Wajah Koran: Era Visual dan Estetika

May 30, 2008 · Filed Under jurnalisme · Comment 


Inspirasi terpenting dari munculnya beberapa media cetak baru (Jawa Pos, Media Indonesia, Republika, Detik Almarhum, Detektif Romantika, Gatra, dan laian–lain ) beberapa tahun terakhir adalah: sebuah kesadaran bahwa koran yang diterbitkan dengan wajah dan gaya “pas – pasan” harus buru – buru “sadar sendiri” kita, para pengelola harus segera sadar betapa sekarang adalah zaman dimana koran telah berada pada tatanan estetika sangat maju masyarakat pembacanya.

Sudah saatnya koran ditampilkan lebih “berilmu” berdisiplin, lebih cantik dan lebih profesional. Semangat romantisme para pekerja surat kabar harus betul – betul digeser menjadi semangat profesi. Dan kehadiran beberapa media cetak baru itu seperti hendak mecibir betapa “iba” melihat koran–koran yang dicetak karena “hanya” halaman–halaman sudah penuh dengan kum-pulan foto dan berita.
Bahwa koran selalu dipenuhi oleh orang–orang ber-bakat, tentu adalah benar. Penerbit surat kabar sebagai sebuah institusi adalah tempat para pekerja yang penuh semangat, juga tidak terlalu salah. Tapi celakanya, se-mangat perjuangan dan modal bakatlah yang sering muncul dominan. Sedangkan semangat yang lain yang sangat menonjol adalah semangat artistik, hanya diterje-mahkan secara “serampangan dan sambil lalu”.
Maka wajar ketika pencapaian di bidang estetika da-lam masyarakat telah begitu kompetitif, justru dunia koran kita dalam bentuk penampilannya yang pontang – pan-ting. Tak sedikit koran – koran lama dan tua , lebih – le-bih yang kecil harus tersingkir dan mati. Kalaupun ada beberapa yang hidup karena dihidup – hidupkan, itu tidak lebih dari tindakan meromantisasi masa silam saja.
Pada saat iklim kompetisi estetika begitu ketat seperti sekarang, gairah menampilkan (wajah) koran harus difor-mat sebagai sebuah kesenian yang sungguh. Dan dalam industri perkoranan sekarang, kesenian haruslah diperla-kukan sebagai sebuah disiplin ilmu betulan.
Bukan kelangenan! Metode – metode dasar seni harus “terukur” dengan baik serta “sekolahan”. Dalam persa-ingan yang wajar, bakat dan semangat pun sekarang rasanya sudah tak lagi cukup. Karena kehadiran media cetak generasi baru itu agaknya begitu kaya dengan “gaya – gaya” sekolahan disamping bakat dan semangat.
Sampai seberapa jauh sebenarnya gaya dan pe-nampilan kita dibutuhkan? Sejauh kebutuhan – ke-butuhan Koran yang lain. Tawaran visual berbagai televisi akhir–akhir ini juga lagi–lagi harus menyadarkan kita, bahwa ada yang berubah pada masyarakat kita. Gam-bar tiba – tibamenjadi sesuatu yang sangat penting. Me-ngemas, menata dan mengolah gambar juga menjadi keharusan. Sekarang, seorang penyanyi misalnya, tak cukup hanya bersuara bagus semata. Ia harus sensual, seksi dan memenuhi keharusan–keharusan visual yang lain. Sedikit banyak dari keterpengaruhan media pandang dengar terhadap masyarakat pembaca koran adalah adanya kecenderungan untuk cepat mereaksi. Cepat menolak atau sebaliknya ; mengandrungi. Gene-rasi koran muda seperti disebut di atas rasanya lebih siap dalam memasuki wilayah kompetisi kreativitas vi-sual jenis ini. Minimal, sedikit banyak mereka telah me-lewati persoalan tersulit tentang estetika.
The Straits Time, Koran Singapore yang juga ber-saing dengan koran–koran Indonesia, dalam waktu de-kat akan mengubah gaya penampilannya yang lama. Da-lam release yang dimuat Asian News Paper Focus bebe-rapa waktu lalu disebut hal yang tak kalah penting dari perwajahan TST adalah karena ia ingin menjangkau (to reach) generasi MTV Singapore, segmen yang semen-tara ini menjadi rebutan stasiun televisi. Maka itu kesan lama yang cenderung berat dan kaku selama ini harus buru– buru diganti dengan kesan ringan, cerah, berwarna dan enak dibaca.
Lantas bagaimana dengan beberapa penerbitan kita yang karena keterpaksaan tertentu tak mampu cetak penuh warna? Orang sering lupa bahwa hitam adalah bagian yang amat dominan dari penbendaharaan warna. Kita misalnya lebih biasa menyebut televisi hitam putih (grey scale) sebagai : bukan TV berwarna. Bahwa Mer-cusuar atau Suara Maluku tak mampu tampil warna – warni adalah iya. Tapi tampil dengan warna grey scale juga mestinya tak perlu terlalu dijadikan persoalan. Se-bab hitam putih pun sebenarnya telah banyak memberi alternatif pilihan.
Yang penting, sejauh mana kita bisa mengoptimalkan seratus gradasi dari hitam (black) 100% hingga 1%. Kompas Detik Almarhum misalnya, lebih memilih variasi grey scale, ketimbang Magenta, Cyan, dan Yellow. Tapi orang jarang berfikir bahwa Kompas tak mampu tampil full color. Maka itu, dalam berhadapan dengan keterbatasan seperti ini, anggaplah penampilan Grey Scale sebagai sebuah pilihan. Bukan keterpaksaan! Minimal sampai saatnya kemampuan untuk cetak penuh warna itu tiba.

Kita Belajar dari Pers Bebas

May 30, 2008 · Filed Under jurnalisme · Comment 

Kebebasan pers sejak reformasi, kini terancam. Tulisan Atmakusumah Astraatmadja yang dimuat di Harian Kompas ini, menarik dicermati, terutama oleh kalangan pers. Kini, banyak bermunculan kritik dan otokritik terhadap pers. Paling tidak, tulisan pengajar Lembaga Pers Dr Soetomo ini, bisa jadi bahan diskusi.

