Menulis Berita Ekonomi Bisnis
Berita ekonomi dan bisnis, bagi negara seperti Indonesia, terus menempatkan diri pada posisi yang semakin penting. Dan pers bertambah sadar bahwa berita ekonomi dan bisnis bukanlah subjek yang sebaiknya ditempatkan di halaman tersembunyi. Berita ekonomi dan bisnis mempengaruhi siapa pun, dari bankir hingga mereka yang membeli roti atau beras di pasar. Simak apa kata sebuah koran terkemuka tentang berita ekonomi dan bisni
Sejak Program penyesuaian struktur ditetapkan sebagai langkah besar pertama dalam usaha pemerintah untuk mengubah keadaan ekonomi, istilah-istilah seperti Pasar Valuta Asing Lapis Kedua, pem-bayaran utang, penjadwalan kembali utang, pasar otonom, dll. Men-jadi rutin terbaca oleh warga biasa Nigeria.
Namun ada dua masalah dasar menyangkut berita-berita ekonomi dan bisnis. Yang kerap muncul adalah: Satu, rumit; dan Dua, men-jemukan. Penulis pada koran terkemuka tersebut benar tentang ma-kin sadarnya warganya pada isu-isu ekonomi. Namun bisa dipastikan kebanyakan warga sudah je-mu pada program dan lembaga yang disebutkannya– setidaknya dibandingkan dengan skandal-skandal politik yang tengah terjadi. Yang terutama menjadi penyebab adalah rumitnya berbagai program dan lembaga itu.
Istilah seperti Pasar Valuta Asing Lapis Kedua mungkin sudah men-jadi buah mulut warga kebanyakan, tapi mudah disangsikan banyak dari mereka – bahkan profesional terdidik sekalipun – yang mema-hami artinya. Seperti halnya orang di mana pun, kebanyakan warga tak belajar menjadi ekonom.
Jadi, apa tujuan seorang wartawan ekonomi dan bisnis? Jelas, yang terutama ingin dicapainya adalah melaporkan berita sea-kurat mungkin – sebuah misi luar biasa penting pada subjek yang memungkinkan seseorang kehilangan keberuntungan hanya karena salah meletakan titik atau koma pada deretan angka. Namun jika berita ekonomi dan bisnis pada hakikatnya kerap rumit dan mem-bosankan, ada tujuan lain yang tak kalah utamanya – menjadikan berita ekonomi dan bisnis: Satu, bisa dipahami; dan Dua, menarik. Kedua tujuan itu sama pen- tingnya baik di Lagos, di Lahore, di London, maupun Los Angeles. Bagaimana kita bisa membuat berita ekonomi dan bisnis mudah dipahami? Ada seorang redaktur yang, suatu ketika, mengatakan wartawan ekonomi dan bisnis yang baik harus mengikuti tiga aturan. “Yang pertama, “katanya, “adalah men-jelaskan. Yang kedua….. menjelaskan. Yang ketiga…..” – kita pasti bisa menebaknya.
Tapi sebelum wartawan bisa menjelaskan kepada orang lain, mere-ka sendiri harus memahami apa yang harus dijelaskannya. Dan un-tuk memahami, kerap mereka harus mengakui bahwa mereka memang tak tahu. Ini tak mudah.
Wartawan tergolong yang gengsian. Kalau kita benar wartawan, kita pasti tahu ini. Tak seorang pun mau mengakui kebodohan mereka, terutama bila seorang pejabat pemerintah atau seorang penting la-innya memanfaatkan peluang itu untuk menyepelekan. Tapi war-tawan, bagaimanapun, adalah komunikator, bukan ahli yang tahu segala hal; dan wartawan berkewajiban menyampaikan (berita) ke-pada pembacanya. Jika wartawan tak paham, pembaca pun tak akan bisa mencerna apa yang disampaikan. Jangan biarkan gengsi mem-buat lidah kita erat mengatakan, “Maaf, saya tak paham. Bisakah Anda menjelaskannya pada saya?”
Benar, seorang wartawan perlu memperhitungkan pembacanya ke-tika menulis berita, dan tak ingin menyepelekan. Namun lebih banyak penjelasan biasanya lebih baik ketimbang hanya sedikit. Pembaca yang cangih sekalipun perlu disegarkan ingatannya tentang konsep-konsep ekonomi. The Wall Street Journal bisa menjadi salah satu Koran terlaris di AS, tanpa kehilangan prestisenya, sedikit pun, ka-rena menyajikan berita ekonomi dan bisnis dengan penjelasan-pen-jelasan bagi pembaca yang bukan ekonom dan ahli bisnis. Tujuan Journal ekonomi dan bisnis – bukan mengecualikan mereka, seolah-olah bisnis adalah semacam kelab terbatas.
Setelah membuat berita ekonomi dan bisnis bisa dipahami, bagai-mana kita menjadikannya menarik? Jawaban pendeknya adalah: Pu-satkan sedikit saja pada statistik dan lebih banyak pada orang. Yang menjadi alas an orang di mana pun untuk lebih memilih berita tentang skandal politik mutahir ketimbang berita tentang pasar “Pasar Valuta Asing Lapis Kedua” adalah karena berita tentang skandal jelas me-libatkan banyak orang.
Ini bukan berarti kita sebaiknya hanya mengejar-ngejar skandal bis-nis. Ekonomi dan bisnis pada dasarnya menyangkut orang. Peru-bahan ekonomi mempe-ngaruhi sehari-hari orang. Bisnis penuh de-ngan drama kemanusiaan yang mencakup sukses, kegagalan, dan pergulatan antarpesaing untuk saling menyingkirkan. Tip-tip yang akan disarankan di sini ber-kaitan dengan cara mencapai dua tujuan ini: menjadikan berita dan bisnis mudah dipahami dan manarik. Sejumlah saran yang ada agak tak lazim; tapi akan baik jika dijadikan sebagai bahan diskusi.
Untuk memberikan ilustrasi disertakan kutipan dari sejumlah koran di Afrika Barat, India, dan di tempat-tempat lain di negara yang sedang berkembang. Beberapa kutipan sengaja diringkas karena keter-batasan ruang atau untuk menghindari dikenalinya koran atau peru-sahaan yang bersangkutan. Prinsip dasar jurnalistik bersifat univer-sal. Karenanya, tip-tip yang disarankan kebanyakan bisa diterapkan di mana pun profesi wartawan dijalankan. Kepentingan pembaca, bagaimana mereka bias memahami dan tertarik pada apa yang kita sajikan, betapa pun tujuan utama kita, kan?
1. Jangan Berkawan dengan Jargon
Simak kalimat dari laporan sebuah radio ini: Pejabat menyeru produsen barang-barang industri, konsumsi, dan produk-produk lain di dalam negeri agar terlibat dalam kampanye pengunaan bahan-ba-han dasar dari dalam negeri.
Gaya sangat akrab. Tapi apa maksudnya? Dalam bahasa seder-hana, pejabat itu semata mendesak agar industriwan dalam negeri mengunakan bahan-bahan mentah dari dalam negeri. Jadi, mengapa si wartawan tak mengatakaan begitu? Sayang, banyak wartawan terlalu kerap tergelincir ikut memamerkan jargon-jargon yang memusingkan dari ekonom, bankir, dan pejabat pemerintah ketimbang mengunakan bahasa yang digunakan banyak orang dalam percakapan sehari-hari. Bagi ekonom, jargon-jargon itu bukan masalah; mereka saling memahaminya – atau setidaknya ber-pura-pura begitu. Sebaiknya, bagi pembaca kebanyakan, jargon ekonomi membingungkan dan membosankan.
Istilah-istilah sulit serupa itu bisa tercetak karena begitu mudahnya mengulang kata-kata birokrat, ekonom, bankir, atau siaran pers ketimbang menerjemahkan ke dalam bahasa sehari-hari. Wartawan pun kadang-kaang senang pamer kepada pembaca, dan mereka percaya jargon akan dilihat sebagai tanda kemajuan pendidikan dan kecerdasan mereka.
Namun sering wartawan sendiri tak paham apa yang dimaksud dengan jargon tertentu dan karenanya merasa aman untuk menulis-kannya tanpa perubahan sedikit pun. Meski sulit mernerjemahkan jargon ke dalam bahasa biasa, wartawan harus berusaha mela-kukannya. Tujuannya: pengguna bahasa sederhana untuk soal-soal yang ruwet. Idealnya, gunakan kalimat pendek, sedikit kata.
Bila berlebihan, penyederhanaan memang berbahaya. Namun bias-nya penyerdehanaan bisa dilakukan dengan selalu berhenti dan ber-tanya apa yang sesungguhnya dimaksud sesuatu jargon. Jika mung-kin, teknik terbaik adalah menanyakannya kepada penceramah yang mengatakannya agar meringkaskaan apa yang dimaksudnya ke dalam bahasa sehari-hari.
Birokrat sering mengunakan jargon karena mengatakan sesuatu secara sederhana akan terlalu blak-blakan. Simak laporan dari sebuah surat kabar Cina ini:
Cina harus berusaha mati-matian menyesuaikan struktur industrinya
untuk memastikan penggunaan dan pengerahan sum-ber-sumber ekonomi secara rasional, kata seorang eko-nom di Beijing akhir pekan lalu. Kepada peserta se-buah simposium internasional ia mengemukakan kon-tra-diksi struktural masih berlangsung di dalam industri Cina.
Paragraf tersebut penuh eufemisme. Bila seorang eko-nom berbicara tentang “pengunaan rasional” dari “sum-ber-sumber ekonomi”, biasanya mereka bermaksud mengatakan perlunya pengur
angan jumlah pekerja – atau, lebih terus terang, memberhentikan pekerja. Jika ini memang yang dimaksud, katakan saja demikian. Dan apa yang dimaksud pembicara itu ketika mengatakan “kontradiksi struktural” masih berlangsung di dalam industri Cina? Jika mungkin tanyakan.
