? Kalau 10 tahun lalu hegemoni negara begitu kuat, pers dibajak, maka tidaklah aneh jika pers berada dalam ketakutan, kemudian dengan berbagai alasan menyalurkan ‘nafsu-nafsu kekuasaan’ serta menyembunyikan suara
publik di belakang meja redaksinya.
Kini demokratisasi dan desentralisasi sudah berjalan, semua relatif bebas bicara (tetapi bicara apa?). Apakah pers masih dalam ketakutan dan menjalankan
tipikal hegemony of state power? Mampukah pers menjadi watchdog yang tidak hanya
menggonggong tetapi menggigit. Tetapi, jika menggongong pun tidak juga, maka mungkin ini masalahnya kembali ke perangkat-perangkat dasar dari material pers itu sendiri.
Banyak orang menganggap bahwa masalah pengembangan pers tergantung pada financial dan pada masa Orde Baru dianggap aturan yang mengekang adalah penyebab pers
tidak berkembang.Walaupun didukung finansial yang banyak dan terbukanya pembuluh demokrasi, ternyata masih banyak pers yang bertipikal pelayan dari penguasa-negara, bukan publik.
Pers sering menampilkan a big shot dari tokoh-tokoh politik dan birokrat. Wartawan dan media banyak yang senang dan bangga mengadakan relasi dengan pemerintah
dengan para penguasa. Keinginan pers menampilkan tokoh-tokoh birokrasi ibarat kecanduan bergoyang dangdut di tengah pesta kemabukan.
Wartawan-wartawan muda, yang kata Dahlan Iskan akan menentukan napas pers pada masa depan, tidak dilatih dengan semangat juang ‘pers yang menggigit’, mereka
dilatih membuat berita di teras-teras istana pemerintah yang tidak mempunyai tantangan, kecuali penemuan sebuah relasi dan koneksi pemberitaan. Para
jurnalis, jika dalam zaman pergerakan sebagai pemburu berita, kini sebagai a servant of power.
Fenomena dalam sebahagian pers kita hari ini adalah ketergantungan mereka akan iklan, yang ada pada banyak pengusaha dan penguasa. Di banyak daerah yang tidak
tergarap ekonominya, maka pemerintah dan politisi adalah sumber iklan utama.
Setiap hari berita ucapan selamat secara terang-terangan muncul dari politisi dan birokrat. Profil-profil tokoh-politik dan birokrasi muncul di halaman depan dan halaman-halaman penting lainnya. Isinya adalah salinan dari pikiran tokoh tersebut yang dibantu oleh wartawan menuliskannya. Walaupun tidak ada penelitian khusus, tetapi realitas ini sudah menjadi rahasia umum di berbagai media.
Kesalahannya jelas dari alas bakul berdirinya sejumlah media; hanya sebagai alat mencari uang. Jelas sukar untuk membandingkannya dengan berdirinya media-media
besar semacam mingguan Tempo dan harian Kompas, apalagi dibandingkan dengan media masa pergerakan seperti Pedoman, Pandji Islam, dan lain-lain. Media massa kita banyak diawali dengan komitmen jurnalistik yang rendah dan tidak mempunyai visi, bahkan teknis.
Masalah lain juga akan berhubungan dengan para editor, reporter, dan penulis. Para editor yang tidak berpengalaman menulis, lalu tiba-tiba menjadi pengedit berita dan tulisan juga tidak menghasilkan konten pers yang bagus, ditambah dengan kemalasan untuk memeriksa dan langsung copy-paste.
Banyak reporter hanya menjadi pers tempat persinggahan, bukan pilihan hidup dan bagian dari sebuah proses yang penting dalam dunia intelektual mereka. Berita banyak reporter hanya sebagai pemindahan kata-kata ke mesin ketik dan komputer,
nilai-nilai humanisme dan intelektual tidak menjadi roh.
Penurunan berita, tulisan juga sering tanpa sebuah rencana yang matang. Berita hari ini muncul, besok berganti berita lain. Tulisan hari ini dimuat, besok
habis begitu saja. Tidak ada discourse konten, yang terjadi hanya komunikasi satu arah. Ruang polemik sering juga ditutup dengan berbagai alasan para editor
ataupun redaktur. Karena itu tidak akan pernah terjadi saat ini polemik seperti polemik M. Natsir dan Soekarno mengenai Islam dan negara, ataupun seperti
polemik kebudayaan antara Sutan Takdir Alisjahbana( STA), Ki Hadjar Dewantar, Armijn Pane, dan tokoh lainnya.
Mungkin kita juga merasakan tidak dalam pergerakan lagi, tetapi dalam masa akhir perjuangan dan ingin menikmati. Karena itu pers kita tidak menggigit, paling-paling juga sedikit menggonggong. *

Investigasi di Indonesia

June 11, 2008 · Filed Under jurnalisme · 2 Comments 


Orang sering menyebut jurnalisme investigatif sebagai: “Journalism with an impact” “Reporting on public interest issues” Jurnalisme seperti itu kita perlukan sekarang ini, lebih dibanding pada era Soeharto. Namun, mengapa jurnalisme investigasi kurang berkembang di negeri ini?

Lihatlah pertanyaan-pertanya an seperti ini:Apa yang sebenarnya terjadi dengan Skandal Lippo? Siapakah sebenarnya Ali Imron cs, para tersangka Bom Bali? Apa kaitan Bom Bali dengan undang-undang anti-terorisme dan militerisme gaya baru? Itu hanya dua dari banyak pertanyaan penting yang bisa—dan berani—kita ajukan sekarang. Namun, meski era kebebasan pers telah kita nikmati, banyak media tidak bisa menjawab pertanyaan “investigative” seperti itu secara relatif jelas.
Tenggelam dalam timbunan berita dan peristiwa, banyak media bahkan tidak mampu merumuskan pertanyaan-pertanyaan itu sendiri—langkah awal membuat investigasi. Padahal, membedah kasus Lippo (ekonomi-bisnis) dan Bom Bali (politik) memberi publik peluang untuk memahami hal-hal fundamental yang mempengaruhi kehidupan mereka secara luas dan mendalam.
Tapi, ada beberapa masalah yang dihadapi untuk mengembangkan tradisi jurnalisme ini. Sebagian masalah kita warisi dari era pra-reformasi, namun era paska-reformasi juga tidak memberikan iklim lebih baik bagi tumbuhnya tadisi investigatif— setidaknya sejauh ini.

Potensi dan Kendala
Jurnalisme investigatif masuk kategori “advanced” dalam dunia kewartawanan:
Jurnalisme Dasar
Jurnalisme Interpretatif (indepth reporting)
Jurnalisme Investigatif (muckraking)
Jurnalisme investigatif menuntut tidak hanya dana, sarana (tools, ketrampilan) dan resources, tapi juga keberanian media dan wartawan mengambil risiko. Karena kesannya yang “sulit”, “berisiko”, “eksklusif” serta “canggih” seperti itu, jurnalisme investigatif cenderung dihindari. “Barrier to entry” jurnalisme investigatif relatif tinggi, baik bagi media maupun wartawan.
Pada era Soeharto, tradisi investigatif hampir sama sekali mati, meski ada sejumlah upaya untuk menumbuhkannya. Kediktatoran dan ketertutupan politik membuat semua risiko investigasi menjadi maksimal: SIUPP me-mungkinkan pemerintah mengontrol: mengendalikan arus informasi (monopoli atau oligopoli informasi) dan mencegah pluralisme kepemilikan media maupun isinya. Media yang melenceng bisa dibreidel, membuat pemilik kehilangan bisnis dan karyawan menganggur. Suasana seperti itu menumbuhkan “sensor diri sistematis”—wartawan yang berani bahkan akan dianggap pengkhianat karena mengancam eksistensi koran/majalah tempatnya bekerja. Wartawan yang berani bisa kehilangan kebebasan (dipenjara), bahkan nyawa.

Potensi
Kebebasan pers setelah jatuhnya Soeharto menawarkan iklim lebih baik untuk tumbuhnya tradisi investigatif: Tanpa SIUPP, banyak media bermunculan. Monopoli dan oligopoli informasi mengalami perlawanan hebat dari le-dakan pluaralisme media dan opini. Kebebasan pers juga mempromosikan keberanian wartawan untuk meng-ungkap hampir apa saja. Jika dulu keberanian menjadi “liabilities” bagi wartawan, kini cenderung menjadi “asset”. Persaingan bisnis media membuat masing-masing berpikir keras membuat keunggulan dan meningkatkan kualitas editorial. Jurnalisme investigatif adalah salah satu cara media untuk bersaing dengan media lain.