Kebebasan pers dan berekspresi muncul kembali di Indonesia dari
perjalanan panjang setelah menghilang selama 40 tahun—atau lebih
kurang dua generasi—antara 1950-an dan 1990-an. Dalam satu dasawarsa
terakhir kita berupaya membangun kembali kebebasan ini—yang pada suatu
masa, setengah abad yang lampau, pernah berkembang di negeri ini dalam
pemerintahan Presiden Soekarno pada awal 1950-an.

Dewan Perwakilan Rakyat menyetujui Undang-Undang Pers yang baru pada
13 September 1999 dan Presiden BJ Habibie mengesahkannya sepuluh hari
kemudian.

UU ini menjamin kebebasan atau kemerdekaan pers, menghapus sistem
lisensi berupa perizinan untuk membatasi kebebasan pers, dan
meniadakan kekuasaan pemerintah untuk melarang terbitan pers. Tindakan
penyensoran, pembredelan, dan pelarangan penyiaran terhadap media pers
cetak dan media siaran dikenai sanksi pidana penjara atau denda.
Wartawan memiliki hak tolak selain kebebasan untuk mencari,
memperoleh, dan menyebarluaskan gagasan serta informasi.

UU ini juga menghapus pembatasan tentang siapa yang dapat bekerja
sebagai wartawan dan mereka bebas memilih organisasi wartawan untuk
menjadi anggotanya.

Prof Janet E Steele, pengamat pers dan associate professor George
Washington University di Washington DC, menganggap UU Pers Tahun 1999
signifikan karena untuk pertama kali membalikkan kedudukan pers
Indonesia dari posisinya yang berbeda pada masa sebelumnya. Dalam satu
tulisannya, ia mengatakan bahwa UU ini memberikan sanksi pidana denda
atau penjara bagi yang berupaya membatasi kebebasan pers, bukan
sebaliknya mengancam pers. UU ini juga memungkinkan pers mengatur
dirinya sendiri dengan mendirikan Dewan Pers yang independen.

Walaupun demikian, pada masa Reformasi, setelah kejatuhan pemerintahan
Presiden Soeharto 21 Mei 1998, kita masih harus belajar keras tentang
cara menyampaikan pandangan dan sikap secara damai melalui dialog.

Tekanan publik

Berakhirnya rezim otoriter di Indonesia tidak harus berarti berakhir
pula tekanan dan ancaman terhadap pers. Selama masa reformasi, ancaman
terhadap media dan kebebasan pers dapat timbul dari publik, termasuk
para pejabat pemerintah di daerah, selain dari peraturan hukum dan
perundang-undangan, terutama dari hukum pidana.

Hanya dua bulan yang lalu harian Kompas, 9 dan 12 Maret, memberitakan
bahwa para pegawai Dinas Kebersihan dan Pemakaman Kota Jayapura
membuang sampah dari lima truk di depan kantor harian Papua Pos.
Tindakan ini merupakan protes terhadap pemuatan wawancara dengan ketua
DPRD Kota Jayapura yang mengkritik banyaknya sampah yang tak
tertanggulangi di kota itu. Rupanya kritik ini menyebabkan mereka
tersinggung. Wali Kota Jayapura kemudian meminta dinas itu mengambil
kembali sampah tersebut, yang baunya menyengat. Namun, ia membantah
telah meminta maaf kepada Papua Pos.

Memang ada kalangan yang lebih menyukai tindakan seperti dilakukan
Dinas Kebersihan Jayapura terhadap pers daripada menggunakan hak jawab
walaupun cara ini lebih dibenarkan secara universal. Kekerasan dan
tekanan terhadap pers dianggap sebagai reaksi yang lebih efektif,
meskipun keliru, daripada menggunakan argumentasi intelektual untuk
menyelesaikan konflik akibat pemberitaan.

Ada hikmahnya

Akan tetapi, kontroversi terbuka selalu ada hikmahnya. Baik pengelola
media pers maupun masyarakat luas saling belajar bahwa lebih mungkin
menciptakan saling pengertian tentang masalah-masalah penting dalam
atmosfer terbuka—yang merupakan ciri kebebasan pers dan demokrasi.

Sekarang kita mempunyai sekira 900 media pers cetak, tetapi kebanyakan
hanya memiliki tiras berjumlah kecil. Lagi pula, khalayak yang gemar
membaca surat kabar, majalah, dan tabloid itu kebanyakan tinggal di
kota-kota besar, seperti Jakarta dan ibu kota provinsi.

Kita juga mempunyai banyak stasiun radio dan televisi, milik negara
dan swasta, yang masing-masing mungkin berjumlah lebih dari 50 dan
lebih dari 3.000. Suatu pertumbuhan yang amat pesat dibandingkan
dengan pada masa Orde Baru, yang hanya memiliki masing-masing 6 dan
800 stasiun. Namun, para pengelolanya sangat hati-hati ketika harus
melaporkan dan membahas masalah sosial dan, terutama, masalah agama.
Mereka biasanya sangat peka terhadap kemungkinan mendapat reaksi keras
dari khalayak penonton dan pendengar.

Akan tetapi, dengan melakukan praktik swasensor (self censorship) yang
demikian ketat, media massa dan publik hanya dapat belajar secara
sangat terbatas dari pengalaman kita yang berharga dan bersejarah.

Benteng terakhir demokrasi

Indonesia, sejauh ini, baru 10 tahun hidup dalam atmosfer
demokrasi—sejak masa akhir Orde Baru yang membatasi perbincangan
terbuka dan terus terang tentang masalah-masalah sensitif, seperti
yang berkaitan dengan keamanan negara, ras, suku, dan agama. Kita
masih memerlukan waktu lebih lama untuk membangun masyarakat yang
berpikiran terbuka.