Hindarkan pula pengunaan akronim yang mem-bingungkan bila menyebut nama organisasi atau sesuatu program. Bahkan pada penyebutan kedua, kerap lebih jelas dengan menuliskan nama lengkapnya atau sebagian saja—misalnya Barito ketika menyebut untuk kedua kalinya nama Barito Pasific Timber, ketimbang menyingkatnya menjadi BPT. Wartawan sering ngotot beralasan sesuatu jargon sudah lazim di sesuatu tempat—misalnya “integrasi ke belakang” di Nigeria – sehingga “ setiap orang tahu apa artinya”. Namun bila diminta menjelaskannya, sering terbukti bahwa setiap orang memang tahu kecuali sang wartawan. Itulah tanda bahwa wartawan telah menjadi korban bahaya jargon ekonomi, terlalu sering mendengarkannya sehingga seperti lazim. Reporter harus terbiasa terus menerus bertanya: Bisakah ini dikatakan secara lebih jelas?
2. Definisikan Istilah Ekonomi
Bila tak bisa menghindarkan jargon ekonomi, definisikan. Beberapa istilah ekonomi memang punya arti khusus yang jika ditanggalkan bakal membingungkan. Namun ingat, bagi banyak orang, istilah-istilah itu masih me-rupakan kode kata-kata yang misterius; Wartawan harus memecahkannya. Ini ringkasan dari sebuah artikel di halaman depan Daily Times, sebuah koran Nigeria:
Suku bunga antarbank, yang relatif stabil dalam tiga bulan terakhir, melonjak tiga persen pekan lalu….
Di bagian tengah berita yang sama, sang reporter me-nulis: Suku bunga antarbank adalah suku bunga pinja-man yang diberlakukan oleh bank kepada bank lain dan biasanya menjadi faktor dasar yang dipertimbangkan oleh bank dalam menetapkan suku bunga pinjaman
nasabahnya…..
Bravo! Tanpa definisi yang sangat membantu itu, tulisan tersebut jelas akan menjadi tak berarti bagi banyak pem-baca yang buta suku bunga antarbank. Definisi seperti itu sangat jarang ada dalam berita-berita bisnis.
Beberapa wartawan mengatakan bahwa definisi boleh-boleh saja untuk berita halaman depan sebuah koran umum, tapi pembaca halaman bisnis atau publikasi bisnis sudah sangat kenal dengan isti-lah-istilah ekonomi.
Mungkin. Tapi The Street Journal, yang pembacanya adalah kelompok yang cukup canggih, mendefinisikan bahkan istilah-istilah ekonomi yang sudah sangat biasa. Misalnya ketika istilah Produk Nasional Bruto (PNB) pertama kali muncul dalam sebuah berita, ini akan diikuti oleh penjelasan bahwa PNB adalah “nilai total barang dan jasa yang dihasilkan oleh sebuah negara”.
Sebelumnya telah dikatakan bahwa seorang wartawan harus berusaha mengunakan sedikit saja kata. Mendefinisikan, istilah, jelas, membutuhkan kata-kata ekstrak, Namun kejelasan lebih penting ketimbang keringkasan. Dan sebuah definisi yang berkepanjangan tak selalu perlu bila contoh ringkas bisa memperjelas makna sebuah istilah. Contohnya sebuah berita mungkin menyebutkan sebuah perusahan memberikan “fasilitas dan tunjagan, seperti cuti tahunan dan asuransi kesehatan”.
Tapi sering definisi panjang dibutuhkan. Sebuah koran Nigeria memuat artikel tentang pro kontra terhadap “konversi utang” – tanpa sekalipun mendefinisikannya! Sebuah penjelasan sederhana mungkin menyatakan: “Konversi utang adalah skema pembebasan Nigeria dari utangnya cara menukar utang dengan saham peru-sahaan-perusahaan Nigeria.”
Definisi objektif itu kelihatan mudah, tapi sesunguhnya sulit dituliskan. Itulah sebabnya reporter atau media masa tempat mereka bekerja harus membuat definisi yang bi-sa dengan mudah dikutip dan disisipkan ke dalam se-buah berita bila suatu istilah dipakai. Daftar serupa ini, tentu saja, tak mungkin diciptakan dalam semalam; ini akan berkembang seiring dengan berjalannya waktu.
Beberapa istilah yang biasa dipakai pijakan: neraca pembayaran, suku bunga utama, Dana Moneter Internasional, devaluasi, swasta-nisasi, Perjanjian Umum tentang Perdagangan dan Tarif atau GATT,
3. Gunakan Statistik secara Seletif
Berita bisnis biasanya mengandung terlalu banyak ang-ka. Meski angka yang penting bisa menjadikan berita lebih berwibawa dan akurat, wartawan harus me-ninggalkan angka-angka yang tak penting benar. Ini tam-paknya saran yang ganjil bagi wartawan bisnis, yang ba-han mentahnya kerap semata berupa angka dan stasitik. Namun memang banyak pembaca yang memandang angka terlalu kering dan sulit dicerna. Coba Tanya seseorang yang telah berusaha keras membolak-balik beberapa halaman tabel stasistik. Akibatnya, sebuah berita dengan begitu banyak angka menjadi—tebak sen-diri—membosankan dan sulit dipahami.Jika perlu, tam-bahan informasi yang bersifat statistik bisa dimasukan menjelang bagian akhir berita, khusus untuk pembaca yang tertarik pada detail. Dengan mengangkat begitu banyak angka di bagian atas berita, sang wartawan telah memaksa banyak pembaca enggan menyimak isi berita selebihnya.
Mengapa wartawan begitu kerap membebani berita dengan banyak statisitik? Hanya ada satu jawaban: me-reka menunjukan kepada pembaca (atau redaktur) bah-wa mereka menempuh segala kesulitan untuk menda-patkannya. Karena telah mencatat statistiknya, sang war-tawan ingin menumpahkan seluruhnya ke dalam berita. Namun karena membekukan benak pembaca, statistik sebaiknya digunakan secara selektif. Pembaca umum tak membutuhkan seluruh data—dan pembaca ahli—biasanya sudah punya sendiri.
Jika reporter dan redaktur mengira bahwa kepada pembaca perlu disajikan seluruh data yang ada, pemanfaatan bagan dan tabel akan lebih tepat -lebih mencuri perhatian dan mudah di pahami. Terkadang
wartawan seperti nyaris terobesisi oleh angka, misalnya ketikan mereka melaporkan nomor polisi kendaraaan atau nomor cek suatu bank. Di negara yang peme-rintahnya kerap mempertanyakan akurasi pers, mungkin ini perlu. Tapi biasanya informasi semacam ini tak me-nambah banyak peran pada berita kecuali menunjukan – sedikit berlebihan – bahwa sang wartawan benar-benar melakukan telah tugas.
Bila memang dipakai, angka terkadang bisa dibuat se-sederhana mungkin dengan cara membulatkannya atau memakai pendekatannya. Jelas, dalam beberapa segi pelaporan kegiatan bisnis, kete-patan sangat diperlukan; untuk harga saham dan komoditas, misalnya, fluktuasi sedikit saja sangat berarti. Tapi pada banyak keadaan seorang reporter cukup mengatakan “kira-kira separo” ke-timbang “49 persen” atau “hampir lipat tiga” ketim-bang “naik 295 persen”.
4. Bandingkanlah setiap Statistik
Bila kita memang mengutip statistik dalam sebuah berita, akan baik bila kita menempatkannya dalam kon-teks dengan cara membandingkannya dengan hal lain. Sebuah angka tak akan berarti apa-apa bila berdiri sendiri; maknanya yang sebenarnya muncul dari nilai relatifnya. Sebagai acuan, selalu ajukan pertanyaan ini pada diri sendiri, terutama bila hendak membubuhkan angka pada berita yang tengah ditulis: Dibandingkan dengan apa? Ini kebiasaan baik.
Banyak statistik bisa dibandingkan dengan statistik yang sama dari periode lain-umpamanya tahun lalu. Angka-angka itu pun bisa dibandingkan dengan statistik yang sama dari tempat lain-misalnya negara tetangga atau perusahaan pesaing. Jika angka yang dimaksud mewakili hanya sebagian dari suatu keseluruhan-misalnya laba satu divisi sebuah perusahaan-nilai relatifnya bisa ditunjukkan dengan menyodorkan presentasenya dari angka keseluruhan.
5. Ceritakanlah Statistik
Tapi bahkan membandingkan statisitik pun biasanya tak cukup. Seorang wartawan perlu melakukan hal lain ketimbang sekedar melaporkan angka. Ia harus menje-laskan nilai pentingnya dan mengatakan maknanya. Dan ini kerap tak sangat jelas. Bagaimana kita menjadikan sajian statistik yang bermanfaat itu sebagai sebuah berita yang bermakna? Perbandingan antar-tahun tak cukup untuk mengungkapkan seluruh cerita di balik stastistik. Wartawan harus berhenti sejenak, mencermati seluruh angka di hadapannya, dan bertanya pada diri
nya sendiri: Apa yang sesungguhnya terjadi di sini?
Dengan bertanya—dan menjawabnya—sang reporter bisa menjelajah dimensi lain selain sekedar melaporkan angka, dan karenanya menjadikan stasistik yang ada sebagai sebuah berita yang ber-makna. Dan arti itulah yang harus ditempatkan di beberpa paragraf pertama, bukan angkanya. Dihadapkan pada stastistik kasar, seo-rang wartawan harus bertanya: Apa ini artinya? Jawa-bannya atas pertanyaan ini lebih penting bagi pembaca ketimbang angka-angka yang memunsingkan
6. Cari Sisi lain
Tak ada prinsip utama yang dasar dalam jurnalistik ketimbang meliput dari dua sisi. Tapi betapa seringnya ini dilupakan – atau diabaikan – dalam berita-berita bisnis. Sering seorang reporter menerima pemberitaan rutin sebuah perusahaan, menuliskan beritanya – dan, ya, itu saja. Atau reporter itu mendapatkan informasi rahasia tentang rencana sebuah perusahaan dan segara menuliskannya.