Kendala
Namun, tidak semua faktor di era reformasi mendukung tumbuhnya tradisi investigasi. Ledakan media memicu persaingan ketat. Pemasaran media menyempit ke dalam segmen-segmen yang kian kecil. Aspek bisnis menjadi menonjol dengan efisiensi menjadi kata kuncinya:
Media mungkin tidak dibreidel pemerintah, tapi mati akibat bangkrut karena tidak efisien. Media kini bisa me-ngabaikan pejabat/politisi, tapi mereka menjadi kian pe-ka terhadap bisnis (terutama bisnis besar) karena iklan menjadi nyawa media. (Sensor diri tetap bertahan di ka-langan manajemen media)
Struktur biaya didominasi oleh biaya percetakan dan kertas (sekitar 30-40% dari cover price), kemudian oleh biaya agen dan distribusi (30%), biaya administrasi (20%) dan pajak (10%). Ketika media melakukan efisi-ensi, biaya editorial (peliputan dan penulisan) adalah yang paling rawan dikorbankan. Mutu jurnalistik tidak membaik. Beberapa media memilih isu yang bisa di-produksi secara murah, namun menghasilkan oplah atau iklan besar (sejumlah tabloid seks, adalah salah satu ka-susnya). Kebebasan pers juga disertai keberanian publik untuk menuntut media/wartawan dari aspek hukum. Tuntutan akurasi liputan dan penulisan jadi lebih tinggi.
Walhasil, risiko jurnalisme investigatif yang dihadapi media atau wartawan di masa reformasi tetap sama besarnya. Sementara itu iklim politik-sosial belum pulih benar dari krisis yang kita warisi: Risiko tinggi dalam jurnalisme investigasi di era Soeharto telah membuat kita kekurangan sumber daya manusia (wartawan investigatif adalah mahluk langka) dan kelemahan ketrampilannya. Pendidikan jurnalisme cenderung menghasilkan pejabat humas, bukan wartawan. Pendidikan internal media tidak memberikan “insentif” memadai untuk peningkatan ketrampilan dalam investigasi.
Ketertutupan politik di era lama membuat kita, para wartawan, terjebak dalam “teori konspirasi” yang berbau tahyul dan diilhami kemalasan. Kita tidak terbiasa menggali bahan dan menemukan data/informasi empiris dari lapangan. Tapi, bahkan wartawan yang berhasrat dan berani mengambil risiko melakukan investigasi tidak mudah melakukannya. Jurnalisme investigasi menuntut tidak hanya keberanian, tapi juga ketrampilan, sarana dan resources:
News Cycle. Ledakan pers telah membuat dunia informasi kita seperti “rimba berita”. Disibukkan oleh breaking-news dan news-cycle yang cepat dan bertubi-tubi, wartawan dituntut memiliki pengetahuan dan ketrampilan lebih baik untuk bisa melakukan investigasi.
Public information. Pada era sekarang akses warta-wan ke lembaga negara maupun lembaga swadaya ma-syarakat sudah lebih bagus tapi kendalanya: data yang mereka miliki belum tentu ada (available), dan jika ada belum tentu bisa dipercaya (reliable)
Bagaimana Mengatasinya?
Meski iklim telah membaik, bagi banyak media dan war-tawan “barrier to entry” ke dunia jurnalisme investigatif tetap tinggi. Jika kita ingin mempromosikan tradisi ini, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan:

Perubahan Sudut Pandang
Jurnalisme investigasi perlu dipopulerkan dengan sedikit mengurangi mitosnya sebagai jenis jurnalisme yang “sulit” dan “canggih”. Jurnalisme investigasi tidak hanya monopoli majalah serius, misalnya, seperti yang selama ini dipercaya. Jurnalisme seperti itu bahkan cocok untuk koran dan tabloid.

Asosiasi
Perlu ada asosiasi wartawan yang gigih mempromosikan tradisi ini dan melakukan advokasi: Mempromosikan pentingnya jurnalisme investigasi baik ke publik maupun ke media. Membangun jaringan dengan asosiasi serupa (lokal, nasional maupun internasional) Memberi insentif kepada wartawan/media yang mengusahakan jurnalisme investigasi: memberi penghargaan (“award”), mencarikan dana untuk liputan investigatif. Memberikan pendidikan/workshop untuk jurnalisme investigatif Membela wartawan investigatif dari tekanan manajemen media maupun publik.

Database dan Jaringan
Perlu dikembangkan database (apa saja) dan membangun jaringan dengan akademisi/lembaga riset yang bisa membantu wartawan melakukan investigasi secara mudah. Orang seperti Lin Che Wei dan lembaga sema-cam Transparancy International, misalnya, bisa membantu dalam Kasus Lippo.

Investigative Reporting

June 9, 2008 · Filed Under jurnalisme · 2 Comments 


Apakah semua wartawan menjalankan fungsi investigasi? Jawabnya bisa ya bisa tidak. Sebagian wartawan mengatakan setiap reporter juga seorang investigator. Namun ada yang mengatakan tidak setiap wartawan me-lakukan investigasi. Wartawan yang ikut pertemuan pers, menyodorkan tape recorder dan sekali-kali menerima amplop, pasti bukan seorang investigator.

Namun ada juga yang berpendapat setiap wartawan seyogyanya menjadi seorang investigator. Atau di-pertajam lagi, ada yang mengatakan bahwa setiap war-tawan harus bisa menjadi seorang investigator. Entah itu wartawan di kota atau reporter bisnis. Bahkan warta-wan yang bertugas meliput pakaian mode baru juga bisa menjadi investigator. Logikanya, kejahatan tak mengenal bidang-bidang liputan. Di mana-mana bisa terjadi keja-hatan.
Sebagian wartawan juga mengatakan bahwa inves-tigasi adalah pekerjaan jurnalisme yang dikaitkan dengan upaya membongkar apa-apa yang salah dan diraha-siakan. Namun apakah membongkar skandal antara se-orang manajer dengan mantan sekretarisnya juga dika-tegorikan investigasi? Apakah membong-kar skandal seorang politikus dan seorang aktivis perempuan bisa dikategorikan investigasi? Berhakkah media masuk hingga ke ruang pribadi ini? Apa beda investigative re-porting dan in-depth reporting?