Kebebasan pers adalah harapan kita untuk melanjutkan idealisme pers
bebas yang memiliki tujuan pendidikan.

Wakil Direktur Eksekutif Centre for Strategic and International
Studies (CSIS) di Jakarta Rizal Sukma mengingatkan bahwa Indonesia
masih dipandang sebagai satu-satunya negara bebas di Asia Tenggara.
Pengakuan itu hanya mungkin karena media massa di Indonesia masih
terus menikmati dan mempertahankan kebebasan pers yang merupakan
benteng terakhir demokrasi.

Sayangnya, UU Pers Tahun 1999 justru digerogoti oleh UU Nomor 10 Tahun
2008 tentang Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD yang mengancam
kebebasan pers. Media yang dinilai tidak berlaku adil dan berimbang
kepada seluruh peserta pemilu dapat dikenai sanksi berupa pencabutan
izin penyelenggaraan siaran atau pencabutan izin penerbitan media
massa cetak. Ini jelas langkah surut bagi kebebasan pers di Indonesia.

Wartawan dan Humas

May 29, 2008 · Filed Under jurnalisme · 1 Comment 

Wartawan dan Humas ibarat dua sisi mata uang. Tidak jarang, antara kedua profesi ini berseberangan. Namun, ada beberapa cara menjalin hubungan antara wartawan dan humas. Makalah ini sudah dipresentasikan pada acara pengukuhan Badan Pimpinan Cabang Perhumas Batam, Sabtu 24 Mei 2008 di Goodway Hotel.


Serupa tapi Tak Sama
Wartawan dan humas saudara serumpun bagaikan dua sisi mata uang. Sama-sama mengelola informasi untuk publik dan saling membutuhkan. Namun sering terjadi, wartawan dan humas berseberangan, salah paham dan saling melecehkan. Tanya kenapa?

Tugas Wartawan
Melaksanakan kegiatan jurnalistik secara teratur. Mencari, mengolah, menyimpan dan menyampaikan informasi serta melakukan penga-wasan, kritik, koreksi dan saran.

Apalagi Syarat Wartawan?
Wartawan adalah Pilihan Bebas, medan pengabdian, panggilan profesi. Dihargai karena karya jurnalistiknya.
Jujur, independen, obyektif, kritis
Paham cara mengumpulkan data & fakta dan syarat berita: akurat, berimbang tidak melanggar norma dan rasa kesusilaan masyarakat, mewakili kepentingan publik.
Paham Kebebasan Pers
Utamakan data, investigasi dan analisis.
Orientasi pada society news,
kritis dan skeptis, tapi tidak apriori
Selalu ingin tahu fakta di balik berita.
Melaksanakan UU Pers dan Kode Etik Jurnalistik

Apa Tugas Seorang Humas?
Juru bicara
Membangun citra positif
Tangan kanan bos
Mengelola informasi
Komunikatif, lisan & tulisan
Proaktif, responsif dan solutif

Apalagi Tugas Humas?
Jujur (do what you talk, talk what you do)
Networking
Bicara runtut
Rajin membaca, mampu menulis
Tampil menarik (camera face)
Paham kode etik jurnalistik dan UU Pers

Wartawan di Mata Humas
Suka mencari-cari kesalahan
Arogan, megalomania dan sok tahu
Suka cari amplop dan ujungnya duit
Tidak menghargai orang lain
Suka memelintir berita
Banyak wartawan bodong
Tidak profesional

Humas di Mata Wartawan
Pembungkus keburukan dan borok institusi
Tukang propaganda dan penyebar siaran pers
Tukang kliping berita
Tidak menguasai masalah
Suka bilang No Comment

Nasib Wartawan
Dikejar-kejar deadline
Dimarahi atasan
Dicurigai terima amplop
Stand by siang malam
Masih banyak yang belum sejahtera
Jadi kambing hitam

Nasib Humas
Berita jelek dimarahi, berita bagus tidak dipuji
Banyak pendapat, kurang pendapatan
Dianggap orang buangan
Waktu kerja tak menentu
Terjepit antara pimpinan, publik dan pers
Tak didukung bagian/instansi lain

Kalau Humas dan Wartawan Berseberangan, Apa Jadinya?
Terjadi disinformasi
Melanggar hak publik untuk tahu (right to know)
Humas tak bisa menyebarkan informasi
Wartawan tak dapat berita

Humas Sahabat Pers
Humas dan Warwan harus meningkatkan profesionalisme
Bersahabat dan saling menghargai
Bangun dialog dua arah dan kepercayaan
Perbanyak pelatihan dan lihat dapur redaksi
Bikin pers gathering
Hasilkan berita berimbang, informasi latar belakang dan publik paham persoalan.

Siaran Pers
Humas bukan wartawan, tapi diharapkan bisa menulis dan paham berita.
Konferensi Pers = Background Information
Bagi wartawan, Humas bukanlah satu-satunya sumber informasi

Syarat Siaran Pers
Judul: singkat, padat, jelas
Teras berita: (lead) menarik dan memakai rumus 5 W + 1 H
Tubuh Berita: Bahasa mudah dipahami, bernilai berita, statistik, dll.
Bahasa Pers: Padat, sederhana, jelas, lugas
Media Contact : Alamat agar mudah dihubungi, telepon, email, website dll.

Nilai Berita
Tidak semua layak berita, halaman koran terbatas, harga kertas mahal!
Penting (significance) berpengaruh thd kehidupan orang lain.
Besar (magnitude)
Waktu (timeliness)
Dikenal (prominance)
Kedekatan (proximity)
Kemanusiaan (human interest)

Bagaimana Siaran Pers Menembus Surat Kabar?
Humas berpengalaman tahu, tidak mudah menembus surat kabar atau media bergengsi. Dan, inilah tantangannya. Kualitas siaran pers sangat menentukan dimuat atau tidak. Siaran pers yang bertele-tele, masuk tong sampah. Biasanya dua halaman

Redaktur sebagai Manajer

May 29, 2008 · Filed Under jurnalisme · 1 Comment 

Masuknya modal besar ke dalam dunia pers sejak de-kade 1980 telah mengubah wajah pers nasional. Bebe-rapa segi positif yang didapat sebagai akibat masuknya modal besar itu antara lain masuknya teknologi canggih yang memungkinkan percepatan informasi kepada pembaca. Selain itu, modal besar juga memaksa pers untuk juga mempercanggih system manajemennya, Ka-rena selama ini ada anggapan pengelolaan manajerial pers kurang professional.