Namun biasanya ada segi lain pada berita-berita seperti itu, dan tak jarang banyak segi. Meski seluruh informasi yang dibutuhkan seorang reporter tampaknya sudah di tangan, bila hanya satu saja sumber informasi, jarang diperoleh gambaran yang lengkap pada sesuatu hal. Reporter harus selalu bertanya-tanya. Dengan me-milih apa yang menarik dalam suatu berita – atau bahkan berita apa yang akan ditulis – seorang reporter sudah memihak. Itulah sebabnya kita harus berusaha mati-matian untuk bersikap adil kepada semua pihak.
Kadang-kadang ‘keberpihakan’ serupa itu bukan timbul akibat kecerobohan atau kemalasan reporter tapi karena adanya “tekanan” dari luar – dari sebuah perusahaan, atau pemasang iklan. (Ada pula, terkadang, “tekanan” dari dalam, dari pemilik koran yang tak ingin
kepentingan bisnisnya – atau teman-temannya – dieksploitasi.)
Sayangnya, keadaan keuangan banyak koran memberi peluang pemasang iklan untuk mendiktekan topik liputan, melemahkan kebebasan editorial. Wartawan profesional hanya bisa berharap agar penerbitan bisa menahan
“godaan-godaan” untuk menukarkan liputan yang positif demi iklan.
Kalau bukan itu yang terjadi, berita yang hanya menampilkan satu sisi saja cenderung menimbulkan kecurigaan pembaca bahwa tulisan yang ada sudah “dibeli” oleh pemasang iklan. Contoh, sebuah majalah bisnis di sebuah negara pengahsil minyak menurunkan laporan lengkap tentang usaha perusahaan minyak setempat untuk melindungi lingkungan.
7. Memanusiakan Berita Bisnis
Berita bisnis memang berhubungan dengan angka. Na-mun lebih dari itu, ia sekaligus juga menyangkut manusia. Bukan sekedar pejabat pemerintah dan eksukutif bisnis dan bankir dan ekonom, tapi manusia
nyata—lelaki dan perempuan yang menjadi konsumen dan pembayar pajak. Ini begitu sering dilupakan oleh wartawan bisinis.
Orang senang membaca drama keberhasilan dan ke-gagalan dan persaingan. Mereka senang mendegar su-ara rata-rata orang dalam kalimat-kalimat sederhana dan bersifat sehari-hari. (kontras dengan kutipan-kutipan
menjemukan dari para eksutif perusahaan, seperti termuat dalam siaran-siaran pers.) Mereka suka deskripsi rinci tentang orang dan peristiwa yang memungkinkan mereka menangkap apa yang sesunguhnya terjadi, seperti menyaksikan film.
Tapi bahkan dalam berita bisnis yang paling dasar pun
wartawan harus mencari sisi-sisi kemanusiannya. Ini biasanya menjadi petunjuk bagaimana wartawan mengaitkan sisi berita dari sebuah cerita. Pembaca biasanya harus bisa menjawab pertanyaan: Bagaiamana berita ini mempengaruhi saya?
8. Tunjukkan Makna Berita Bisnis
Bagi seorang wartawan bisnis, ada kewajiban untuk tak hanya melaporkan apa yang terjadi atau apa yang dikatakan seseorang, tapi juga menjelaskan maknanya. Berita harus lulus “uji lalu apa”
Sebuah tulisan berita harus menjelaskan kepada pembaca apa akibat sebuah peristiwa, mengapa pe-ristiwa itu penting – bagi perusahaan, bagi angkatan ker-ja, bagi,industri, bagi negara. Mengapa pula ia penting bagi pembaca.
Itulah cara terpenting yang memungkinkan wartawan menjadikan sebuah berita bisnis yang rumit menjadi mudah dipahami. Jelas, pertanya-pertanyaan itu tak bisa dijawab dalam satu tulisan saja. Tapi beberapa di antaranya harus. Dan jawabnya harus berada di awal tulisan, bukan tengelam dalam bagian-bagaian yang semakin tak penting. Sebuah laporan berita yang baik haruslah melaporkan fakta-fakta penting di bagian awal, lalu diikuti oleh penjelasan sederhana mengenai maknanya. wartawan bisa – dan harus – menarik simpulan logis dari peristiwa tanpa masuk ke dalam opini yang bisa diperdebatkan atau spekulasi yang tak bisa di-pertanggungjawabkan.
Salah satu cara untuk mengetahui apakah repoter su-dah menerobos wilayah opini yang berlebihan adalah: Bisakah pembaca mengatakan di mana letak simpati reporter, dipihak mana ia berada? Seorang pembaca harus tak bisa menjawab pertanyaan ini.
Beberapa penerbitan dan kantor berita cenderung men-jauhkan diri bahkan dari analisis dasar. Atau wartawan berhadapan dengan kendala politis. Jika demkian halnya, mereka bisa saja mencari sesorang,
analisis luar atau pejabat terkait, yang bisa memberikan analisis. Jika pada sebuah konferensi pers reporter ha-nya berkesempatan mengajukan satu pertanyaan, tak keliru jika bertanya: Mengapa berita ini penting? Biarkan sang pembicara menganalisinya sendiri. Tak jarang
hal ini menjadi lead sebuah tulisan. Tanpa analisis tulisan tak memberikan pemaham yang dibutuhkan pembaca.
9. Jangan Terpaku pada Siaran Pers
Sebuah siaran pers perusahaan atau pemerintah hanyalah sebuah titik beranjak bagi suatu berita bisnis. Liputan lanjutan biasanya diperlukan untuk menghidup-kannya. Kita perlu juga mewawancari perusahaan-peru-sahan pesaing, pengamat luar, konsultan, akademisi,
atau sumber-sumber lain untuk mendapatkan sisi dari berita. Dan sisi siara pers juga hampir selalu menim-bulkan pertanyaan yang mendorong kita untuk melengok langsung perusahaan yang mengeluarkannya. Mungkin pertanyaan penting adalah -silakan tebak – “lalu apa?”
10. Kail Gagasan-gagasan Baru
Mungkin cara terbaik untuk membuat berita bisnis menarik perhatian pembaca adalah menuliskan sesuatu yang tak biasa, hal menarik yang tak dilaporkan penerbitan lain. Dengan mencari sisi baru perkem-bangan bisnis. Dengan sudut pandang bisnis pada be-rita-berita umum. Dengan melihat sudut pandang ke-manusiaan pada berita bisnis. Dengan mempelajari ke-cenderungan-kecederungan yang menimbulkan dari – dan punya arti lebih penting – ketimbang peristiwa-pe-ristiwa tertentu. Itu jelas menurut penulisan berita feature yang melebar dari sekedar berita-berita sehari-hari yang bersifat siaran pers atau pengumungan pendapatan perusahaan. Tujuannya: Untuk mengajak pembaca lebih menyimaknya ketimbang berita lain pada halaman yang sama – atau justru berpindah halaman. Setiap media ma-ssa harus mendorong rapat-rapat seperti ini. Inilah be-berapa cara untuk mengali gagasan:
Cari sudut pandang bisnis pada berita-berita umum. Banyak hal yang kini tak bisa lepas dari bisnis, dan men-cari sudut pandang bisnis pada sebuah berita besar ber-peluang menarik minat pembaca.
Perhatikan kecenderungan tertentu. Sebuah peristiwa bisa jadi memang penting, tapi akan lebih penting bila itu jadi tanda bagi sejumlah kecenderungan yang lebih besar. Perhatikan hutannya, jangan sekedar pohonnya.
Cari sudut pandang kemanusiaan. Membaca tentang orang yang sukses berbisnis adalah hal yang menarik.
Hidup kerap sedramatis fiksi. Peliputan mendalam ke-rap bisa membangun sebuah narasi bisnis yang penuh perjuangan, harapan, kekecewaan dan akhirnya, keber-hasilan atau (kegagalan).
Wartawan juga harus mempertimbangkan perluasan definisi tradisional tentang berita bisnis. The Wall Street Journal telah menambah bagian yang berisi peliputan-peliputan sisi bisnis kesehatan, ilmu pengetahuan, hukum, olah raga, hiburan, dan subjek-subjek lain. Perhatikan pula bahwa bisnis tak selalu mengenai perusahaan besar. Bisnis skala kecil pun tak kalah penting nya bagai ekonomi suatu negara dan bi
asanya melibatkan lebih banyak orang. Berita tentang isu
yang mempengaruhi bisnis skala kecil umumnya banyak dibaca.
Wilayah bisnis lain yang kini berkembang adalah keu-angan orang seorang, yang menjanjikan kepada pem-baca saran ahli tentang bagaimana mengelola uang. Berita-berita demikian ini meliputi subjek-subjek,seperti jenis investasi baru, praktik penipuan yang merugikan investor atau perbandingan mengenai insentif yang ditawarkan bank kepada nasabah.
Jurus Meliput di Lapangan
Tulis Ringkasan Postingan Anda
Delapan tahun paska tumbangnya Soeharto, konflik di tanah air masih tak padam. Mulai Aceh, Poso, Ambon sampai Papua, benturan terusberkobar. Mau tidak mau, jurnalis terseret ke garis depan. Bagaimana meliput konflik dan tak jadi korban? Bagaimana meliput berita ekonomi dan bisnis? Banyak pertanyaan di benak wartawan dan diharapkan postingan ini memberikan jawabannya.
SEJAK awal berdirinya, organisasi jurnalis sedunia, International Federation Journalist (IFJ), menaruh perhatian lebih pada kesela-ma-tan jurnalis yang meliput di daerah konflik. Karena itulah, berdasarkan rangkuman pengala-man jurnalis senior di berbagai media internasional, lembaga ini getol merilis panduan peliputan di daerah konflik, yang terus diperbarui sesuai perkembangan terkini.