Dari Muckraking hingga investigative Reporting
Sebelum masuk ke perdebatan-perdebatan tersebut, ada baiknya kita melihat apa yang terjadi di negara-negara lain yang tradisi persnya, setidaknya di bidang investigasi, lebih tua dari Indonesia. Di Amerika Serikat istilah investigative reporting mulai populer pada tahun 1975 ketika di Columbia didirikan Investigative Reporters and Editors Inc. Tapi ini bukan berarti sesuatu yang baru sama sekali. Sebelumnya ada istilah muc-kraking journalism, antara tahun 1902 hingga 1912, ketika majalah McClure’s menerbitkan laporan-laporan yang membongkar politik uang elit Washington. Sekarang IRE jadi salah satu organisasi terkemuka dalam masalah investigasi dengan anggaran $800,000 per tahun.
Setiap tahun IRE mengadakan seminar teknik-teknik baru dalam investigasi, baik dalam pengelolaan data-base maupun spesialisasi tertentu (lingkungan hidup mi-salnya), serta memberikan hadiah buat karya-karya in-vestigasi yang bagus di seluruh Amerika Serikat. Ia memperkenalkan sistem riset lewat internet maupun pe-makaian penginderaan jarak jauh.
Di Asia Filipina yang pertama kali memiliki organisasi semacam Philippines Center for Investigative Journalism ketika sekelompok wartawan muda pada tahun 1989 mendirikan lembaga itu sesaat setelah diktator Fer-di-nand Marcos melarikan diri dari Filipina. Direktur PCIJ Sheila Coronel datang ke Indonesia dan memberikan ceramah di Jakarta, Surabaya, Bandung, Yogyakarta dan Ujungpandang pada 1-11 Oktober 1999.
Menurut Coronel, mereka mendirikan PCIJ karena me-dia di mana mereka bekerja tak menyediakan suasana yang memungkinkan bagi wartawan-wartawan muda itu untuk membuat in-depth reporting maupun investigative reporting. Budaya newsroom di Filipina lebih banyak di-habiskan meliput breaking news daripada analisa yang mendalam.
Pada November 1998 di Cambridge, Amerika Serikat, juga diadakan pertemuan perdana dari International Consortium of Investigative Journalists yang memberi-kan penghargaan buat wartawan-wartawan dari seluruh dunia yang berkarya dengan baik di bidang investigasi. Untuk pertama kali penghargaan ini diberikan kepada Nate Thayer dari mingguan Far Eastern Economic Review yang berpangkalan di Hongkong atas jerih-payah dan prestasi Thayer dalam mewa-wancarai tokoh Khmer Merah Pol Pot.
Di Indonesia sendiri kurang jelas mulai kapan istilah li-putan investigasi mulai menjadi populer. Namun setidak-nya ada beberapa majalah yang secara eksplisit pada tahun 1990-an menggunakan kata “investigasi” dalam liputan mereka. Dwi-mingguan Tajuk yang didirikan tahun 1996 memposisikan dirinya sebagai majalah “berita, investigasi dan entertainmen”. Majalah Tempo juga me-nambahkan satu rubrik “Investigasi” ketika terbit kembali 6 Oktober 1998.
Namun apa yang dinilai sebagai “investigasi” yang mungkin paling terkenal di Indonesia adalah liputan ha-rian Indonesia Raya atas kasus korupsi di Pertamina dan Badan Logistik antara 1969 dan 1972. Harian itu melaporkan dugaan ko-rupsi besar-besaran di Perta-mina dengan memanfaatkan sumber-sumber anonim dari dalam perusahaan negara tersebut. Pertamina mau-pun pemerintahan Presiden Suharto menolak adanya korupsi. Walaupun Indonesia Raya terkesan agak cru-sading dalam liputannya namun beberapa tahun ke-mudian terbukti bahwa Pertamina memang penuh de-ngan korupsi hingga hampir membangkrutkan peme-rintahan Suharto.
Dalam lima tahun terakhir ini, saya pikir liputan in-vestigasi skala internasional yang dilakukan oleh war-tawan Indonesia adalah investigasi tentang skandal e-mas Busang yang dibuat oleh wartawan lepas Bondan Winarno. Ia melanglang buana, pergi ke Calgary dan Toronto di Kanada, Manila di Filipina serta hutan rimba Busang di Kalimantan untuk menelusuri investigasinya yang dituangkan dalam bentuk sebuah buku. Bondan juga menelusuri berbagai dokumen tentang pertambangan mineral dan cara-cara untuk “meracuni” mata bor dengan “emas luar” sedemikian rupa sehingga dibuat kesim-pulan ada cebakan emas yang luar biasa besarnya di bawah permukaan hutan Busang.
Intinya Bondan menganggap Michael de Guzman, geolog senior Bre-X, “meracuni” sample hasil pemboran mereka dan melakukan kejahatan canggih untuk mem-perkaya diri mereka. Bondan secara mengejutkan juga memperkirakan bahwa de Guzman masih hidup, tidak mati bunuh diri seperti diberitakan. Bondan melaporkan bahwa mayat yang ditemukan di tengah hutan Busang itu tidak memiliki gigi palsu di rahang atasnya seperti yang dimiliki de Guzman. Geolog Filipina ini juga mem-punyai gaya hidup mewah, suka berfoya-foya, main pe-rempuan, yang tidak cocok dengan tipe orang yang me-miliki kecenderungan untuk melakukan bunuh diri. Aneh juga bahwa de Gusman tidak duduk di samping pilot he-likopter namun di belakang. Bondan mewawancarai dua orang dokter yang melakukan autopsi terhadap jasad tersebut serta seorang dari empat isteri de Guzman.
Dari gambaran sekilas atas pekerjaan Bondan mau-pun Nate Thayer sudah bisa kita ketahui bahwa inves-tigative reporting memang lebih berat dari rata-rata pe-kerjaan jurnalisme sehari-hari. Bondan butuh waktu dua bulan penuh untuk mengerjakan investigasinya. Thayer bahkan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menyakinkan Khmer Merah bahwa ia layak untuk mewa-wancarai Pol Pot.
Goenawan Mohamad dari majalah Tempo menyebut investigative reporting sebagai jurnalisme “membongkar kejahatan.” Ada suatu kejahatan yang biasanya ditutup-tutupi. Wartawan yang baik akan mencoba mempelajari dokumen-dokumen bersangkutan dan membongkar keberadaan tindak kejahatan di belakangnya.
Namun pemahaman ini perlu dibedakan antara inves-tigasi yang dikerjakan oleh seorang wartawan atau se-buah tim wartawan dengan liputan media atas hasil inves-tigasi pihak lain. Ketika mingguan Panji Masyarakat me-muat rekaman pembicaraan antara Presiden B.J. Habi-bie and Jaksa Agung Andi M. Ghalib pada pertengahan Februari 1999, banyak dosen komunikasi yang mengata-kan bahwa itulah investigative reporting. Ahli hukum me-dia Abdul Muis dari Universitas Hasanuddin mengatakan secara etis Panji tidak bisa disalahkan karena pemuatan itu bagian dari investigative reporting. Muis mengatakan bahwa Panji melakukan investigasi. Terlepas dari kebe-ranian Panji dalam menu-runkan pembicaraan itu de-ngan pertimbangan adanya public interest dalam perbin-cangan tersebut, Prof. Muis lupa bahwa rekaman ter-sebut bukan dikerjakan Panji sendiri. Yang melakukan investigasi bukan Panji karena maj
alah itu hanya menda-patkan kaset rekamannya saja. Bukan menyadap pembi-caraan telpon itu sendiri.
Robert Greene dari Newsday —beberapa kali disebut sebagai “Bapak Jurnalisme Investigasi Modern”— mem-batasi liputan investigasi sebagai karya seorang atau beberapa wartawan atas suatu hal yang penting buat ke-pentingan masyarakat namun dirahasiakan oleh mereka yang terlibat. Liputan investigasi ini minimal memiliki tiga elemen dasar: bahwa liputan itu adalah ide orisinil dari wartawan, bukan hasil investigasi pihak lain yang ditin-daklanjuti oleh media; bahwa subyek investigasi me-rupakan kepentingan bersama yang cukup masuk akal untuk mempengaruhi kehidupan sosial mayoritas pembaca suratkabar atau pemirsa televisi bersangkutan; bahwa ada pihak-pihak yang mencoba menyembunyikan kejahatan ini dari hadapan publik.

Dua Bagian Proses Investigasi
Mula-mula seorang wartawan investigator adalah war-tawan yang tidak menerima mentah-mentah pernyataan sumber-sumber resmi. Seorang wartawan yang mau me-lakukan pekerjaan riset yang dalam, tekun mere-konstruksi suatu kejahatan dan tidak kenal lelah untuk mengejar sumber-sumber yang penting, kira-kira itulah bayangan pekerjaan dalam jurnalisme investigasi.
Sumber-sumbernya banyak. Dokumen-dokumennya bertumpuk. Jelas bahwa sebuah karya investigasi tidak bisa dibuat hanya dengan mengandalkan sebuah lapo-ran pemeriksaan polisi atau keterangan pers sebuah lembaga swadaya masyarakat. Walaupun ukuran waktu bersifat sangat nisbi, namun sebuah laporan investigasi biasanya makan waktu cukup lama. Bisa setengah tahun namun bisa juga setahun tergantung pada ukuran dan cakupan investigasi tersebut.
Menyelidiki perdagangan senjata antar-negara dan penggunaannya oleh para serdadu bayaran tentu lebih lama daripada investigasi penyalahgunaan dana pemba-ngunan Pasar Pagi di kota Tegal. Perdagangan senjata biasanya melibatkan kejahatan terorganisasir di bebe-rapa negara. Serdadu bayaran juga beroperasi lintas batas. Namun ukuran waktu memang nisbi. Kalau me-reka yang dianggap melakukan penyalahgunaan reno-vasi Pasar Pagi ternyata sudah melarikan diri ke luar negeri, tentu waktu yang dibutuhkan lebih lama daripada sekedar mengejar sumber-sumber antara Tegal dan Ja-karta (dalam negeri).
Dalam skala internasional, investigasi memang keba-nyakan berkaitan dengan perdagangan senjata, operasi militer rahasia, operasi kelompok-kelompok bisnis rak-sasa berbau korupsi-kolusi, penyelundupan obat bius maupun penyelundupan tenaga manusia secara global (baik dalam bisnis pelacuran maupun perbudakan mo-dern). Bondan menyelidiki manipulasi contoh emas Bus-ang hingga ke kantor Bre-X di Calgary maupun situs Busang di dalam hutan-hutan Kalimantan Timur. Bondan juga pergi ke Manila untuk menemui saudara perempuan Michael de Guzman untuk mencari jejak ke arah dental record geolog Bre-X tersebut. Thayer harus mondar-mandir antara Bangkok, Phnom Penh dan hutan-hutan perbatasan Thailand-Kamboja untuk mengejar sumber-sumbernya di kalangan Khmer Merah.
Coronel secara singkat membagi proses investigasi ke dalam dua kali tujuh bagian. Pembagian ini untuk mempermudah seorang investigator dalam mengatur sistematika pekerjaannya. Bagian pertama merupakan bagian penjajakan dan pekerjaan dasar. Sedangkan ba-gian kedua sudah berupa penajaman dan penyelesaian investigasi:

Bagian Pertama
· Petunjuk awal (first lead)
· Investigasi pendahuluan (initial investigation)
· Pembentukan hipotesis (forming an investigative hypothesis)
· Pencarian dan pendalaman literatur (literature search)
· Wawancara para pakar dan sumber-sumber ahli (interviewing experts)
· Penjejakan dokumen-dokumen (finding a paper trail)
· Wawancara sumber-sumber kunci dan saksi-saksi (interviewing key informants and sources)
Petunjuk awal bisa berupa apa saja. Ia bisa berupa sebuah berita pendek di suratkabar. Ia juga bisa berupa sebuah surat kaleng yang menunjuk adanya ketidak-beresan dalam suatu lembaga tertentu. Ia juga bisa be-rupa telpon dari seseorang tak dikenal. Atau petunjuk ini juga bisa berupa suatu peristiwa besar yang sudah ba-nyak diberitakan media namun masih menyimpan teka-teki yang kelihatannya menarik untuk dikejar. Teka-teki ini bakal menarik kalau si investigator menemukan sum-ber penting yang bisa membuka ke arah terbongkarnya teka-teki tersebut.
Indonesia memiliki banyak sekali peristiwa-peristiwa menarik untuk diselidiki. Katakanlah mulai dari isu ke-terlibatan oknum-oknum berseragam dalam huru-hara 14-16 Mei 1998. Sebuah petunjuk bisa saja muncul dari berbagai arah yang bisa dipakai untuk menyelidiki peris-tiwa tragis tersebut. Atau pembunuhan mereka yang ditu-duh sebagai dukun santet di daerah Banyuwangi dan Jember. Mengapa tiba-tiba bupati yang memerintahkan pendaftaran para dukun santet diganti sebelum masa jabatannya berakhir? Huru-hara juga meledak di mana-mana. Dari Ketapang di Jakarta hingga Karawang hing-ga Kupang dan Ambon. Benarkah ada provokator dan kejahatan terorganisir di balik huru-hara tersebut? Seo-rang investigator seyogyanya sudah mengetahui latar belakang suatu kasus sebelum bisa mencium adanya petunjuk yang berharga.
Investigasi pendahuluan bisa berupa penggalian data lebih jauh, wawancara maupun peninjauan lapangan. Ri-set dikerjakan dengan teliti sebelum hipotesis ditetapkan. Pekerjaan yang terarah dan tajam praktis baru diker-jakan setelah hipotesis terbentuk. Bondan Winarno menggunakan metode deduksi untuk mencari data dan membuktikan hipotesisnya. Mula-mula dengan penca-rian dan pendalaman literatur. Lantas dikombinasi de-ngan wawancara para pakar dan sumber-sumber ahli agar si investigator mendapatkan latar-belakang teknik yang memadai sebelum melangkah lebih jauh.
Coronel menekankan pentingnya pencarian dokumen-dokumen maupun wawancara sumber-sumber kunci dan saksi-saksi. Dokumen ini penting karena di sanalah bia-sanya ketentuan-ketentuan yang mengikat bisa dijadikan barang bukti. Dokumen juga bisa dipakai untuk mem-pertentangkan pernyataan-pernyataan nara sumber yang berbohong. Di Indonesia banyak sekali pejabat atau pe-mimpin perusahaan yang setengahnya “berbohong” de-ngan cara menjawab pertanyaan wartawan secara diplo-matis atau bahkan dengan memutar-balikkan logika. Dokumen tertulis akan membantah semua kebohongan.
Pekerjaan terakhir dalam tahap pertama ini adalah wawancara dengan orang-orang kunci. Pekerjaan ini se-ringkali makan waktu lama karena jarak maupun waktu. Orang-orang kunci tidak harus orang-orang dengan jabatan tinggi. Seorang tukang perahu dekat Samarinda bisa menjadi sumber penting dalam investigasi Bre-X untuk membuktikan bahwa “peracunan emas” tidak dila-kukan di gudang Loa Duri (seperti dilaporkan Asian Wall Street Journal). Atau seorang isteri yang bisa mene-gaskan bahwa suaminya memiliki gigi palsu di rahang atas. Memang sumber-sumber kunci dalam Bre-X juga termasuk John Felderhof, geolog senior yang juga atasan Michael de Guzman, namun yang sering terjadi orang macam ini keberatan untuk bicara dengan wartawan.

Bagian Kedua
· Pengamatan langsung di lapangan (first hand observation)
· Pengorganisasian file (organizing files)
· Wawancara lebih lanjut (more interviews)
· Analisa dan pengorganisasian data (analyzing and organizing data)
· Penulisan (writing)
· Pengecekan fakta (fact checking)
· Pengecekan pencemaran nama baik (libel check)
Pengamatan langsung di lapangan seyogyanya dilaku-kan dengan berbekal peta geografis dari lokasi di mana investigasi dipusatkan. Wartawan seringkali melupakan tinjauan dari aspek geografis. Padahal banyak keputusan militer maupun dagang yang dibuat berdasarkan pertim-bangan geografis. Ahli penginderaan jarak jauh Christo-pher Simpson dari American University berpendapat bahwa 80 persen keputusan bisnis maupun dagang di-tentukan oleh pertimbangan geografis.
Pengorganisasian file akan mempermudah investigator untuk menganalisai dan mencari benang merah atau pola dari berbagai data temuannya. Investigasi akan pembu-nuhan dukun santet, misalnya, akan lebih
mudah bila di-buat matriks yang mencatat kecenderungan-kecende-rungan korban pembunuhan. Entah lokasinya, metode pembunuhan atau pola penyebaran desas-desus. Dalam kasus korupsi yang canggih yang melibatkan banyak orang juga akan terbentuk suatu pola bisa semua data yang ada dimasukkan dalam database dengan rapi.
Penulisan laporan merupakan teknik tersendiri yang tentu tidak meninggalkan teknik pembuatan angle, focus dan outline. Data yang sedemikian banyaknya tentu me-merlukan seleksi yang ketat untuk memilih mana yang perlu dan mana yang kurang perlu. Walaupun media elek-tronik di Indonesia belum pernah punya reputasi harum dalam hal investigasi, namun ini lebih disebabkan ma-salah sejarah dan kepemilikan media elektronik. Cepat atau lambat, investigasi juga akan masuk ke media yang pengaruhnya luas sekali ini. Alat-alatnya pun men-jadi lebih rumit. Entah dalam bentuk kamera tersem-bunyi atau alat rekam ultra sensitif.
Pengecekan fakta (fact checking) sangat penting wa-lau banyak diremehkan wartawan. Apalah arti kerja ke-ras berbulan-bulan bila seorang sumber dengan enteng mengatakan, “Investigasi apa itu? Menulis ejaan nama saya saja salah!” Banyak sekali kesalahan yang keliha-tannya remeh namun bisa merusak penilaian orang akan laporan tertentu. Nama orang, tanggal kejadian, hubungan darah antar satu sumber dengan yang lain, jumlah anak, nilai transaksi dan sejuta data lain, harus disisir satu demi satu agar semua data akurat.
Wartawan Richard Lloyd Parry dari harian Inde-pen-dent (London) membuat laporan yang luar biasa soal terjadinya pembunuhan orang-orang Madura oleh o-rang Dayak di Kalimantan Barat antara Desember 1996 hingga Januari 1997. Parry menulis laporan se-panjang 40 halaman pada majalah Granta terbitan Lon-don. Data-datanya luar biasa. Peristiwa penjagalan manusia digambarkan dengan detail. Kuburan-kuburan dibongkar dan tengkorak-tengkorak dihitung. Namun pada halaman awal karangannya, Parry mem-buat ke-salahan kecil: Partai Demokrasi Indonesia dise-butnya sebagai partai dengan nomor kontestan dua sedang-kan Golongan Karya nomor tiga!
Pengecekan fakta ternyata tidak cukup. Dalam jaman di mana kebebasan pers makin terbuka, anca-man seringkali datang dari tuntutan dengan dasar pen-cemaran nama baik (libel check). Bondan mengatakan bahwa ia digugat pencemaran nama baik masing-masing Rp 1 triliun oleh mantan menteri pertambangan Ida Bagus Sudjana dan putranya Dharma Yoga Sudjana. Hingga kini kasus itu masih ada dalam proses hukum. Kedua belah pihak tidak mau mundur atau melakukan penyelesaian di luar hukum. Bondan harus membayar pengacara untuk membuktikan bahwa ia tidak bersalah. Namun ongkos pengacara tidak murah bukan? Bahkan menurut Bondan, biaya untuk melalang buana ke Kanada dan Filipina masih lebih murah di-banding biaya yang sudah dikeluarkannya untuk mem-bayar pengacara. Sebuah penerbitan bisa bangkrut bila tuntutan pencemaran nama baik terbukti benar. Se-mentara buat wartawan semacam Bondan, mundur berarti membiarkan reputasinya sebagai wartawan dipertanyakan.
Kesimpulannya, tidak ada cara lain yang bisa dila-kukan seorang wartawan daripada melakukan konsul-tasi hukum dengan ahli hukum perdata secara benar sebelum laporannya naik cetak atau disiarkan. Editor juga banyak berperan untuk mengantisipasi kemung-kinan munculnya gugatan pencemaran nama baik. Prin-sip cover both side seringkali sangat membantu untuk menghindar dari jeratan tuntutan pencemaran nama baik. Dalam kasus Bondan, ia memang beberapa kali men-coba mewawacarai Sudjana, namun kurang berhasil hingga naik cetak.