Masuknya modal besar ke dalam dunia pers sejak de-kade 1980 telah mengubah wajah pers nasional. Bebe-rapa segi positif yang didapat sebagai akibat masuknya modal besar itu antara lain masuknya teknologi canggih yang memungkinkan percepatan informasi kepada pembaca. Selain itu, modal besar juga memaksa pers untuk juga mempercanggih system manajemennya, Ka-rena selama ini ada anggapan pengelolaan manajerial pers kurang professional.
Dengan berubahnya pes menjadi pers industri, dengan sendirinya sistem manajemen modern pun harus dite-rapkan. Dalam beberapa kasus, penerapan system ma-najemen profesional ini mengakibatkan pula perom-bakan dalam struktur organisasi keredaksian. Karena tuntutan manajemen modern, redaksi harus pula memiliki seorang “manager” yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan fungsi – fungsi manajerial konvensional di tubuh redaksi ( misanya budgeting ).
Fungsi ini biasanya dijalankan oleh seorang redaktur pelaksana atau redaktur senior yang diberi jabatan sebagai Manager Redaksi. Dalam kasus Jawa Pos, pe-nerapan sistem manajemen profesiona itu meng-hasil-kan perombakan yang cukup mendasar dalam tubuh or-ganisasi redaksi. Perubahan ini disebut mendasar, ka-rena selama ini belum pernah diterapkan oleh organisasi redaksi media lain.
Pada struktur yang lama, seorang pemimpin redaksi sekaligus mempunyai kewenangan (atau tugas) yang luas, baik dalam menjalankan kebijaksanaan redak-sio-nal harian (dan juga kebijaksanaan redaksional yang sifatnya strategis) sekaligus juga menjalankan fungsi manajerial (dalam kasus Jawa Pos, Pemred adalah “Direktur Utama” dan hal ini juga terjadi pada penerbitan pers pada umumnya).
Dalam struktur yang baru, Pemred melepaskan fung-sinya yang pertama (kecuali fungsi strategis) dan melim-pahkan kewenangannya itu kepada “Kepala Redaksi” yang menjadi penanggung jawab sehari – hari baik ma-najerial maupun redaksional.
Dengan struktur baru ini, pemimpin redaksi bisa me-ngembangkan fungsinya yang maksimal sebagai “Di-rektur Utama” sebuah perusahaan, termasuk melakukan ekspansi. Ia hanya melakukan campur tangan minimal dalam keputusan redaksional sehari – hari, kecuali jika ada keputusan yang sifatnya strategis.
Penerapan sistem baru ini menghadapi kendala, teru-tama karena munculnya anggapan telah terjadi “Mar-jinalisasi” peran redaksi dalam sebuah perusahaan Pers. Dalam struktur baru ini terihat bahwa daam posisi de-partemen redaksi disejajarkan dengan departemen yang lain, misalnya pemasaran, keuangan, dan iklan. Dan bah-kan, ada yang beranggapan dalam pengalaman Jawa Pos bahwa dalam sebuah Perusahaan pers peran de-partemen iklan lebih penting ketimbang redaksi. Karena munculnya anggapan ini, mau tidak mau isu marjinalisasi redaksi semakin santer. Manajemen menyadari hal ini, dan berusaha melakukan perbaikan misalnya dengan dikeluarkannya “pengakuan” terhadap profesionalisme redaksi dalam bentuk TP (Tunjangan Profesi) bagi re-daksi. Dan, daam perkembangannya terbukti bahwa ba-gian redaksi tetap mempunyai peran yang sangat penting dalam pengembangan perusahaan, dan karena itu ke-mudian belakangan ini dirasakan ada upaya untuk “me-rehabilitasi” redaksi.
Tetapi, sebenarnya anggapan diatas tidak seluruhnya benar. Restrukturisasi tersebut menghasilkan sebuah tatanan baru yang benar – benar tersistem. Anggapan bahwa bagian redaksi adalah bagian yang tidak disiplin belakangan terkikis. Hadirnya seorang kepala redaksi yang sehari – hari bertanggung jawab terhadap ope-rasionalisme redaksi (redaksional maupun manajerial) sangat membantu dalam upaya pendisiplinan bagian re-daksi, terutama dalam anggaran disiplin yang selama ini dianggap paling rendah. Hasilnya redaksi mem-beri-kan kontribusi besar dalam proses penataan sistem ma-najemen Jawa Pos.
Manajemen bisa didefinisikan sebagai “proses mendi-sain dan menjaga (maintain) sebuah lingkungan (environ-ment) dimana seorang (individual) bekerja bersama da-lam sebuah kelompok untuk mencapai tujuan – tujuan tertentu secara efisien. Definisi ini bisa dielaborasi sebagai berikut :
Seorang manager bertugas melaksanakan fungsi – fungsi manajerial seperti, perencanaan (Planning), Peng-organisasian (Organizing), Pengaturan Staff (Staffing), Kepemimpinan (Leading) dan Pengawasan (Con-tro-lling). Asas – asas manajemen ini berlaku terhadap se-gala macam jenis organisasi. Asas – asas manajemen ini berlaku pada manager pada setiap level. Tujuan semua manager sama ; menciptakan surplus. Mana-jemen konsep terhadap produktivitas yang sangat erat hubungannya dengan efektivitas dan efisi-ensi.
Karena itu, manager bertanggung jawab terhadap tin-dakan yang mendorong individual untuk memberikan kontribusi terbaiknya terhadap tujuan (Objective) sebuah kelompok. Karenanya, asas – asas manajemen itu ber-laku terhadap semua organisasi, baik yang kecil maupun yang besar, organisasi profit maupun nonprofit, Peru-sahaan manufacturing maupun industri.
Ini mencakup organisasi bisnis, badan pemerintahan, rumah sakit, universitas, dan organisasi – organisasi lainnya. Karena itu, organisasi yang efektif menjadi dam-baan semua orang mulai dari Dirut perusahaan, Direktur rumah Sakit, Rektor Universitas, Redaktur Surat Kabar, sampai Ketua Takmir Masjid.
Dalam hal ini, seorang redaktur mempunyai “dwi Fungsi manajemen” ia tidak hanya melakukan fungsi manajerial konvensional (misalnya melakukan budgeting), tetapi juga menjalankan tugas – tugas manajerial redaksional. Planning (Perencanaan) bagi seorang manager, berarti melakukan perencanaan anggaran untuk mencapai tu-juan tertentu. Tetapi bagi seorang redaktur, hal itu bisa juga berarti ia harus membuat perencanaan pem-beri-taan, menjelaskan strategi untuk mendapatkan infor-masi, termasuk menyediakan anggaran untuk mengejar informasi. Fungsi ini bisa ia lakukan secara harian, tetapi juga bisa ia lakukan dalam periode tertentu (tahunan) seperti yang berlaku di Jawa Pos. hal yang sama juga terjadi dalam tiga fungsi lainnya yaitu organizing, staffing dan controlling.
Dalam sistem organisasi Jawa Pos yang baru, seorang redaktur secara formal disetarakan dengan seorang ma-nager atau supervisor. Ini berarti seorang redaktur (sesu-ai kesepakatan) harus menjalankan fungsi manajerialnya sesuai dengan kesepakatannya. Karena itu, dalam sebuah organisasi pers modern, seorang redaktur dituntut juga untuk memahami dan menerapkan fungsinya sebagai manager. Ini juga berarti seorang redaktur harus konsen terhadap pro-duktifitas, efisiensi dan efektivitas.