Yang akan dibahas adalah enam jurus peliputan di daerah konflik, berdasarkan pelatihan jurnalis sadar konflik yang diadakan IFJ di Sri Lanka. Negara di kaki anak benua India itu memang berpuluh tahun dikoyak konflik dengan gerilya-wan Tamil.
Keenam jurus ini layak diperhatikan jurnalis di tanah air. Meski bias jadi anatomi konflik di negeri kita berbeda, tapi pedoman umum ini bisa jadi acuan dalam melaporkan situasi berbahaya.
Pertama, jurnalis harus mengerti konflik yang diliputnya. Dengan memahami apa yang menjadi akar masalah, maka jurnalis juga bias mengerti dan menganalisa berbagai ke-mungkinan jalan keluar atas konflik itu.
Kedua, jurnalis harus membuat berita dengan berimbang. Untuk mencapai taraf imparsialitas yang optimal, jurnalis ha-rus melaporkan segala sesuatu yang ada atau yang terjadi dalam peliputannya di daerah konflik, dengan jernih dan jelas.
Ketiga, jurnalis harus memberitakan atau melaporkan latar belakang dan semua kasus yang berkaitan dengan konflik itu, secara akurat. Tanpa kenal lelah, jurnalis harus terus mengingatkan masya-rakat apa yang jadi pokok persoalan konflik. Ini jauh lebih penting daripada melulu menggambar-kan efek negatif konflik tanpa gam-baran penyelesaian, yang bisa jadi justru melanggengkan persoalan.
Keempat, jurnalis berkewajiban menggambarkan sisi ke-manusiaan konflik. Ini bisa dilakukan misalnya dengan me-ngangkat cerita ten-tang trauma korban. Tapi, jangan sampai ada eksploitasi korban.
Kelima, jurnalis harus memberitakan usaha-usaha perda-maian sebagai jalan keluar konflik.
Keenam, jurnalis harus selalu berhati-hati menimbang dampak pemberitaannya dan pengaruhnya pada keselama-tan jiwa mereka yang berada di daerah konflik.
Saat Berita Dituliskan
BERITA belum jadi berita kalau kita hanya berhenti pada tugas peliputan. Berita baru berwujud kalau kita menuliskannya. Percuma saja kita hebat di lapangan, kalau kita seorang reporter yang buruk menulis.
MENULIS adalah sebuah proses yang melewati tahap-tahap logika. Ada pola dalam menulis. Kita mengacu saja ke pola itu seperti penjahit membuat baju, atau seperti tukang kue yang memakai tuangan untuk membentuk kuenya. Tuangan dan pola untuk berita adalah urutan-urutan logika tadi.
1.Langkah pertama dari menulis adalah mengumpulkan fakta. Berita yang baik didahului oleh reportase yang baik. Kita harus menemukan detail dalam laporan yang seluruhnya menyusun satu tema.
2.Kalau kita sudah pegang seluruh data dan fakta, maka pilihlah apa yang menjadi fokus atau tema berita kita. Setiap berita harus punya satu saja tema dominan. Fokuslah pada tema itu. Tanpa fokus berita akan mengambang dan pembaca yang bingung membacanya.
3.Kalau sudah ketemu fokusnya, carilah mana dari fakta-fakta yang terkumpul itu yang paling menarik dan paling penting. Lalu susun dengan urutan logis tadi. Setiap bagian dari berita itu harus mengacu pada bagian sebelumnya. Pokoknya berurutan. Lekaslah selesaikan berita kita. Tak ada gunanya menunda.
4.Setelah selesai menulis, suntinglah. Jadilah editor pertama bagi tulisan kita sendiri. Pastikan tak ada bagian yang mengada-ada.
5.Ingat, jangan sia-siakan proses yang sudah kita lewati sebelum menulis. Jangan membuat berita yang serampangan. Ingat reportase, riset dan wawancara kita tak ada gunanya kalau kita tak menuntaskannya dengan tulisan yang baik.
Beginilah Struktur Berita
PERIHAL struktur berita tak susah dimengerti. Hanya ada beberapa pilihan. Pertama berceritalah apa adanya, secara kronologis. Atau, pilihan kedua, kita bisa memakai tiga bentuk berita: PIRAMIDA TERBALIK, NARATIF atau BERKISAH, atau JAM PASIR.
Apa pertimbangannya dalam memilih:
1.Bentuk yang paling populer adalah PIRAMIDA TERBALIK. Dalam bentuk ini, informasi disusun berdasarkan nilai pentingnya. Makin ke bawah makin tidak penting. Begitulah dalilnya.
2.Kenapa bentuk PIRAMIDA TERBALIK ini populer? Karena pembaca terlayani dengan baik. Informasi penting dijamin akan diperoleh lekas oleh pembaca, terutama bila ia pembaca yang buru-buru dan tak sabaran. Bentuk ini juga mendorong reporter untuk terbiasa menyortir informasi dan menyusunnya berurut dari yang penting ke kurang penting dan akhirnya ke yang tidak penting.
3.Apa kelemahan berita dengan bentuk piramida terbalik? Pertama, kalau dipotong, beritanya jadi kehilangan penutup. Sepertinya ditutup begitu saja. Tidak ada ketegangan dalam berita itu. Reporter kadang merasa sia-sia sudah menghabiskan waktu dan energi.
4.Alternatif dari bentuk PIRAMIDA TERBALIK adalah bentuk narasi, atau bentuk berkisah. Dalam bentuk ini diperlukan latar tempat, dialog, dan keteram-pilan menyusun kisah hingga mencapai klimaks dari berita itu. Sebuah berita dengan bentuk berkisah mengandung permulaan, pertengahan dan bagian akhir. Kutipan dibuat seperti percakapan yang benar-benar terjadi.
5.Bentuk ketiga dari struktur berita adalah JAM PASIR. Bentuk ini merupakan gabungan dari PIRAMIDA TERBALIK dan BERKISAH. Bentuk ini terdiri atas tiga bagian: Pertama, bagian yang mengabarkan isi berita; Kedua bagian peralihan; dan Ketiga bagian yang mengisahkan apa yang dikabarkan di bagian pertama. Berita-berita penangkapan oleh polisi menarik untuk ditulis dalam bentuk ini. Begitu juga halnya berita persidangan, dan kecelakaan. Keunggulan dua bentuk pertama terangkum dalam bentuk berita JAM PASIR ini. Pembaca lekas tahu apa yang akan didapatkan dalam berita itu, si reporter juga bisa menunjukkan kemampuannya menyusun narasi dan berita juga diakhiri dengan cerita yang lengkap.
Berita tentang Berita
BERITA itu apa, sih? Berita adalah apa saja yang menarik sebagian besar dari masyarakat dan tidak pernah menjadi perhatian sebelumnya. Itu jawaban Charles A Dana, editor New York Sun. Dengan kata lain, berita adalah apa yang sedang dibicarakan orang-orang. Dan berita adalah sesuatu yang baru.
Ada cara lain memahami berita. Mari kita simak.
1.Berita adalah perubahan dari keadaan yang ingin dipertahankan atau status quo. Tetapi apakah setiap perubahan dari status quo menjamin sebuah peristiwa bernilai berita? Tidak semua.
Contohnya, ada anak 10 tahun yang terlambat makan siang. Mungkin karena pembantunya yang hari itu tidak masak. Ada yang berubah kan? Tetapi itu bukan berita. Lalu bagaimana kalau si anak tadi terlambat makan sampai lima jam, dan kemungkinan dia sesat atau diculik? Nah itu baru ada nilai beritanya. Berita seterusnya, keterlambatan makan itu makin bernilai berita kalau misalnya si anak itu putra seorang pengusaha, dan si penculik adalah kawanan mafia yang minta tebusan. Ingat, awalnya tadi kita hanya bicara soal seorang anak yang terlambat makan siang.
2.Dalam bahasa lain yang paling dekat dengan kita, berita adalah apa yang disebut oleh reporter dan redakturnya sebagai berita. Reporter dan redaktur adalah penjaga gerbang, kitalah yang memilih sebuah peristiwa jadi berita atau tidak. Kita yang mengatur mana yang akhirnya bisa dibaca oleh publik pembaca. Tetapi ada banyak hal lainnya yang kemudian menentukan kita untuk menetapkan sebuah peristiwa jadi berita atau tidak. Artinya kita tidak bisa sewenang-wenang.
3.Baiklah. Merujuk ke butir 2, artinya kita harus profesional. Setidaknya ada tujuh faktor yang bisa dilihat dalam sebuah peristiwa dan sejauh mana konsekuensinya. Ketujuh faktor itulah yang menentukan nilai sebuah berita. Kita bandingkan dengan 12 Rukun Iman Berita yang dikembangkan dan dianut oleh Jawa Pos dan seluruh media yang sekelompok dalam Jawa Pos Group.
·LUASNYA PENGARUH. Berapa banyak orang yang terimbas akibat peristiwa itu? Seberapa seriuskah imbas peristiwa itu terhadap mereka?
·KEDEKATAN (PROXIMITY). Sebuah peristiwa menjadi lebih penting apabila dekat dengan pembaca. Sebuah gempa bumi di negara lain tidak semenarik apabila bencana yang sama terjadi di tempat kita sendiri. Jawa Pos juga memasukkan unsur ini dalam 12 Rukum Iman Berita.
·JARAK WAKTU. Apakah kejadiannya baru? Masih hangat? Berita harus punya nilai waktu bagi pembaca untuk mengetahui atau menggunakan informasi dalam berita itu. Jawa Pos menem-patkan ini di unsur HANGAT pad anomor 1 dalam urutan 12 Rukun Iman Berita.