Hipotesis dan Teknik
Salah satu hal yang banyak membedakan antara in-depth reporting dan investigative reporting adalah ada atau tidaknya hipotesis dalam penelusuran tersebut. Saya berpendapat bahwa dalam batasan tertentu inves-tigative reporting adalah fase kelanjutan dari in-depth reporting. Majalah Panji Masyarakat jelas tidak memiliki hipotesis ketika mereka menurunkan laporan pembicaraan telpon Habibie-Ghalib. Namun keadaan ini akan berbeda bila Panji memutuskan untuk melanjutkan pekerjaan itu dan melakukan investigasi sendiri. Dalam melakukan in-depth reporting seorang wartawan bisa be-rangkat praktis dari nol atau dari sekedar membaca kliping-kliping koran. Ketika wartawan itu sudah jauh lebih banyak mengetahui duduk persoalan sebenarnya —se-telah melakukan banyak wawancara, membaca tum-pukan dokumen serta mendatangi tempat-tempat yang berhubungan dengan liputannya— saat itulah ia pada titik hendak melakukan kegiatan lanjutan atau tidak. Liputan lanjutan inilah yang lebih bersifat investigatif. Membongkar kejahatan. Mencari tokoh-tokoh jahat dan merekonstruksi kejahatan-kejahatan mereka. Hipotesis sangatlah penting untuk membantuk wartawan mem-fokuskan dirinya dalam suatu investigasi.
Jakob Oetama dari harian Kompas mengatakan ke-pada saya bahwa salah satu halangan kegiatan inves-tigasi di harian tempatnya bekerja adalah iklim ewuh-pekewuh terhadap mereka yang dianggapnya terlibat da-lam kejahatan tersebut. Keadaan ini yang membuat ha-rian terbesar di Indonesia ini mengalami kesulitan untuk mengejar dan menyelidiki hipotesis-hipotesis yang me-reka pikirkan.
Bondan Winarno dalam investigasinya soal Busang mengajukan hipotesis bahwa kematian Michael de Guz-man tidak wajar dan aneh. Ia juga curiga bahwa de Guzman adalah otak dari “peracunan” sample emas Busang sehingga harga-harga saham Bre-X naik ber-kali-kali lipat di mana de Guzman juga sangat diuntung-kan. Bondan curiga bahwa mayat yang ditemukan di hutan Busang itu bukanlah mayat de Guzman. Bagaimana mungkin mayat orang yang jatuh dari ke-tinggian 800 kaki masih utuh?
Untuk membuktikan hipotesis tersebut, Bondan mula-mula bicara dengan dokter-dokter yang memeriksa ja-sad tersebut. Ia menemukan bahwa para dokter Indo-nesia yang mengatakan bahwa mayat itu mayat de Guz-man hanya mendasarkan pengamatannya dari pakaian yang dilaporkan dikenakan oleh de Guzman. Sementara itu dari salah seorang isteri maupun teman-temannya, Bondan menemukan bahwa de Guzman memiliki gigi palsu. Sementara mayat itu tidak ada gigi palsunya.
Bondan juga terbang ke Filipina untuk mencari sau-dara-saudara de Guzman maupun mantan pembantu-pembantunya di Busang —Cesar M. Puspos dan Jerome Alo— yang semuanya menolak menemui Bondan. Ke-luarga de Guzman bahkan menolak untuk memberikan alamat dokter gigi yang biasa merawat Michael. Semen-tara pembantu-pembantunya seolah-olah raib tertelan bumi. Tidakkah ini indikasi bahwa ada yang aneh de-ngan “kematian” Michael de Guzman?
Bondan tentu memakai seperangkat teknik untuk mem-buktikan hipotesisnya. Selain wawancara panjang lebar di beberapa sudut dunia, ia juga mengadakan riset yang panjang, bahkan belajar tentang teknik pertambangan, untuk mendukung investigasinya. Salah satu kelebihan Bondan adalah sikapnya yang sopan. “Sikap santun itu penting. Ini sikap yang penting dalam investigasi,” ujar-nya. Dengan modal sopan-santun ini pula Bondan mene-gaskan prinsipnya bahwa ia tidak mau mencuri.
Soal mencuri atau tidak memang jadi isu yang sulit se-kali. Banyak wartawan yang berpendapat bahwa dalam investigasi, segala cara dibenarkan, termasuk mencuri dana, mencuri pembicaraan orang maupun mencuri infor-masi. Panda Nababan, wartawan senior majalah Forum Keadilan, berada pada kubu yang membenarkan pencurian data. Nababan memakai teknik apa saja untuk mendapatkan data. Ia pernah “menipu” petugas bandara Jakarta dengan mengaku dirinya sebagai seorang peja-bat tinggi militer dalam kasus pembajakan pesawat Ga-ruda Woyla. Dalam kesempatan lain Nababan juga per-nah mencuri dokumen di mobil seorang pejabat tinggi yang hendak menyerahkan dokumen itu kepada Presi-den Suharto.
Perdebatan antara boleh tidaknya mencuri data ini me-mang sangat erat terkait dengan masalah etika dan hu-kum. Namun secara umum ada beberapa teknik yang biasanya dipakai seorang investigator:
· Riset dan reportase yang mendalam dan berjangka waktu panjang untuk membuktikan kebenaran atau kesa-lahan hipotesis;
· Paper trail (pencarian jejak dokumen) yang berup
a upaya pelacakan dokumen, publik maupun pribadi, untuk mencari kebenaran-kebenaran untuk mendukung hipotesis;
· Wawancara yang mendalam dengan pihak-pihak yang terkait dengan investigasi, baik para pemain langsung maupun mereka yang bisa memberikan background ter-hadap topik investigasi;
· Pemakaian metode penyelidikan polisi dan peralatan anti-kriminalitas. Metode ini termasuk melakukan penya-maran. Sedangkan alat-alat bisa termasuk kamera ter-sembunyi atau alat-alat komunikasi elektronik untuk me-rekam pembicaraan pihak-pihak yang dianggap tahu persoalan tersebut. Ini memang mirip kerja detektif;
· Pembongkaran informasi yang tidak diketahui publik maupun informasi yang sengaja disembunyikan oleh pi-hak-pihak yang melakukan atau terlibat dalam kejahatan.
Hipotesis biasanya disusun dengan beberapa perta-nyaan dasar. Pertama-tama adalah pertanyaan tentang aktor pelaku kejahatan. Siapa yang bertang-gungjawab atas penyalahgunaan dana masyarakat tersebut? Siapa yang memicu huru-hara? Siapa yang mula-mula menye-barkan sentimen anti-etnik atau anti-agama tertentu? Siapa yang melakukan insider trading? Siapa yang mula-mula berkepentingan agar dukun-dukun santet dibunuh?
Dalam investigasi Bondan, ia berteori bahwa kasus Bre-X itu dilakukan oleh Michael de Guzman dan anak-anak buahnya yang dari Filipina. Bukan oleh al-marhum David Walsh, orang nomor satu Bre-X, maupun John Fel-derhof, geolog senior Bre-X yang juga atasan de Guz-man. Walaupun kedua orang itu juga diuntungkan oleh ulah de Guzman, namun mereka tidak terlibat dalam skandal ini. Felderhof boleh jadi mengetahuinya namun tidak mencegahnya. Bondan mendapatkan jawaban tertulis dari Felderhof.
Selain hipotesis tentang aktor pelaku, juga perlu ditanyakan cara-cara suatu kejahatan dilakukan. Bagaimana penyalahgunaan itu dilakukan? Bagaimana cara sample mata bor lubang-lubang Busang dicampur dengan emas luar agar ada kesan temuannya memang besar sekali? Bagaimana cara Michael de Guzman menipu sekian ba-nyak konsultan independen yang memperkuat hasil temuan Bre-X? Apa konsekuensi dari penyalahgunaan tersebut? Apa yang bisa dilakukan untuk memper-baikinya?
Hipotesis ini yang terus-menerus diteliti, diuji dan di-simpulkan benar-tidaknya. Kalau kemudian terbukti bah-wa hipotesis itu salah, seorang investigator harus de-ngan besar hati mengakui bahwa tidak terjadi kejahatan di sana. Kasus ditutup. Setiap investigasi memang me-ngandung kemungkinan bahwa hasilnya ternyata tidak sedramatis yang diperkirakan. Dan hasil yang negatif ini juga seringkali disertai dengan keputusan bahwa hasil investigasi tersebut tidak layak diteruskan.
Kesannya memang sia-sia. Mungkin biaya besar dan waktu lama juga sudah dikeluarkan. Selain itu, seringkali pekerjaan investigasi ini memancing mereka yang diru-gikan untuk mengajukan tuntutan hukum. Alasannya pen-cemaran nama baik. Hipotesis Bondan, misalnya, bisa saja salah kalau suatu saat ia mene-mukan bukti baru bahwa mayat itu ternyata benar mayat de Guzman. Bon-dan tentu tidak bisa dibenarkan bila salahnya hipotesis itu tidak diungkapkan namun fakta-fakta yang menye-satkan yang justru dipakai. Padahal ia sudah bekerja keras dan mengeluarkan uang cukup banyak untuk mela-kukan investigasi itu. Ironisnya, dalam kasus buku “Se-bungkah Emas di Kaki Langit” ini Bondan justru tidak mendapat gugatan hukum dari keluarga de Guzman. Ia justru mendapat gugatan pencemaran nama baik dari keluarga Ida Bagus Sudjana. Bondan masih beruntung! Dalam banyak kasus, taruhannya bahkan nyawa.