Redaktur dan Editing

May 29, 2008 · Filed Under jurnalisme · Comment 

Masyarakat dan sumber berita akhir – akhri ini me-ngeluh bahwa koran-koran, masih terlalu sering salah. Sayangnya, mungkin karena rutinitas kerja segenap pe-kerja Koran yang koras apalagi yang terbit harian, ke-luhan itu sering berlalu dan dilupakan begitu saja.

Yang memperhatinkan sekali pun tingkat kesalahan itu cukup fatal, kadang kita lupa (atau tidak menyadari ber-buat kesalahan) untuk meralatnya. Begitu membaca ada yang “salah” dari berita kita, pembaca yang perduli bia-sanya telepon ke sekretaris redaksi pada pagi atau si-ang hari ketika para redaktur dan wartawan belum dating, sehingga dilayani seadanya saja dan sering juga tidak terkomunikasikan ke penanggung jawab halaman. Aki-batnya kritik dan “pesan” itu mubazir begitu saja.
Kritik yang relatif efektif adalah lewat surat, khususnya yang dialamatkan lewat rubric pembaca menuis. Sa-yangnya, rentang waktu kiriman pos yang agak lama me-ngakibatkan aktualitas dari pesan itu menjadi berkurang. Memang ada yang kirim lewat faks tapi jumlahnya masih sedikit.
Kalau Koran sering keliru maka akan mengganggu kre-dibilitasnya. Karena pada dasaranya Koran adalah bisnis kepercayaan. Kesalahan – kesalahan itu kalau beraku-mulasi akan menyebabkan media ditinggalkan pemba-canya (terutama yang kritis).
Kesalahan – kesalahan umum yang sering dikeluhkan pembaca, sumber berita atau pihak – pihak yang terkena dampak itu, misalnya salah tulis, salah kutip pernyataan, salah judul, salah menangkap maksud sumber berita, salah penyebutan waktu, berita dobel (pada edisi yang sama), berita terulang (dengan edisi sebelumnya), berita yang berat sebelah (mengabaikan prinsip coverage both side), dan lain –lain.
Pembaca terutama jenis pelanggan (yang bisa digo-longkan sebagai kelas menengah) kini makin perduli, misalnya soal akurasi. Mereka juga menuntut berita yang objektif, jujur, tak memihak dan santun. Mereka tidak ingin ketinggalan isu – isu yang aktual. Oleh mereka, Koran dipakai sebagai alat membantu menganalisis kejadian yang terjadi disekitarnya.
Mereka sebetulnya tidak menginginkan koran menjadi terlalu berani (karena mereka sudah pernah “kehilangan” dengan dibreidelnya Tempo, dan lain – lain). Tetapi me-reka juga tidak ingin koran menjadi mandul, sehingga tak berani memberitakan persoalan – persoalan yang riil yang jadi pertanyaan di benak pembaca (meski soal itu menyerempet “bahaya”). Jadi, persoalannya adalah bagaimana cara mengemas dan menyajikannya. Sehingga permunculan berita tetap “aman” alias tidak membuat marah siapa pun tanpa kehilangan objektivitasnya.