·KETOKOHAN. Ini juga disebutkan dalam 12 Rukun Iman Berita Jawa Pos. Nama bisa jadi berita. Seorang yang punya nama besar, meskipun melakukah satu hal kecil saja, bisa jadi berita besar. Orang kebanyakan selalu ingin tahu apa yang dilakukan oleh orang-orang lain yang ngetop, selebritis, pejabat, orang kaya dan tokoh masyarakat.
·UNIK. Apa yang pertama dilakukan, atau yang terakhir yang mungkin dihasilkan, sesudah itu tak ada lagi, atau yang hanya ada satu-satunya di dunia selalu menjadi berita yang menarik. Jawa Pos membagi hal ini kedalam dua bagian. Pertama UNIK dan BARU.
·KONFLIK. Konflik selalu menjadi arus utama dalam sastra, drama atau film. Dari Shakespeare sampai Walt Disney. Berita dalam surat kabar juga tak terhindarkan dalam arus ini. Mungkin ini sama dengan unsur DRAMATIS dalam Rukun Iman-nya Jawa Pos.
·SASARAN PEMBACA. Jawaban dari pertanyaan, “siapa pembaca kita?” akan menentukan apakah suatu peristiwa menjadi berita menarik atau tidak.
Inilah 12 Rukun Iman Berita Jawa Pos:
· hangat
· informatif
· eksklusif
· dramatis
· unik
· baru
· daya tarik (magnitude)
· kedekatan (proximity)
· tren
· tokoh
· sudut pandang lain
· misi
Pesan untuk Wartawan Baru
ADA banyak lubang yang bisa bikin orang terjerumus ke dunia jurnalistik. Lewat lubang mana pun, ketika kita su-dah berada di dalamnya, maka kesungguhanlah yang menentukan sedalam apa kita bisa menggali dan sampai di ujung mana kelak kita bisa mencapai. Lewat lubang manapun, berikut ini ada setengah lusin saran yang berdasarkan pengalaman bisa membantu seorang reporter baru.
1. Buatlah Perencanaan Sendiri
PADA sebuah media yang sistem kerjanya berjalan baik, rapat redaksi biasanya sudah memutuskan perencanaan berita-berita apa yang harus diliput untuk terbit pada edisi yang akan datang. Rencana berita itu biasanya dibuat oleh Redaktur dan Koordinator Liputan bersama reporter.
LALU apa gunanya perencaan yang dibuat sendiri oleh reporter? Banyak sekali. PERTAMA, rencana itu bisa diusulkan kepada redaktur. Redaktur yang baik pasti tidak akan menolak sebuah rencana berita yang baik. KEDUA, apabila rencana berita A, benar-benar mentok untuk dida-patkan, dan ada alasan yang logis bagi reporter untuk menyerah meliputnya, maka usulan yang dibuat sendiri bisa jadi rencana B. KETIGA, reporter yang punya peren-canaan berita sendiri biasanya akan menjadi seorang re-porter yang kreatif dan produktif, dan cepat dipromosikan jadi redaktur.
Contoh:
– Menghitung Untung Dagang Tahu Sumedang.
– Bisnis Mak Nyes, Ayam Penyet Vs Franchise.
– Putar Modal Lekas, Bisnis Komputer Bekas!
– Bagaimana Para Pelukis Batam Bisa Eksis?
– Siapa Tahanan di Rutan Batam yang paling Lama Hukumannya?
- Berapa Kasus Perampokan yang Belum Terungkap?
2. Banyak-banyak Berkenalan dengan Sumber
SUMBER berita adalah segalanya bagi reporter. Tak ada sumber, tak ada berita. Karena itu berkenalanlah dengan dengan siapa saja yang suatu saat pasti bakal menjadi sumber berita kita. Tukarkanlah kartu nama, dan nomor telepon. Hadirlah dalam acara-acara resmi. Di sana pasti ada berita, dan banyak orang yang kelak jadi sumber berita. Kumpulkah kartu nama mereka. Sesekali cobalah menghubungi mereka lagi.
DENGARKAH keluhan mereka, dari keluhan itu, biasa-nya bisa diangkat masalah yang juga menjadi keluhan banyak orang, dan karena itu menjadi bernilai kalau kita beritakan. Bantulah mencarikan jawaban atas keluhan itu, tentu dengan berita kita. Caranya dengan mengkonfirma-sikannya ke jawatan, dinas, atau lembaga apa saja yang terkait.
3. Cerewetlah Bertanya, Santunlah Menulis
PADA saat wawancara reporter harus cerewet, tanyalah apa saja, jangan takut tampak bodoh di depan sumber, asalkan dianggap begitu oleh pembaca. Mintalah data, pendapat. Ada banyak hal yang tidak akan diberikan oleh sumber kalau kita tidak meminta atau kalau kita tidak bertanya.
TETAPI santunlah saat menulis. Tulisan yang dibaca ha-rus runtut, lancar dan tidak memojokkan si sumber. Buat-lah sumber berita kita tampak cerdas dalam berita kita. Kita akan menjadi reporter favorit si sumber tadi, dan ke-lak dia tidak akan pelit dengan informasi lain bila mereka punya.
4. Hati-hati Menulis Nama dan Jabatan
TULISLAH nama tokoh dalam berita kita dengan benar. Benar ejaannya, benar sebutannya. Mana yang benar Akbar Tanjung? Atau Akbar Tandjung? Faisal Tanjung atau Feisal Tanjung atau Feisal Tandjung? Kalau perlu mintalah mereka menuliskan sendiri nama mereka.
KALAU seseorang punya banyak jabatan, tanyalah me-reka jabatan mana yang ingin disebutkan dalam berita. “Anda harus saya sebut sebagai apa?” Atau tawarkanlah pilihan itu sesuai dengan konteks beritanya. Misalnya, to-koh A adalah pengurus KONI yang kebetulan pengusaha properti. Kita mewawancarai dia untuk berita tentang pembangunan rumah RSS, kita tentu saja harus menye-but si sumber sebagai pengusaha bukan pengurus KONI, kan?
KALANGAN militer lebih rumit lagi. Kita harus lebih hati-hati. Nama, pangkat, jabatan harus benar-benar tepat. Kenalilah jenjang kepangkatan, pahamilah apa itu AKP, Kombes, Kasatreskrim dll.
BENAR sebutannya, misalnya Amien Rais lebih senang disebut Amien daripada Rais. Ini dipakai untuk penyebutan kedua. Untuk kutipan langsung.
Misalnya, “Saya siap jadi Presiden,” kata Amien.
Tetapi Soesilo Bambang Yudhoyono biasanya lebih senang disebut nama belakangnya.
5. Banyak Membaca dan Membandingkan
CARA meningkatkan keterampilan menulis yang paling baik adalah dengan mengevalusi berita sendiri. Simpanlah arsip berita Anda yang belum disunting oleh redaktur, lalu bandingkan dengan yang terbit di media kita sendiri. Kita jadi bisa cepat mengerti bagian mana yang diperbaiki dan bagaimana mempercantiknya.
Bandingkan juga berita kita dengan berita media lain yang kebetulan meliput peristiwa yang sama. Coba disan-ding-sandingkan. Apakah kita memilih sudut pandang yang lebih tajam? Apakah ada data yang tidak kita da-patkan? Pendeknya apa keunggulan dan kelemahan be-rita kita dibandingkan media lain.
6. Jaga Kesehatan dan Tetap Semangat
Reporter baru biasanya sangat bersemangat. Tetapi, ketika berhadapan dengan kendala-kendala di lapangan banyak yang semangatnya rontok satu per satu. Vitalitas penting. Kesehatan penting. Supaya tetap bersemangat, evaluasilah kerja Anda setiap hari. Sampaikan – tapi jangan keluhkan – perburuan Anda di lapangan kepada rekan lain atau kepada redaktur. Redaktur yang baik biasanya juga pandai mengembalikan semangat kerja reporternya.
Jurus Ampuh Wartawan Tangguh
ANDA wartawan baru? Jangan khawatir. Anda bisa menjadi reporter yang produktif. Ikutlah saran-saran berikut ini. Ini bukan sembarang nasihat karena dikumpulkan dari sejumlah jurnalis hebat yang dengan suka rela berbagi pengalaman.
Dua editor Albert L Hester dan Wai Lan J To mering-kas dan memuatnya dalam buku yang diterjemahkan oleh Abdullah Alamudi. Buku itu dalam bahasa Indo-nesia berjudul Pedoman untuk Wartawan (USIS, Ja-karta). Inilah jurus ampuh bagaimana mencari berita dengan kreatif dan menjadi wartawan produktif
1.Anda harus punya rasa ingin tahu. Kalau tidak pu-nya itu, maka lupakanlah cita-cita menjadi reporter yang baik. Kalau Anda tidak bisa cerewet terus menerus dengan pertanyaan MENGAPA begini, MENGAPA begitu? Maka, sudahlah tidak ada harapan buat Anda. Bahkan gaya menulis yang baik pun masih kalah penting dan menduduki peringkat kedua setelah keinginan untuk tahu sebanyak-banyaknya.
2.Tinggalkan kantor. Berita tidak muncul dari balik komputer. Anda tidak mendapat apa-apa kalau hanya duduk membaca koran Anda sendiri atau mengisi teka-teki silang. Kalau Anda toh masih tampak di kantor ketika seharusnya Anda keluar, oleh Koordinator Liputan Anda akan disuruh segera ke lapangan. Artinya, Anda kan harus keluar kantor juga.
3.Jangan tanya sumber Anda, “Ada berita apa?” Tak ada satu pun yang baru bagi mereka, karena mereka biasanya terjebak rutinitas. Mereka biasanya tak sepeka kita, walaupun ada sesuatu yang bisa jadi berita bagus dan itu menimpa kepala mereka. Andalah pemburu beritanya.
4.Berbicaralah dengan berbagai macam orang. Perhatikan seremeh apapun percakapan yang Anda dengar di warung dan restoran.