Penulisan dalam Sistem Memo
Investigasi yang baik perlu didukung oleh sistem pela-poran yang baik pula. Apalah artinya investigasi yang mahal dan makan waktu bila hasil akhirnya disajikan dengan buruk? Penulisan perlu dibuat menarik. Untuk itu metode penulisan dari pekerjaan besar ini harus didukung oleh sebuah sistem memo.
Sistem ini pada dasarnya adalah sebuah alat bantu buat wartawan untuk meng-atur pekerjaan mereka seca-ra lebih sistematis. Sistem ini membantu reporter be-kerja lebih mudah dan lebih cepat untuk mencari data dan menyusun arsip. Sistem memo terutama sangat berguna untuk membantu sebuah tim (bahkan seorang wartawan) untuk bekerja sama secara rapi dalam mengerjakan proyek mereka.
Seorang koordinator tim juga bisa memetik keuntungan dari sistem ini. Ia bisa mengetahui setiap perkembangan dari proyek yang sedang dipimpinnya. Ia misalnya dengan teratur bisa membaca laporan-laporan dari anggota-anggota timnya dan dengan cepat bisa memutuskan materi apa yang harus dikembangkan.
Sistem memo ini juga mempermudah penulisan draft final. Alasannya sederhana saja. Dengan secara teratur dan disiplin membuat memo, proses penulisan jadi sebu-ah proses yang dinamis. Penulisan laporan final, entah dalam bentuk buku atau artikel, menjadi sebuah proses kerja yang lebih sederhana karena semua bahan sudah tersedia dan secara teratur diperbarui terus-menerus. Pekerjaan final hanya tinggal dilakukan dengan menyu-sun blok demi blok sesuai dengan outline laporan yang hendak dibuat.
Sistem memo lagi-lagi diperkenalkan oleh Bob Greene dari Newsday. Ia pada mulanya membuat sistem ini untuk keperluan investigasi di mana pengecekan data-data dibuat dengan sangat hati-hati dan menyeluruh. Sistem memo yang diperkenalkannya sekarang diadopsi oleh banyak organisasi berita di seluruh dunia termasuk International Consortium of Investigative Journalists.
Pertama-tama, ada dua tip yang diperkenalkan oleh Greene. Nama orang senantiasa diketik dengan huruf besar. Hal ini akan mempermudah editor, koordinator tim atau reporter dalam membaca memo-memo yang berdatangan setiap hari. Seperti tertera dalam artikel ini, penyebutan nama pertama kalinya senantiasa ditam-bah dengan date of birth (dob). Ini penting karena sebuah sumber boleh jadi baru berumur 68 tahun ketika diwawancarai. Namun ketika naskah diterbitkan umurnya sudah 69 tahun.
Memo ini pada dasarnya adalah produk kerja seorang wartawan; ia merupakan kompilasi dari apa yang dilihat sang wartawan, didengarnya, dibacanya, dibauinya, dira-sakannya dan dicicipinya. Seorang wartawan harian atau wire service tidak memakai memo. Laporan harian itu sendiri sudah merupakan kumpulan memo. Mereka yang pernah bekerja di Reuters atau Associated Press tentu mengetahui bagaimana rasanya membuat berita yang diturunkan hampir setiap hari kalau tidak setiap jam.
Memo hanya dipakai untuk mereka yang bekerja dalam periode waktu yang panjang. Bisa mingguan dan yang penting yang terlibat dalam penulisan buku atau investigasi skala besar. Cara tradisional untuk meng-gunakan jolt note sebelum seorang wartawan menulis laporannya jelas tidak efisien. Ini cara yang kuno. Berapa dari kita yang masih bisa membaca tulisan tangan kita sendiri setelah seminggu? Dan berapa banyak orang yang bisa mengerti tulisan tangan kita? Apabila seorang koordinator membutuhkan jolt note anggotanya, seberapa besar kemungkian bagi si koordinator untuk memahami semua coretan tangan reporternya?
Kalau anggota tim hanya dua orang, dengan mudah keduanya bisa duduk berdua dan membandingkan jolt note. Namun kalau anggota lebih dari empat dan tinggal di tempat-tempat yang berbeda?
Sekedar contoh. Investigasi huru-hara Kebumen. Ada cukup banyak reporter yang bekerja dari Kebumen. Na-mun mereka merasa tidak cukup. Perlu ada pekerjaan yang dilakukan di Jakarta, Yogyakarta, Semarang dan Ambarawa. Bahkan mereka membutuhkan bantuan tenaga luar untuk terjun di Kebumen. Berapa dana yang harus dikeluarkan bila setiap kali semua anggota tim harus rapat dan diskusi bersama? Greene membagi memo dalam dua macam: “copy ready” dan “procedural.”
Memo copy ready meliputi semua fakta yang sudah diverifikasi dan bisa diatribusikan dengan jelas (beda-kan antara ‘off the record’ atau ‘background’ dengan ‘at-tribution’ and ‘not to be quoted’ dan beri kotak dalam jolt note). Memo jenis ini disusun dalam blok-blok yang kelak bisa dipakai dengan mudah dalam sebuah laporan.
Memo ini jelas bukan cerita. Ia bukan cerita jadi karena blok-blok tersebut masih
harus diatur dalam komposisi yang siap untuk publikasi. Ia belum memiliki jembatan, lead atau detail lain. Namun memo juga tidak perlu me-ngikuti aturan ‘awal, tengah dan akhir.’ Memo ini secara sederhana hanya sekumpulan blok-blok yang dibuat berdasarkan perkembangan harian atau dua harian untuk dipakai dalam konstruksi laporan lebih lanjut.
Memo prosedural meliputi semua fakta yang belum diverifikasi. Teori, spekulasi dan tip termasuk dalam ka-tegori ini. Sebuah sumber bisa menghasilkan dua ma-cam memo. Dalam kasus Kebumen misalnya. Seorang perwira militer mengatakan bahwa Prabowo Subianto ada di Kebumen pada saat yang hampir bersamaan de-ngan terjadinya huru-hara untuk menengok kuburan ka-keknya. Ini fakta yang sudah diverifikasi. Namun ketika perwira ini berspekulasi bahwa Prabowo terlibat keru-suhan, kita harus memasukkannya dalam memo pro-sedural.
Semua memo ini disentralisasikan pada suatu lokasi yang disepakati bersama. Karena ini sudah jaman internet, memo sebaiknya dikirimkan lewat internet ke-pada koordinator tim bersangkutan. Ia akan menge-ditnya menjadi memo ‘copy ready’ yang lebih baik dan nantinya akan menyimpannya di database.
Pengiriman memo harus memenuhi jadwal yang telah ditentukan bersama. Bersama dengan datangnya me-mo-memo ini, koordinator tim bisa melakukan diskusi dengan anggota-anggota timnya. Kalau perlu ada perba-ikan atau pengejaran hal tertentu bisa segera diputuskan. Syukur bila database memo ini bisa diletakkan dalam web server yang dilengkapi dengan password. Server ini sebaiknya dilengkapi dengan search engine sehingga bisa diakses oleh semua anggota tim tanpa harus mene-rima email setiap hari.
Bila semua bahan sudah lengkap dan penulisan final sudah siap dilakukan, wartawan yang bertugas menulis dengan mudah bisa memanfaatkan memo-memo ter-sebut. Kalau ia harus menulis laporan sepanjang 10,000 kata, katakanlah, ia harus membaca memo-memo se-panjang 100,000 kata. Sistem ini juga dengan mudah bisa mengatasi proyek yang terbengkalai gara-gara reporternya mengundurkan diri. Database ini sebaiknya disimpan. Database ini jangan dibuang setelah proyek berakhir. Greene memiliki database sejak tahun 1972. Dan dalam banyak hal, blok-blok yang semula tidak kita pakai, lima atau sepuluh tahun lagi, ternyata menjadi sangat berguna.
Investigasi memang akhirnya menjadi sebuah pekerjaan yang bukan saja makan waktu, sulit, penuh disiplin tapi juga berbahaya. Namun resiko besar ini yang tam-paknya justru membuat investigasi makin diminati oleh wartawan yang suka tantangan, maupun masyarakat pembaca suratkabar, pendengar radio maupun pemirsa televisi. Kompetisi media yang makin ketat membuat ke-mungkinan untuk membuat investigasi makin meningkat. Namun kompetisi ini bisa jadi lunak apabila pola kepemilikan media justru didominasi kelompok-ke-lompok bisnis yang lebih cenderung mengejar hardnews daripada analisa dan kedalaman suatu berita. Apapun yang terjadi, investigative reporting adalah salah satu pengembangan jurnalisme yang paling memikat, paling menantang, paling mahal dan paling tinggi resikonya. Singkat kata, selamat berpetualang dan bersenang-senang dengan investigasi!

Merajut Fakta dengan Feature

June 9, 2008 · Filed Under jurnalisme · 2 Comments 


ADA berita, ada feature. Sebenarnya, apakah beda antara keduanya? Feature adalah juga berita. Unsur-unsur 5 W + 1 H harus ada padanya. Tetapi, Feature adalah berita yang sudah dikreasikan sedemikian rupa, sehingga fungsinya tidak sekadar menyampaikan informasi.