Akurasi
Editing adalah bagian penting dari proses kerja di ko-ran. Sebab, banyak kesalahan yang muncul dikoran yang di keluhkan pembaca sebenarnya bisa dikurangi jika proses ditingkat editing sudah dilakukan dengan benar. Di Jawa Pos, berita yang ditulis wartawan mengalami dua kali proses editing. Pertama oleh redaktur halaman dan kemudian oleh copy-editor. Yang terakhir terutama mencermati dari sisi kebahasaannya.
Berita tidak saja harus punya bobot (news value) tepi juga disajikan menarik. Karena itu redaktur harus pandai memilih judul yang menarik, mencermati apakah angel, teras berita (lead)-nya sudha bagus, pilihan kata – kata dan penulisannya sudah benar. Seorang redaktur juga haruslah kritis mencermati “kebenaran material” berita yang diperoleh reporter dari lapangan.
Jadi redaktur jangan sekedar jadi “tukang temple”. Se-bab, kerap terjadi, setelah membaca berita wartawan secara sekilas (tanpa mempertanyakan materi berita-nya), redaktur kemudian membubuinya judul dan menyer-ahkannya ke kopi-editor. Akibatnya, beban kopi-editor (yang sebenarnya hanya mengoreksi dari kebahasa-annya) jadi bertambah berat, karena dengan tingkat keawaman kopi-editor pun tahu ada banyak “kebenaran” yang dipertanyakan.
Jadi sebaiknya, saat berita itu lolos dari redaktur, maka tingkat akurasi mulai dari nama – nama, tempat kejadian, waktu, sitilah – istilah (termasuk yang dalam bahasa Ing-gris) dalam beirta itu sudah terjaga. Kopi-editor tinggal membenahi struktur kalimatnya saja atau kesalahan – kesalahan ketik.
Karena kebenaran material itu sangat penting, maka redaktur haruslah punya wawasan yang cukup tentang pokok masalah dari berita yang ditulis reporter. Dengan begitu,ada upaya “pengayaan” isi sehingga berita itu tidk kering. Karena itu, sebaiknya untuk berita – berita yang menyangkut aspek – aspek khusus, seperti berita eko-nomi, hukum, kesehatan, perlu diedit lebih dulu oleh re-daktur yang menguasai soal itu. Bahkan, di Jawa Pos pernah ada redaktur “ahli ABRI”, “ahli musik dangdut”, “ahli Iptek” dan lain-lain.
Tapi tak jarang terjadi, ,reporter lebih menguasai suatu persoalan, karena dia terus mengikuti perkembangan berita, banyak membaca dan berdiskusi dengan sumber berita. Dalam kasus seperti ini redaktur tak perlu malu bertanya ke reporter jika adal hal yang tidak diketahuinya.

Etika
Penilaian terhadap Koran bukan hanya pada apakah media itu layak dipercaya, seperti tingkat akurasi, objek-tivitas fakta yang disajikan, tapi juga bagaimana cara media itu “menggarap berita”, memperlakukan sumber berita dan mengantisipasi dampak sebuah berita bagi orang perorangan atau kelompok “jiwa” yang ditampilkan media itu.
Kita sudah sepakat untuk menghindari berita – beirta yang mengandung unsur SARA. Tapi, untuk hal – hal serupa tapi lebih “ringan” kita masih kerap kebobolan. Misalnya pernyataan (atau guyonan) dari Gus Dur soal salat terawih baru – baru ini yang mengundang banyak protes (terutama dari warga muhammadiyyah).
Kini ada sebagian masyarakat kita yang takut bertemu wartawan. Mungkin karena ada kecenderungan koran untuk “memvonis”. Membuat berita yang sepihak. Jangan hanya menampilkan sisi – sisi yang buruk saja dari tersangka alias orang – orang yang “kebetulan” dipe-riksa polisi atau kejaksaan.
Redaktur harus menolak berita yang ditulis dengan mengabaikan prinsip keseimbangan itu. Sebab, ada je-nis reporter yang memang malas untuk mengejar sumber berita untuk memberikan “hak jawab” atas dampak negative dari berita itu.
Selain itu, ada juga reporter yang memang sengaja memihak. Kalaupun redaktur terpaksa menurunkan berita yang sepihak karena kesulitan teknis maka dia harus menugasi reporter untuk memberi kesempatan pertama pada pihak – pihak yang dirugikan itu.
Meski bukan akibat pembuatan langsung media, ka-dang kita melakukan kesalahan yang cukup fatal. Misal-nya kasus perampokan uang didepan kantor gubernur tak lama berselang. Pihak penyidik pada mulanya malah mencurigai pelapor (seorang ibu yang pegawai negeri) sebagai tersangka. Berita ini lalu dilansir media, se-hingga yang bersangkutan dan keluarganya stress. Tapi, dikemudian hari polisi akhirnya membekuk beberapa tersangka sebenarnya dan bahkan menembak mati. Anehnya, media tak pernah merehabilitasi “nama ibu lugu” yang sudah terlanjur lugu itu. Jadi kesimpulannya, editing bukan hanya dimasudkan agar berita itu jadi enak dibaca tapi juga untuk membebaskan berita itu dari ane-ka macam distorsi, pemihakan, atau “menyakiti” orang lain.
Mengingat begitu pentingnya proses editing itu, maka seorang yang menjalankan proses editing seharusnya bukanlah tipe orang dibelakang meja. Dia harus punya pergaulan luas, berpengetahuan dan banyak membaca.
Memperbanyak kursus – kursus pelatihan pada pekerja pers, khususnya redaktur. Misalnya seorang redaktur ekonomi ikut kursus pasar modal, perbankan, dan lain – lain.
Redaktur perlu mengembangkan proses komunikasi dan penularan yang intensif denga reporternya, khu-susnya dalam perencanaan dan penulisan berita. De-ngan begitu proses “editing” bukan hanya ketika berita itu sudah dibuat, tapi sudah inheren sejak ketika reporter mencari berita di lapangan.

Redaktur: Koki Berita

May 29, 2008 · Filed Under jurnalisme · Comment 

SEORANG Redaktur sangat akrab dengan pekerjaan di media massa. Apa dan siapa yang disebut redaktur? Redaktur lazim juga disebut sebagai editor, adalah orang yang melakukan penyuntingan (editing) dan juga melengkapi naskah-naskah berita yang ditulis oleh wartawan atau reporter.