5.Baca buletin, majalah atau media lain yang sesuai dengan bidang liputan Anda. Berlanggananlah kalau Anda punya dana lebih, atau sarankan kantor Anda untuk berlangganan. Kalau Anda menulis tentang pemerintah lokal, misalnya, mungkin ada publikasi mengenai kantor pemerintah itu yang dibaca oleh pegawainya. Dapatkanlah dan bacalah juga.
6.Hadirilah pesta, pelantikan, buka puasa bersama, resepsi, pertemuan organisasi masyarakat, parpol, atau instansi pemerintah. Apalagi kalau Anda memang diundang untuk datang. Banyak yang bisa Anda dengar di sana.
7.Baca koran Anda sendiri. Jangan juga malas membaca berita dari koran lain. Ikuti perkembangan di dalam koran Anda sendiri. Setiap reporter wajib membaca korannya dan surat kabar lain. Sebuah berita bisa menjadi ide untuk berita selanjutnya.
8.Jangan segan meniru dari surat kabar luar asing. Kalau di tempat Anda susah mendapatkan surat kabar dari negeri lain, Anda kan bisa mencari situsnya. Lihatlah di sana. Situs itu kan memang untuk diklik. Tidak ada hak cipta atas ide. Cobalah sering-sering melokalkan isu di luar yang relavan dengan tempat Anda.
9.Baca pernyataan-pernyataan resmi, meskipun seperti umumnya sebuah pernyataan, dia selalu membosankan. Cermati saja, bisa jadi pernyataan itu menjadi bibit berita.
10.Perhatikan televisi dan dengarkan radio lokal. Media itu sekali-sekali ada menampilkan berita baik yang bisa diangkat dan dikembangkan. Perhatikan juga siaran-siaran televisi dan radio luar negeri. Kalau tidak dapat ide berita, toh siaran itu bisa mendidik dan memperluas persfektif Anda.
11.Sediakan sebuah kalender dan peta peristiwa mendatang. Ini akan mengingatkan Anda dan mendorong Anda memikirkan berita yang perlu diliput. Redaktur akan menghargai Anda sebagai reporter yang terorganisasi kalau Anda mempunyai peta atau catatan tentang peristiwa yang akan terjadi.
12.Perbaiki hubungan Anda dengan sumber-sumber berita Anda. Semakin sering Anda menemuinya, semakin percaya mereka. Kecuali kalau Anda seorang yang tidak bisa dipercayai, semakin sering mereka melihat Anda, semakin mereka tidak mempercayai Anda.
13.Jangan abaikan pengusaha. Mereka sering harus mengetahui apa yang sedang terjadi, kalau mereka terus ingin berusaha.
14.Bergaullah dengan orang-orang LSM. Mereka biasanya haus pemberitaan. Dan ada berita dari mereka yang menarik perhatian pembaca.
15.Para pekerja di bandara dan pelabuhan seringkali mempunyai pengetahuan luas mengenai orang-orang penting yang akan datang atau berangkat. Carilah sumber yang mengetahui soal kedatangan dan keberangkatan. Bersahabatlah dengan perusahaan-perusahaan penerbangan dan pelayaran.
16.Kunjungilah pameran. Hal ini penting untuk mendapatkan perasaan langsung tentang keadaan di tempat pameran itu. Anda tidak akan dapatkan perasaan itu dari pembicaraan dengan pejabat atau duduk-dudk di kedai kopi.
17.Kuasai bahasa asing. Minimal bahasa Inggris. Dengan demikian Anda tidak perlu mendapat informasi dari tangan kedua.
18.Mengobrollah dengan rekan-rekan wartawan lain. Mungkin hal ini akan membosankan, tapi sesekali Anda bisa mendapatkan ide baik untuk satu berita. Sesekali pergilah meliput bersama mereka. Apalagi bila sumber berita itu sudah mereka kenal dan mintalah mereka mengenalkan kita.
19.Ada kalanya dosen dan mahasiwa menjadi sumber berita yang menarik. Berkenalanlah dengan beberapa dari mereka, dan cek apa yang sedang terjadi.
20.Sadarlah Anda tidak selalu mendapatkan berita setiap kali Anda menghubungi sumber berita Anda. Ada kalanya bijaksana untuk mengetahui apa kesenangan mereka dan apa yang membuat mereka terbuka. Hal ini akan membantu Anda mendapatkan berita dari mereka di kemudian hari.
21.Bergunjinglah dengan politisi atau pejabat setempat. Umumnya mereka suka mendengar apa kata orang lain tentang mereka dan juga akan memberi Anda informasi yang menarik.
22.Gunakan waktu Anda berkeliling kota. Pandanglah dengan mata segar apa yang sedang terjadi.
23.Berbaurlah dengan masyarakat – jangan asingkan diri.
24.Sesekali pergilah menyendiri dan berpikir. Bawa buku catatan dan tuliskan segala sesuatu yang mungkin menjadi ide untuk berita. Ini bukan waktu untuk berkhayal. Tapi waktu untuk mendapatkan ide yang lebih baik.
25.Ingatlah redaktur menyenangi reporter yang datang dengan ide-ide segar dan asli.
Mitos dan Realitas Wartawan
SEJAK reformasi, media massa tumbuh bak jamur di musim hujan. Koran tumbuh luar biasa mencapai 2000 pener-bitan. Namun, tahun 2005 tinggal 800 saja. Hanya 30 persen yang sehat secara bisnis. Kematian pers lebih banyak karena hara-kiri lantaran kurang modal dan tak mampu mengelola Sumber Daya manusia. artawan. So, bagi yang masih ‘awam’ sama dunia kewartawanan, simak deh mitos tentang wartawan dan realitasnya di bawah ini.
Wartawan sosok yang menakutkan
Biasanya orang yang takut pada wartawan adalah ‘public figure’ atau lembaga perusahaan yang memiliki kasus jelek, sehingga mereka khawatir jika kasusnya ‘terendus’ wartawan bisa mencemarkan dan menjatuhkan nama baiknya. Memang nggak bisa dipungkiri kalau selama ini ada beberapa oknum yang membuat wartawan ditakuti oleh nara sumber. Misalnya oknum tersebut selalu meminta ‘imbalan’ untuk memuat berita-berita yang bagus dan mengancam akan menulis berita bernada negatif jika tidak diberi imbalan. Padahal pada kenyataannya, banyak wartawan yang menjunjung kode etik jurnalistik. Wartawan-wartawan masa kini sudah lebih santun dalam menghadapi sumber dan menuangkan berita. Bahkan tidak sedikit wartawan yang terus menjalin hubungan baik dengan narasumbernya.
Wartawan bisa menulis apa saja
Salah satu hal yang menyebabkan wartawan menjadi sosok yang menakutkan adalah karena wartawan dianggap bisa menulis apa saja yang didengar dan dilihatnya. Pada kenyataannya, dengan mengacu pada kaidah dan kode etik jurnalistik wartawan tidak bisa seenaknya menuliskan berita. Untuk menurunkan sebuah berita, terutama yang menyangkut informasi suatu kasus, wartawan harus mengkonfirmasikan kebenaran informasi tersebut pada sumber yang dapat dipercaya. Jika berita yang ditulisnya melenceng dari fakta yang sebenarnya, bisa menjatuhkan kredibilitas wartawan dan media yang bersangkutan.
Wartawan selalu minta amplop
Anggapan seperti ini adalah mitos yang paling populer di masyarakat. Wartawan dianggap selalu meminta sejumlah uang pada setiap sumber yang diwawancarainya. Wartawan juga selalu mengharapkan amplop dari panitia liputan acara. Memang ada sebagian wartawan yang bermental demikian, tapi tentu saja tidak bisa ‘dipukul rata’. Di masa sekarang, dengan semakin meningkatnya tingkat kemapanan media massa, praktek meminta ‘amplop’ pada sumber berita sudah bukan jamannya lagi.
Wartawan selalu urakan
Selama ini wartawan memang identik dengan pakaian kumal, mengenakan jaket atau rompi, menenteng kamera, dan rambut acak-acakan. Memang sih, tak sedikit wartawan yang berpenampilan demikian, terutama wartawan yang bekerja di lapangan. Karena wartawan yang ingin meliput peristiwa kebanjiran atau kebakaran nggak sreg juga kan kalau harus berdasi dan bersepatu mengkilat? Tapi memang ada juga wartawan yang selalu berpenampilan ‘urakan’ walau harus meliput dan menghadiri acara resmi. Tapi agaknya penampilan wartawan masa kini sudah mengalami pergeseran ke arah yang lebih baik. Wartawan masa kini yang rata-rata berpendidikan tinggi, terlebih bekerja di media yang cukup mapan, sudah bisa membedakan mana penampilan yang cocok untuk di lapangan dan mana penampilan untuk acara-acara resmi. Penampilan mereka belakangan inipun terlihat lebih rapih dan intelek.
Wartawan manusia sakti
Wartawan disebut manusia sakti karena selama ini wartawan terkesan mudah dalam menembus rumitnya birokrasi. Wartawan sering terlihat jalan melenggang masuk ke stadion sepak bola tanpa harus membeli karcis, sementara yang lain berdesak-desakan berebut karcis masuk. Begitu juga ketika menghadiri pertunjukkan musik, hiburan, bahkan menonton film terbaru di bioskop. Padahal sebetulnya, wartawan itu tidaklah sakti. Mereka bisa melenggang masuk ke tempat-tempat yang semestinya ‘bayar’, karena para wartawan sudah mengurus ID card atau tanda masuk untuk menjalankan tugas. Tanpa ID card, wartawan pun tidak diijinkan masuk, sama halnya dengan orang yang tidak membeli karcis.