Ketika seorang tokoh meninggal dunia, berita biasa hanya akan memuat data dimana dia meninggal, pada usia berapa, apa penyebabnya, apa yang membuat dia jadi tokoh, dimakamkan di mana, dan seterusnya. Te-tapi, pada sebuah feature, ketokohannya bisa digali lagi lebih dalam. Kisah-kisah hidupnya, yang unik, menarik dan bisa memberikan iktibar bagi pembaca diceritakan lagi. Komentar kerabat dekatnya diberi tempat.
Itulah fungsi feature. Bentuk tulisan ini leluasa menam-pilkan sosok manusia, menampilkan warna-warni hidup, memberi pencerahan, sekaligus menghibur. Fungsi ini terlalu berat kalau harus diemban oleh berita yang sudah dikenali perangainya sebagai sesuatu yang harus hadir dengan cepat.
Feature juga pas ketika dipakai untuk menulis hal-hal yang kecil, tetapi menarik, yang tak akan pernah jadi berita besar kalau ditulis dalam bentuk berita. Misalnya, minuman ringan paling populer saat ini, yaitu Coca Cola, ternyata lahir setelah John Pemberton, si peraciknya, sakit kepala. Sejarah lahirnya es krim, juga menarik ditu-lis dalam bentuk Feature. Tulisan ilmiah populer sering-kali – atau bahkan selalu – ditulis dalam bentuk feature.
Karena itu, dalam persaingan berbagai bentuk media sekarang, terutam dengan televisi, maka media cetak mau tak mau harus menampilkan kedua bentuk tulisan ini: berita dan feature. Lalu bagaimana menuliskan feature itu?

Jauhi piramida terbalik
Feature, jarang sekali ditulis dalam bentuk piramida terbalik. Feature kebanyakan ditulis dalam bentuk naratif yang kronologis dan berakhir pada klimaks di akhirnya. Atau bisa juga dipakai bentuk penulisan jam pasir.

Pilih Tema.
Pertanyaan yang harus diajukan sebelum memilih dan memutuskan tema feature kita adalah: Apakah tema ini sudah pernah ditulis orang lain sebelumnya? Apakah ceritanya menarik bagi sebagian besar pembaca? Apakah ceritanya bisa menarik emosi pembaca? Apa yang membuat cerita itu menjadi berharga untuk ditu-liskan?

Lead yang menohok.
Tulislah lead yang mengundang pembaca. Sebuah le-ad ringkasan atau rangkuman bukan pilihan yang ter-baik. Lead sebuah feature fungsinya memang sepe-nuhnya untuk menggoda pembaca, maka hindari me-nempatkan unsur-unsur berita yang kering di lead itu. Hingga paragraf ketiga pada sebuah feature yang baik, pembaca harus benar-benar dipikat untuk terus tergoda membaca hingga tulisan selesai. Nah, barulah pada pa-ragraf keempat, apa yang ingin kita kisahkan mulai dima-inkan.

Isi Berita
Informasi penting dalam sebuah feature disajikan sese-dap-sedapnya dalam isi berita. Kelihaian menyusun ka-ta, menghibur dan memainkan emosi pembaca berda-sarkan fakta-fakta yang sudah kita kumpulkan diperta-ruhkan disini. Itulah sebabnya, maka kadang, seorang penulis terjebak memasukkan opininya di sini. Ketimbang beropini, kita bisa mendukung tema feature kita dengan kutipan, data, dialog, dan informasi pendu-kung lainnya.

Penutup Istimewa.
Akhirilah feature kita dengan penutup yang istimewa. Itu bisa dilakukan dengan merujuk ke lead, sehingga pembaca diberi kejutan atau bisa menyimpulkan sen-diri. Penutup feature bisa juga berupa klimaks dari kro-nologi yang sudah dikisahkan sebelumnya.
Seperti Rajutan
Karena feature biasanya ditulis panjang, maka buat-lah tulisan kita seperti rajutan: saling bersambung tak putus! Karena itu penting dilatih keterampilan meng-hu-bungkan lead, isi dan akhir cerita dengan kalimat-kalimat transisi yang tidak kaku. Selang seling antara kutipan ucapan dalam kalimat langsung dengan paraf-rase bisa sangat membantu. Juga kalau kita lengkapi feature kita dengan dialog antara tokoh-tokoh yang men-jadi tema tulisan kita.

Feature, Enaknya Pakai Contoh

Misalnya kita pulang dari peliputan di Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Hari itu dibahas Laporan Pertanggungjawaban Wali Kota. Salah satu yang menjadi sorotan anggota DPRD adalah pening-katan jumlah penduduk miskin. Jika kita memberitakan itu apa adanya sesuai dengan apa yang kita dapatkan dalam sidang DPRD itu, kita mendapatkan sebuah berita yang bagus dan menarik perhatian. Bisa jadi ma-salah itu akan jadi pembicaraan selama berhar-hari.
Mestinya kita tidak berhenti pada data saja. Kita bisa membuat berita lain dari isu kemiskinan itu dengan tuli-san yang lebih menyentuh perasaan pembaca. Kita perlu menuliskan beritanya dalam bentuk feature. Istilah ini dipakai untuk tulisan khas di surat kabar atau maja-lah yang bentuknya bukan berita biasa. Bukan straigth news. Tulisan yang disusun seperti kisah. Karena itu, tulisan ini kerap kali mengambil tema yang menyentuh hati manusia, human interest.
Untuk contoh isu kemiskinan tadi, apabila kita ingin membuatnya jadi feature, kita bisa melengkapi bahan-bahan tulisan dengan mengamati, mewawancarai, men-deskripsikan salah satu penduduk kota atau salah satu keluarga yang miskin atau kalau bisa yang paling miskin. Berapa kali dia makan sehari, bagaimana mereka men-cari nafkah, dari mana asalnya, dll. Lalu yakinlah kisah keluarga miskin tadi menjadi contoh yang pasti lebih me-nyentuh ketimbang sekadar berita yang memuat angka-angka statistik tentang kemiskinan yang kita dapatkan dari rapat di kantor DPRD. Apalagi kalau isinya cuma ungkapan-ungkapan keprihatinan dari pejabat.
Tak ada cara lain yang lebih manjur untuk melatih ben-tuk tulisan ini selain mencoba dan mencoba. Apa yang dilakukan Sultan Yohana berikut ini bisa jadi contoh. Baca juga bahasan Farid Gaban, moderator milis jurnalisme atas feature itu. Banyak hal bisa dipelajari. Ini Beritanya:
Saat Perang Aceh Terus Berkecamuk
(Derita Suami Istri Pengedar Ganja)
Wajah Yusnidar (34 th) begitu kentara menyiratkan ketakutan luar biasa. Saat beberapa kamera beserta mikrophone disodorkan tepat di wajahnya, oleh beberapa reporter televisi.”Sudahlah mas, saya mohon, cukup-cukup,” katanya sambil mencoba menyembunyi-kan wajahnya di tubuh suaminya, Hendra (37 th).
Suami istri itu Jumat (1/8) sekitar pukul 15.00 WIB, ditangkap jajaran Satuan Narkoba Poltabes Barelang, di depan Supermarket Kawi Jaya Nagoya Batam. Dugaan awal, keduanya adalah pengedar ‘daun surga’. Dari tangan wanita asal Aceh tersebut, polisi berhasil menyita 10 paket hemat ganja, yang masing-masing dijualnya dengan harga Rp5 ribu.
Bahkan, saking takutnya saat proses penankapan diri dan suaminya, celana warna hijau sepanjang lutut yang dikenakannya itu, basah oleh air kencing. Sesaat sete-lah digeladang ke kantor polisi, keduanya duduk di lan-tai keramik putih pojok ruang tamu. Sementara anak-nya, Putri (3,5) mulutnya sibuk mengemot susu botol, erat berada di dekapan sang ayah. Tak tahu bahwa ke-dua orang tuanya sedang menghadapi masalah besar.
Sesekali gadis berpipi montok itu ikut nangis, melihat bapak dan ibunya menangis,” Sudahlah pak jangan menangis,” kata Yusnidar sambil mengusap air mata suaminya dengan telapak tangan kanannya, se-men-tara tangan kirinya berusaha meraih sang buah
hati dari dekapan sang suami.
Namun masih saja beberapa kamera televisi menga-rahkan lensanya ke wajah ketiga orang itu. Sambil tak henti-hentinya mencecar berbagai pertanyaan dan ber-usaha mengambil gambar yang paling menjual . Meli-hat itu, tak pelak, tangis Hendra semakin berderai. Dibi-arkan saja air mata meleleh dengan deras dari kedua matanya yang memerah. Hendra hanya bisa melawan situasi yang demikian dengan menutupi wajahnya de-n
gan kedua telapak tangan.
Yusnidar mengaku terpaksa menerima profesi se-bagai pengedar ganja, saat Ali (tersangka yang meni-tipkan ganja untuk mereka jual,red) menawari keluar-ga yang baru dua bulan datang ke Batam. ‘’ Kami tak ada pekerjaan lagi mas,” kata wanita yang kelihatan berusia lebih tua dari aslinya.
Mereka terpaksa datang ke pulau ini, karena merasa di tempat asalnya, sudah tak lagi mempunyai masa depan yang menjanjikan. Perang saudara terus saja bergejolak di bumi rencong itu. ‘’Di sana tak henti-hen-tinya perang,” tambah Yusnidar sambil terus mem-bu-juk suaminya agar berhenti menangis.
Dari penjualan ganja mereka mengaku, tiap hari ber-hasil menjual kurang lebih 10 paket. Per paket mereka mendapatkan untung sebesar Rp3 ribu. ‘’Semuanya itu untuk makan kami dan membeli susu anak saya,” timpalnya lagi.
Profesi kepepet itu, dilakukan baru satu bulan, Nidar, demikian wanita dipanggil, tahu bahwa apa yang dila-kukan ini adalah hal yang melanggar hukum. Namun bagaimana lagi, sang suami yang berbekal tamatan sekolah dasar, sudah berusaha semampunya untuk mencari kerja yang layak. Karena apa yang diharap-kan ketika datang ke Batam ini, tak menjadi kenya-taan, dan akhirnya terpaksa menjadi pengedar ganja, keduanya memutuskan dia untuk kembali ke Aceh.
‘’Rencananya besok kami pulang. Lebih baik di kampung halaman dari pada menjadi pengedar seperti ini. Kami terpaksa berjualan itu, juga untuk mencari ongkos pulang,” kali ini tangisnya bertambah deras. ‘’ Mas bisakah polisi melepas kami kalau kami langsung pulang,” tanyanya lagi kepada wartawan koran ini dengan wajah polosnya. [sultan]
Berikut ini pembahasan Farid Gaban.
Tema Tulisan
“Pasangan muda yang terpaksa mengungsi dari pe-rang di Aceh dan menjadi pengedar ganja di Batam ka-rena mengganggur.” Kisah seperti ini sangat sarat de-ngan nuansa “human interest”. Tak salah jika Sultan me-milihnya sebagai tema feature, ketimbang sekadar berita langsung (straight-news). Ada perang. Ada pengungsian. Ada pengangguran/kemiskinan.