Ada yang mengibaratkan, tugas seorang redaktur mirip seorang koki masakan. Bahan-bahan yang dikumpulkan seorang wartawan di lapangan, diedit, diolah, ditambahi atau dikurangi seorang redaktur, persis seperti orang mengolah masakan sehingga berita yang disajikan jadi menarik, enak dibaca dan mudah dimengerti.
Redaktur umumnya berasal dari reporter lapangan yang dalam karirnya kemudian naik menjadi redaktur mu-da, madya dan kemudian redaktur kepala atau re-daktur bidang, yakni yang membawahi bidang tertentu (seperti politik, pertahanan keamanan, ekonomi, perkotaan, hukum kriminal, olahraga) atau halaman tertentu di media cetak.
Redaktur yang cemerlang karirnya bisa diangkat men-jadi Redaktur Pelaksana ataupun Redaktur Eksekutif, yakni orang yang memimpin pelaksanaan harian operasi sebuah redaksi media cetak ataupun elektronik.
Dalam jurnalisme elektronik, istilah redaktur lebih sering disebut editor. Di sini editor ditujukan kepada orang yang melakukan penyuntingan gambar video baik untuk keperluan berita maupun produksi program televisi lain-nya. Editor jenis ini juga disebut sebagai tape editor atau pun audio-visual editor.
Pada perkembangannya, media cetak pun meng-gunakan istilah editor untuk merujuk pada posisi redaktur ini. Istilah editor diserap dari bahasa Inggris, sementara redaktur merupakan serapan dari bahasa Belanda, redacteur.

CARA KERJA SEORANG REDAKTUR

Tugas editing (penyuntingan) yang dihadapi redaktur di daerah cukup berat. Selain karena kualitas sumber daya (terutama reporter) terbatas, beberapa media sahamnya juga memiliki Pemda setempat. Dengan be-gitu, tantangan yang dihadapi bukan saja bagaimana menyajikan berita semenarik mungkin, tapi juga bagai-mana menjaga agar redaksi tetap independen.
Proses editing sangat penting peranannya dalam me-nentukan kualitas kerja redaksi, karena mutu produk akhir yang disajikan kepada pembaca (baik berupa be-rita, foto, grafis, dan lain – lain) yang dimuat dikoran diten-tukan pada tahapan ini. Karena itu, proses editing ini di-serahkan kepada wartawan yang sudah senior, berpe-ngalaman, dan berwawasan.
Editing dimaksudkan untuk mengetahui antara lain apakah: 1. berita itu layak dimuat misalnya, memenuhi standar rukun iman berita atau layak berita). 2. Fakta yang terkandung dalam berita itu sudah benar. 3. Ditulis dengan baik (berbahasa Indonesia dengan benar, tuli-sannya runtut dan menarik, bisa dipahami oleh pembaca dan lain – lain). 4. Memenuhi standard moral (seimbang, coverage both side, tak melanggar kode etik). 5. Dipero-leh lewat prosedur yang benar, serta memprediksikan seberapa jauh dampak pengaruh berita itu bagi media yang bersangkutan (misalnya untuk berita – berita yang agak menyerempet bahaya kepihak ketiga).
Deskripsi diatas menunjukkan bahwa tugas seorang redaktur yang melaksanakan tugas editing cukup berat. Sebab, seperti yang terjadi di beberapa media, redaktur juga punya tugas harian lainnya, seperti ikut meren-canakan berita, fungsi koordinasi liputan, pengarah tata letak dan lain –lain.

Keseimbangan
Akhir – akhir ini ada kecenderungan para pekerja pers agak berani melanggar “kode etik”. Misalnya memuat berita yang sepihak sehingga merugikan pihak lain. Bia-sanya hal ini karena ketidakperdulian/kemalasan untuk mendorong wartawan melengkapi sumber beritanya.
Berita di boks kiri bawah Metropolis tentang wanita, sungguh pun digemari para pembaca, rawan komplain. Sebab, seringkali berita itu didapat secara sepihak (bah-kan seringkali daripengacara sang klien), tanpa ada upaya menghubungi pihak “lawan” dari klien pengacara tersebut.
Yang juga sering mendapat komplain adalah mem-bawa – bawa nama lembaga yang tak terkait langsung dari pelaku atau korban kriminal. Contoh terbaru adalah kasus Kepala Bagian Keuangan Unair yang menjadi ter-sangka penipuan puluhan juta. Demikian pula tentang istri kepala capem BCA yang dibantai perampok, karya-wan BTN yang meninggal di kamar rumah karyawati Bank Aspac dan lain –lain.
Menurut hemat saya, kita boleh menyebut identitas tersangka/korban dengan kelembagaan tertentu yang tak terkait langsung pada isi berita, bukan pada judul.

Akurasi
Masalah akurasi akhir – akhir ini juga sering dilupakan. Mulai dari yang kecil – kecil seperti soal nama orang, tempat kejadian, penulisan ejaan, jabatan, bahasa asing/daerah, sampai salah kutip pernyataan atau salah per-sepsi. Sebagai contoh, pernah terjadi wartawan salah menulis pernyataan H Roeslan Abdulgani soal temannya seperjuangan. Waktu itu disebutkan nama Soemitro Djo-johadikusumo tapi ditulis Soebandrio (tokoh PKI). Seo-rang wartawan senior dari Straits Times menyebut bahwa sarat bagi sebuah berita itu adalah akurasi, akurasi dan akurasi.

Pra Editing
Yang jadi persoalan sehari – hari bagi redaktur dalam mengedit berita adalah terbatasnya waktu. Pada ha-laman ekonomi bisnis, misalnya wartawan umumnya baru dating ke kantor pukul 16.00 sementara deadline pukul 22.00. pada waktu yang sesingkat itu redaktur ha-rus mengedit enam atau delapan berita, menyiapkan foto, mengatur tata letak, dan lain – lain.
Karena itu kedatangan redaktur lebih awal ke kantor untuk memonitori “listing” berita hari itu sangat penting. Sebab, ini sangat membantu redaktur untuk membuat “pra editing” seperti menentukan berita utama (opening) hari itu, pengaturan foto, termasuk pemilihan angle dan teras berita yang pas.
Proses pra-editing ini ternyata sangat perlu, Karena dengan persiapan yang cukup maka kita jadi punya per-siapan waktu dan materi yang cukup untuk membuat edi-ting berita dengan baik, mengatur foto, membuat grafis, dan lain – lain. Yang juga tak kalah penting adalah mem-perkaya “berita” itu dengan referensi lain yang mungkin tak diperoleh wartawan.