Wartawan bekerja 24 jam
Selama ini wartawan dianggap tidak memiliki jam kerja yang jelas. Wartawan harus siap ditugaskan kapan saja. Karena itu banyak yang menganggap wartawan bekerja selama 24 jam penuh. Padahal wartawan juga manusia biasa yang butuh istirahat. Jika urusannya sudah selesai wartawan bisa pulang ke rumah dan istirahat dengan tenang. Tetapi memang, jika mendekati ‘deadline’ wartawan harus siap memenuhi deadline meskipun harus bekerja sampai larut malam.
Banyaknya mitos tentang profesi wartawan menunjukkan bahwa wartawan adalah profesi yang unik. Dan justru karena keunikannya tersebut, profesi wartawan belakangan ini makin diminati oleh kalangan muda yang dinamis dan kritis.
Agaknya anda yang menaruh minat besar dan kualified di bidang jurnalistik, tidaklah sulit untuk mengembangkan karir di dunia kewartawanan. Toh maraknya dunia pers dewasa ini membuka peluang kompetisi yang luas dan sehat bagi anda yang serius di dunia ini. Apalagi belakangan ini media elektronik dan media online terus bertambah. Dan anda yang menganggap bahwa profesi wartawan nggak bisa diandalkan buat masa depan agaknya harus mulai meralat anggapan tersebut.
Wartawan Kreatif dan Produktif
ANDA wartawan baru? Jangan khawatir. Anda bisa menjadi reporter yang produktif. Ikutlah saran-saran berikut ini. Ini bukan sembarang nasihat karena dikumpulkan dari sejumlah jurnalis hebat yang dengan suka rela berbagi pengalaman.
Dua editor Albert L Hester dan Wai Lan J To mering-kas dan memuatnya dalam buku yang diterjemahkan oleh Abdullah Alamudi. Buku itu dalam bahasa Indo-nesia berjudul Pedoman untuk Wartawan (USIS, Ja-karta). Inilah jurus ampuh bagaimana mencari berita dengan kreatif dan menjadi wartawan produktif
1.Anda harus punya rasa ingin tahu. Kalau tidak pu-nya itu, maka lupakanlah cita-cita menjadi reporter yang baik. Kalau Anda tidak bisa cerewet terus menerus dengan pertanyaan MENGAPA begini, MENGAPA begitu? Maka, sudahlah tidak ada harapan buat Anda. Bahkan gaya menulis yang baik pun masih kalah penting dan menduduki peringkat kedua setelah keinginan untuk tahu sebanyak-banyaknya.
2.Tinggalkan kantor. Berita tidak muncul dari balik komputer. Anda tidak mendapat apa-apa kalau hanya duduk membaca koran Anda sendiri atau mengisi teka-teki silang. Kalau Anda toh masih tampak di kantor ketika seharusnya Anda keluar, oleh Koordinator Liputan Anda akan disuruh segera ke lapangan. Artinya, Anda kan harus keluar kantor juga.
3.Jangan tanya sumber Anda, “Ada berita apa?” Tak ada satu pun yang baru bagi mereka, karena mereka biasanya terjebak rutinitas. Mereka biasanya tak sepeka kita, walaupun ada sesuatu yang bisa jadi berita bagus dan itu menimpa kepala mereka. Andalah pemburu beritanya.
4.Berbicaralah dengan berbagai macam orang. Perhatikan seremeh apapun percakapan yang Anda dengar di warung dan restoran.
5.Baca buletin, majalah atau media lain yang sesuai dengan bidang liputan Anda. Berlanggananlah kalau Anda punya dana lebih, atau sarankan kantor Anda untuk berlangganan. Kalau Anda menulis tentang pemerintah lokal, misalnya, mungkin ada publikasi mengenai kantor pemerintah itu yang dibaca oleh pegawainya. Dapatkanlah dan bacalah juga.
6.Hadirilah pesta, pelantikan, buka puasa bersama, resepsi, pertemuan organisasi masyarakat, parpol, atau instansi pemerintah. Apalagi kalau Anda memang diundang untuk datang. Banyak yang bisa Anda dengar di sana.
7.Baca koran Anda sendiri. Jangan juga malas membaca berita dari koran lain. Ikuti perkembangan di dalam koran Anda sendiri. Setiap reporter wajib membaca korannya dan surat kabar lain. Sebuah berita bisa menjadi ide untuk berita selanjutnya.
8.Jangan segan meniru dari surat kabar luar asing. Kalau di tempat Anda susah mendapatkan surat kabar dari negeri lain, Anda kan bisa mencari situsnya. Lihatlah di sana. Situs itu kan memang untuk diklik. Tidak ada hak cipta atas ide. Cobalah sering-sering melokalkan isu di luar yang relavan dengan tempat Anda.
9.Baca pernyataan-pernyataan resmi, meskipun seperti umumnya sebuah pernyataan, dia selalu membosankan. Cermati saja, bisa jadi pernyataan itu menjadi bibit berita.
10.Perhatikan televisi dan dengarkan radio lokal. Media itu sekali-sekali ada menampilkan berita baik yang bisa diangkat dan dikembangkan. Perhatikan juga siaran-siaran televisi dan radio luar negeri. Kalau tidak dapat ide berita, toh siaran itu bisa mendidik dan memperluas persfektif Anda.
11.Sediakan sebuah kalender dan peta peristiwa mendatang. Ini akan mengingatkan Anda dan mendorong Anda memikirkan berita yang perlu diliput. Redaktur akan menghargai Anda sebagai reporter yang terorganisasi kalau Anda mempunyai peta atau catatan tentang peristiwa yang akan terjadi.
12.Perbaiki hubungan Anda dengan sumber-sumber berita Anda. Semakin sering Anda menemuinya, semakin percaya mereka. Kecuali kalau Anda seorang yang tidak bisa dipercayai, semakin sering mereka melihat Anda, semakin mereka tidak mempercayai Anda.
13.Jangan abaikan pengusaha. Mereka sering harus mengetahui apa yang sedang terjadi, kalau mereka terus ingin berusaha.
14.Bergaullah dengan orang-orang LSM. Mereka biasanya haus pemberitaan. Dan ada berita dari mereka yang menarik perhatian pembaca.
15.Para pekerja di bandara dan pelabuhan seringkali mempunyai pengetahuan luas mengenai orang-orang penting yang akan datang atau berangkat. Carilah sumber yang mengetahui soal kedatangan dan keberangkatan. Bersahabatlah dengan perusahaan-perusahaan penerbangan dan pelayaran.
16.Kunjungilah pameran. Hal ini penting untuk mendapatkan perasaan langsung tentang keadaan di tempat pameran itu. Anda tidak akan dapatkan perasaan itu dari pembicaraan dengan pejabat atau duduk-dudk di kedai kopi.
17.Kuasai bahasa asing. Minimal bahasa Inggris. Dengan demikian Anda tidak perlu mendapat informasi dari tangan kedua.
18.Mengobrollah dengan rekan-rekan wartawan lain. Mungkin hal ini akan membosankan, tapi sesekali Anda bisa mendapatkan ide baik untuk satu berita. Sesekali pergilah meliput bersama mereka. Apalagi bila sumber berita itu sudah mereka kenal dan mintalah mereka mengenalkan kita.
19.Ada kalanya dosen dan mahasiwa menjadi sumber berita yang menarik. Berkenalanlah dengan beberapa dari mereka, dan cek apa yang sedang terjadi.
20.Sadarlah Anda tidak selalu mendapatkan berita setiap kali Anda menghubungi sumber berita Anda. Ada kalanya bijaksana untuk mengetahui apa kesenangan mereka dan apa yang membuat mereka terbuka. Hal ini akan membantu Anda mendapatkan berita dari mereka di kemudian hari.
21.Bergunjinglah dengan politisi atau pejabat setempat. Umumnya mereka suka mendengar apa kata orang lain tentang mereka dan juga akan memberi Anda informasi yang menarik.
22.Gunakan waktu Anda berkeliling kota. Pandanglah dengan mata segar apa yang sedang terjadi.
23.Berbaurlah dengan masyarakat – jangan asingkan diri.
24.Sesekali pergilah menyendiri dan berpikir. Bawa buku catatan dan tuliskan segala sesuatu yang mungkin menjadi ide untuk berita. Ini bukan waktu untuk berkhayal. Tapi waktu untuk mendapatkan ide yang lebih baik.
25.Ingatlah redaktur menyenangi reporter yang datang dengan ide-ide segar dan asli.
Wartawan Amplop dan Bodong
Jika Napoleon lebih takut kepada wartawan daripada 100 divisi tentara, saya lebih takut 10 orang tentara daripada 100 wartawan, karena 100 wartawan bisa dihadapi dengan 100 amplop”.
Sindiran yang dilontarkan Jaksa Agung Ali Said pada tiga puluh tahun silam tersebut masih relevan dengan kondisi pers saat ini. Sebab, saat ini masyarakat masih diliputi keresahan dan ketakutan terhadap wartawan amplop dan wartawan bodong alias wartawan gadungan. Masyarakat resah karena wartawan amplop sering meminta uang transpor, meminta sumber berita untuk memasang iklan dan mengancam memberitakan aib (korupsi atau skandal seks) si sumber berita jika mereka tidak memberikan uang.
Sejak reformasi, koran tumbuh luar biasa mencapai 2000 pener-bitan. Namun, tahun 2005 tinggal 800 saja. Hanya 30 persen yang sehat secara bisnis. Kematian pers lebih banyak karena hara-kiri lantaran kurang modal dan tak mampu mengelola SDM.
Momentum reformasi, juga berimbas ke Kepulauan Riau. Pada tahun 1998, terbit Sijori Pos sebagai koran lokal pertama di Kepri yang kemudian berganti nama menjadi Batam Pos. Setelah itu, berturut-turut terbit Posmetro Batam, Harian Lantang, Sijori Mandiri, Batam News, Tribun Batam dan Media Kepri yang belakangan juga berhenti terbit.