Pentingnya Feature
Tidak sekadar kisah “human interest”, tulisan seperti ini sangat kuat mengajak pembaca merenungkan beta-pa perang memiliki implikasi yang luas dan mendalam, terutama bagi kehidupan orang per orang. Tulisan seperti ini sangat menggugah dan potensial mempengaruhi perubahan kebijakan [misalnya mengilhami gerakan perdamaian dan bahkan perundingan damai].
Kita mungkin masih mengingat Perang Vietnam. Ra-tusan ribu tewas dalam perang itu, namun salah satu a-degan powerfull yang diingat banyak orang tentang ke-jamnya perang ini adalah sebuah foto yang menggam-barkan seorang anak perempuan telanjang menangis meninggalkan ledakan di latar belakangnya, atau seo-rang polisi tengah menembakkan peluru ke kepala kor-bannya. Dua foto itu bicara tentang manusia bukan ten-tang perang yang impersonal, dan sangat berpe-ngaruh pada munculnya gerakan anti-perang di Amerika.
Ketimbang hanya memfokuskan diri pada berita dan statistik perang, Sultan di sini mencoba menyodorkan “wajah manusia”—bukan sekadar angka. [Masih ingat kata Lenin: “Seratus ribu orang tewas adalah statistik, satu tewas adalah tragedi.”?]
Hal yang sama saya coba dalam liputan Perang Bos-nia [Dor! Sarajevo, Mizan, 1994]. Membaca ulang kumpulan tulisan itu, saya harus katakan tidak seluruh eksperimen tadi berhasil. Namun, yang ingin saya tun-jukkan, saya tidak sekadar meliput dar-der-dor, tapi me-rekam kehidupan sehari-hari penduduk Sarajevo yang selama setahun lebih terkepung oleh blokade—lengkap dengan ketakutan dan kegilaannya.Meski memakai pendekatan feature, Sultan belum mengerahkan semua elemen feature dalam tulisan ini, dan terutama dalam penggalian bahannya.

Kedalaman
Berita ini hanya bersumber pada adegan di kantor po-lisi. Sultan di sini bahkan tidak melakukan wawancara sendiri terhadap obyek tulisannya. Dia hanya melihat dan mendengar. Dia tidak bertanya.Jika kita ingin mem-buat feature yang bagus, wawancara yang lebih menda-lam merupakan keharusan.

Personal.
Jika Sultan bisa melakukan wawancara yang lebih pan-jang, pembaca mungkin akan mengetahui secara lebih lengkap profil keluarga yang malang ini, termasuk menguji fakta benarkah mereka hanya “pengedar yang terpaksa” atau “pengedar profesional”.
Dari Aceh bagian mana mereka datang? Kenapa me-reka memutuskan mengungsi? Kapan mereka meng-ungsi ke Batam? Apa pekerjaan mereka di Aceh sebe-lum operasi militer? Bagaimana pula gambaran hidup sehari-hari mereka di sana? Dengan cara bagaimana mereka datang dan hidup di Batam? Seperti apa kesu-litan sehari-hari yang mereka hadapi di Batam?

Konteks dan Signifikansi
Tulisan yang bagus adalah seperti kerja kamera tele-visi yang bagus. Kamera bergerak hidup dari narasi, close-up, kutipan dan wide-angle. Kisah tentang Yus-nindar dan Hendra adalah “close-up”. Sultan perlu me-lengkapinya dengan “wide-angle”, menempatkan kisah mereka dalam latar yang lebih luas; untuk memper-lihatkan betapa kasus mereka ini memang signifikan (penting) untuk ditulis. Di sini Sultan perlu menambahkan informasi dasar tentang konflik di Aceh dan implikasinya (meski tidak perlu berpanjang lebar):
— Sedikit kilas balik tentang operasi militer terakhir.
— Data pengungsi Aceh (versi pemerintah atau LSM).
— Berapa banyak kira-kira pengungsi Aceh di Batam?
— Bagaimana hidup rata-rata mereka?
— Apakah Batam menjadi tujuan utama?
— Bagaimana pengungsi di Batam diurus pemerintah?
Masih menyangkut konteks, Sultan mungkin perlu sedikit menambahkan data yang bisa menunjukkan apakah menjual 10 bungkus ganja sehari itu merupakan kejaha-tan kecil-kecilan atau kejahatan besar, terutama dalam lingkup Batam. Sultan bisa tanya polisi, berapa banyak penjahat yang ditangkap basah mengedarkan ganja; apakah ada kecenderungan meningkat; dan berapa ra-ta-rata ganja yang berhasil dirampas dari seorang penjahat di sana?
Show it, don’t tell it. Jangan katakan! Tunjukkan! Dalam feature sebaiknya kita menghindari kata sifat (bagus, cantik, luar biasa, marah). Jangan katakan mereka me-ngalami “ketakutan luar biasa”. Tunjukkan betapa mereka memang benar-benar takut (“kencing di celana” adalah ilustrasi yang kuat untuk menunjukkannya).
Lead tulisan ini bahkan lebih kuat jika Sultan memakai ilustrasi tadi, dibanding memakai narasi subyektif (“ken-tara menyiratkan ketakutan luar biasa”). Tapi, di sini mesti hati-hati; bagaimana Sultan tahu celana itu basah karena air kencing, bukan karena tumpahan air?
Sultan telah membuat deskripsi dan kutipan secara efektif. Ini merupakan modal penulis feature yang bagus.
“Setelah digelandang, pasangan suami-istri itu dibi-arkan duduk di lantai keramik ruang tamu kantor polisi. Celana hijau Yusnindar sepanjang lutut nampak ba-sah. Bau pesing menguap ke udara. Hendra, sang su-ami, menangis berurai air mata, sambil mendekap bayi mereka yang baru berusia tiga tahun, yang sesekali merengek dan menyedot botol susu. Beberapa kali Hendra menutup wajahnya dengan dua telapak tangan untuk menghindari terkaman kamera televisi.”Semu-anya itu untuk makan kami dan membeli susu anak saya,” kata Yusnindar. “Kami juga terpaksa ber-jualan [ganja] untuk mencari ongkos pulang [ke Aceh].” kuti-pan yang sangat menyentuh.

Penulisan Nama
Meski ada orang Indonesia yang punya nama dengan satu kata (Soeharto, Slamet), kebanyakan nama mereka terdiri atas dua kata (nama depan dan nama belakang/nama keluarga). Bagaimana dengan Yusnindar dan Hendra ini? Saya khawatir Sultan tidak menanyakan dan mencatat nama lengkap mereka.
Apakah itu penting? Penting. Menanyakan nama leng-kap tidak hanya menunjukkan sikap teliti sebagai warta-wan, tapi juga menunjukkan kepedulian. Banyak warta-wan tidak terlalu peduli pada orang miskin (atau penjahat kecil-kecilan), sehingga berpikir nama mereka tidaklah penting. Jika soal nama ki
ta tak peduli, bisakah diharap kita peduli dengan nasib mereka (termasuk kemungki-nan tersangka itu tidak bersalah)?

Angka dan Ukuran
Sultan menulis: “…polisi berhasil menyita 10 paket he-mat ganja, yang masing-masing dijualnya dengan harga Rp 5 ribu.” Istilah “paket hemat” perlu penjelasan lebih lanjut. Apa yang dimaksud? Berapa gram? Adakah “pa-ket yang tidak hemat”? Apakah Rp 5 ribu itu murah, atau mahal untuk ukuran Batam?

Ending Tulisan
Kalimat ini tidak terlalu jelas bagi saya [‘’Mas, bisakah polisi melepas kami kalau kami langsung pulang?” ta-nyanya.] Sultan bisa menemukan kutipan yang lebih bagus untuk mengakhiri tulisan ini secara meyakinkan jika, seperti awal sudah dikemukakan, Sultan lebih banyak menggali pertanyaan dari obyek tulisannya.

Next Page »