Juga hadir belasan stasiun radio, tabloid, majalah dan koran mingguan serta tiga stasiun televisi seperti Batam TV, Semenanjung TV dan Urban TV. Peranan media dari luar Kepri, secara perlahan tersisih dengan kehadiran pers lokal.
Dengan gambaran seperti itu, pertanyaannya, apakah wartawan di Kepulauan Riau sudah bekerja secara profesional? Kondisi pers di Kepri salah satu daerah yang termasuk crowded di Indonesia. Sebab, dari jumlah media yang pernah tercatat di Pemko Batam saja—baik cetak mau pun elektronik—mencapai 87 media.
Jumlah wartawan pun diperkirakan mencapai 500 orang. Ini belum termasuk di Tanjungpinang, Karimun, Natuna dan Lingga serta pu-lau-pulau lainnya. Sedangkan jumlah anggota PWI Cabang Kepri yang baru berdiri sejak 2004 hanya 137 orang wartawan. Selain war-tawan media luar Batam, media yang pernah terbit lalu mati, masih tetap mengaku sebagai wartawan yang dikenal sebagai wartawan ’’bodong.’’
Dari berbagai kasus yang melibatkan wartawan dan dilaporkan ke PWI Kepri, sebagian besar karena pelanggaran etika jurnalistik se-perti penulisan yang tidak berimbang, mencampuradukkan fakta dan opini, tidak akurat dan melanggar norma kesusilaan masyarakat serta mengandung prasangka suku, antar golongan, ras dan agama seperti yang kita saksikan di persidangan antar pejabat belakangan ini di Tanjungpinang.
Sementara, kasus-kasus pidana yang menyangkut pidana yang dilakukan oknum wartawan seperti pemerasan, pencemaran nama baik, pelecehan seksual hingga pemerkosaan. Akibat ulah oknum-ok-num tersebut, merusak imej dan mengganggu kenyamanan war-tawan yang berusaha menjalankan tugasnya secara profesional.
Selain itu, beberapa oknum wartawan yang berasal dari luar Kepri, setelah melakukan perbuatan tak terpuji, lalu pindah ke pulau lain yang dijuluki ’’wartawan antar pulau’’ yang juga merugikan nama baik wartawan di daerah ini. Mereka terkenal dengan istilah ’’kapal pecah, hiu yang kenyang.’’ Maksudnya, setelah sebuah kasus diberitakan, maka mereka beramai-ramai memeras narasumber tersebut.
Masalah lain yang dihadapi pers di Kepri adalah persoalan mana-jemen. Ketika pers berkembang menjadi industri, selain modal, tek-nologi canggih untuk kecepatan informasi, perusahaan pers juga dituntut mempercanggih sistem manajemennya secara profesional. Yang terjadi, dari sekian banyak media lokal tersebut, lebih banyak yang mati daripada yang bertahan hidup.
Selain kesulitan modal—berkantor di rumah, dengan beberapa komputer, mencetak di perusahaan lain, terbit tidak teratur, meng-andalkan biaya operasional dari sumbangan atau dimodali pejabat dan pengusaha tertentu—proses rekrutmen dan kualitas sumber daya manusia yang kurang memadai. Malah, beberapa perusahaan media yang tampak bersinar pun, menghadapi masalah kesejah-teraan karyawan seperti tidak naik gaji atau terlambat gajian.
Namun, di sisi lain, Batam dan Kepulauan Riau selama ini dikenal sebagai ’’daerah basah’’ dimana penegakan hukum lemah dan ba-nyak orang bersikap aji mumpung. Artinya, semakin banyak penjabat dan pengusaha yang menyeleweng, maka makin banyak juga oknum wartawan yang memanfaatkan kondisi ini untuk kepentingan dirinya sendiri.
Kasus-kasus korupsi, penyeludupan, pembuangan limbah, pem-balakan hutan, pengerukan dan penjualan pasir, perdagangan wanita dan anak-anak (trafficking) perjudian dan pelacuran, kejahatan tran-snasional, cybercrime, black market dan sebagainya menyebabkan orang gampang tergoda dan silau dengan materi. Termasuk war-tawan. Jadi, perlu syaraf baja dan mental yang kuat agar tidak terlibat konspirasi dengan pelaku kejahatan ini.
Dibandingkan sebelumnya, sebenarnya jumlah wartawan bodong atau orang yang mengaku-ngaku wartawan, sudah jauh berkurang. Terutama sejak lesunya perekonomian Batam dan puncaknya ditutupnya perjudian. Namun, secara diam-diam, beberapa oknum wartawan bodong, masih mencari-cari celah untuk menjalankan modus operandinya, meskipun medianya telah lama tutup dan berhenti terbit.
Tindakan wartawan bodong memang keterlaluan karena mereka juga berani memburu narasumber atau pejabat yang akan diperasnya. Malah, beberapa di antaranya berani beroperasi secara terbuka. Terutama di tempat-tempat yang dianggap ‘’basah’’ seperti Bea Cukai, kantor Samsat, Pelabuhan, dan bahkan sampai ke kantor pemerintah.
Meskipun jumlahnya banyak, sejak dulu dan sekarang, cara beroperasi wartawan bodong tak banyak mengalami perubahan. Mereka biasanya beroperasi secara berkelompok, setidaknya lebih dari satu orang dan tak lupa mereka selalu memakai atribut “pers” di tubuhnya. Ada kesan wartawan gadungan ini tidak cukup pede untuk menjalankan operasinya secara sendirian.
Ada ciri-ciri yang membedakan antara wartawan amplop dan wartawan bodong. Tapi keduanya juga punya persamaan. Wartawan amplop adalah wartawan yang sebagian besar penghasilannya berasal dari amplop sumber berita, baik amplop itu diperoleh dengan cara meminta atau sekedar hasil pemberian dari sumber berita. Wartawan amplop bisa dilakukan oleh WTS (wartawan tanpa surat kabar) atau wartawan yang bekerja di perusahaan pers skala kecil yang tidak peduli dengan kesejahteraan para wartawannya. Di luar kategori ini, wartawan amplop juga dilakukan oleh wartawan yang bekerja di perusahaan pers yang sudah mapan, tetapi wartawan dan perusahaan pers tersebut kurang memedulikan penegakan etika jurnalitik, terutama soal larangan menerima uang/suap dari sumber berita.
Sedangkan wartawan bodong adalah orang yang pekerjaaanya memeras tetapi berkedok sebagai wartawan. Mereka ini mirip dengan intel gadungan atau polisi gadungan yang pekerjaaanya hanya menakut-nakuti masyarakat, tapi ujung-ujungnya adalah meminta uang.
Pelaku wartawan bodong bisa saja para WTS, tetapi juga dilakukan “wartawan” yang bekerja di media tertentu. Hanya saja media yang dikelola para wartawan bodong ini biasanya jadwal terbitnya tidak jelas dan isi medianya (iklan dan berita) adalah hasil negoisasi dengan sumber berita/korban, termasuk negoisasi pemerasan.
Wartawan amplop dan wartawan bodong adalah wujud anomali masyarakat. Dua duanya adalah penyimpangan profesi wartawan. Keberadaan wartawan amplop dan wartawan bodong jelas merugikan masyarakat. Pemberian uang kepada wartawan akan membuat independensi wartawan tergadai.
Sedangkan keberadaan wartawan bodong, selain mencemarkan profesi wartawan, mereka juga menutup akses informasi yang berguna bagi masyarakat. Sebab berita-berita tentang korupsi yang diketahui wartawan bodong hanya dijadikan komoditas bisnis oleh wartawan bodong
Wartawan bodong berani beroperasi karena ada tiga hal. Pertama, karena sumber berita masih menyediakan amplop untuk wartawan, dengan demikian wartawan bodong punya alasan utuk
menuntut “hak” yang sama. Kedua, wartawan bodong berani beroperasi karena ada sumber berita yang bisa diperas, yaitu para pejabat atau perusahaan yang bermasalah.
Ketiga, lemahnya kontrol dari masyarakat. Sejak diberlakukannya UU 40/l999, secara otomatis negara tak punya kontrol terhadap media. Sebab pendirian usaha pers tidak lagi memerlukan SIUPP dari pemerintah. Dengan liberalisasi media, siapa saja bisa mendirikan usaha pers, termasuk mereka yang bermodal dengkul.
Kemudahan pendirian usaha pers inilah yang dimanfaatkan para petualang. Mereka ini mendirikan “perusahaan pers” untuk kepentingannya sendiri dan tidak peduli dengan amanat UU 40/l999 seperti memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui, menegakkan demokrasi dan memperjuangkan keadilan (pasal 6).
Akibat adanya liberalisasi bidang pers ini, maka secara otomatis pengawasan kepada media – termasuk bagi yang menyalahgunakan fungsi media, berada di tangan masyarakat. Pengawasan bisa dilakukan dengan berbacai cara, seperti menghentikan anggaran pemberian amplop bagi wartawan hingga melaporkan wartawan bodong ke aparat hukum atau organisasi wartawan dan meneruskannya ke Dewan Pers.
Karena itu upaya untuk melawan wartawan amplop dan wartawan bodong harus didukung. Tetapi perlawanan ini tidak mempunyai daya dorong jika tidak disertai upaya hidup bersih dari korupsi. Selain mendorong masyakat hidup bersih dari korupsi, insan pers juga harus memperbaiki citranya dengan cara hidup bersih dari amplop.
Sikap anti amplop ini tidak cukup dengan hanya membuat larangan menerima amplop, tetapi perusahaan pers juga harus memberi upah yang layak dan pengawasan yang ketat bagi wartawannya.
Pengawasan kepada pers mutlak diperlukan karena pers masih dianggap sebagai pilar penegakan demokrasi. Kontrol ini diperlukan agar pers tetap berada pada cita-citanya. Jika masyarakat lalai mengawasi pers, maka jangan salahkan jika pers Indonesia akan dipenuhi wartawan sensasi, wartawan amplop dan wartawan bodong.