Format Penulisan
Bahasa pers memiliki safat khas yaitu singkat, padat, sederhana, jelas, lugas, dan menarik. Meski demikian, bahasa pers sebagai salah satu ragam Bahasa Indo-nesia harus taat pada kaidah, ejaan yang benar, serta bahasa baku (yang paling banyak dipakai oleh lapisan masyarakat, baik dalam bahasa tulis maupun lisan). Yang juga harus diingat bahwa per situ dibaca oleh segala lapisan, baik strata pendidikan maupun ekonomi, Karena itu bahasa dan istilah yang dipakai wartawan harus bisa dimengerti oleh segala lapisan.
Itu sebabnya, istilah – istilah rumit pada berita eko-nomi, hukum, kesehatan, dan lain – lain mestinya harus dijelaskan. Demikian juga sebisa – bisanya pemakaian bahasa asing dibatasi sesedikit mungkin.
Beberapa nasihat untuk tulisan berita yang baik : kali-matnya pendek – pendek, mengalir (logis) dan jernih, menggunakan kalimat aktif, bukan pasif. Sebaliknya tulisan yang sulit dipahami pembaca adalah yang kalimat dan alineanya panjang – panjang, memakai ba-nyak istilah teknis, asing dan bahasa daerah.

Anda Buntu Menulis?

May 29, 2008 · Filed Under jurnalisme · Comment 

Kadang-kadang, kita merasa buntu dan malas sekali menulis. Padahal, sebagai wartawan, kita hidup dan dihargai orang lain karena tulisan. Bahkan penulis yang mahir sering menghadapi “wri-ter’s block”—kebuntuan menulis. Apa yang bisa dila-kukan untuk mengatasi ini? Berikut sejumlah kiat sederhana:

Simpan Tulisan Favorit
Simpan tulisan Anda yang terbagus menurut Anda. Ba-ca kembali ketika Anda menjadi terlalu kritis terhadap diri sendiri sampai tak berdaya menulis. Ini akan me-ngembalikan rasa percaya diri yang akan mendorong Anda untuk mulai menulis.

Ubah Sudut Pandang
Cobalah untuk melihat apa saja yang Anda tulis dari sudut pandang berbeda untuk sementara waktu. Ini akan membuat Anda menilai suatu masalah secara obyektif dan secara kreatif sekaligus, serta memacu dorongan untuk menulis.

Ambil Jarak
Seringkali Anda harus menyisihkan tulisan secara fisik dan membiarkan alam bawah sadar Anda “menger-jakan” tulisan itu. Pergilah berjalan-jalan, atau menger-jakan apa saja yang lain, dan kembalilah setelah se-gar.

Runtuhkan Kerutinan
Coba menulis pada waktu yang berbeda dari kebia-saan Anda, makan di restoran tradisional yang baru dibuka, belanja di pasar yang berbeda atau mengam-bil rute lain ketika pulang ke rumah. Melakukan sesu-atu secara berbeda memungkinkan Anda untuk melihat masalah secara baru dan mengeksplorasi pengalaman baru yang tidak pernah Anda lakukan.

Ganti alat tulis Anda
Jika Anda biasa menggunakan komputer pengolah kata, coba menulis dengan mesin ketik atau tulis ta-ngan.

Ubah Lingkungan kerja
Temukan tempat baru untuk menulis. Parkir mobil An-da di tempat dengan pemandangan indah dan mulai-lah menulis. Atau menulislah di taman dekat rumah Anda sekadar untuk membuat perubahan suasana.

Bicaralah kepada Anak-anak
Sungguh, cobalah bicarakan topik yang Anda tulis pa-da anak-anak! Bahkan jika mereka tidak sepenuhnya memahami subyek yang Anda katakan mereka umum-nya memiliki pendapat yang unik dan seringkali bisa membantu Anda melihat sebuah topik dari sudut pan-dang yang sama sekali berbeda. ******

Life Begin Fourthy One 20/05/67 – 20/05/08

May 21, 2008 · Filed Under pribadi · Comment 

Hidup dimulai pada usia 40 tahun. Selasa, 20 Mei 2008 saya genap 41 tahun. Saya berharap lebih sehat, lebih sabar dan makin bijak dan menjadi pemimpin yang adil. Meski libur dan tanggal merah, saya bahagia mendapat ucapan selamat dari orang-orang dekat dan keluarga.

Sehari sebelumnya, saya sibuk dengan acara Safari Jurnalistik PWI di Nagoya Plasa Hotel. Acara berjalan sukses dan dihadiri Gubernur Kepri,Ketua DPRD Kepri, Ketua DPRD Batam, Asisten III Wali Kota serta anggota DPRD Batam. Tiga tahun lalu, PWI Kepri juga sukses menggelar Training of Trainer dan menjadi yang terbaik di Indonesia.
Malamnya, SMS ucapan selamat ulang tahun mulai dikirim ke HP saya. Saya capek dan tidur-tiduran di kamar hotel. Tengah malam, menjelang pulang ke rumah, tiba-tiba muncul beberapa karyawan Batam Pos dan Posmetro Batam memberi kejutan.
”Selamat ulang tahun,” kata mereka, sambil membawa roti dan kentang, lalu dipasangi sebatang lilin. Bukan lilin ulang tahun, tapi lilin biasa yang dipasang kalau listrik mati. Saya terharu. Saat itu sekitar pukul 02.00 WIB. Ada Sigit, Rikson, Vina, Uci, Loli, Susi dan Tia. Saya traktir mereka ngopi dan makan ke Mc Donald subuh itu.
Dengan mata ngantuk berat, saya sampai di rumah pukul 04.00 subuh. Paginya, ciuman mesra dari istri saya, mendarat di pipi. ”Papa, selamat ulang tahun,” katanya. Siangnya, saya ke hotel lagi karena ada rombongan PWI Pusat yang harus terbang ke Jakarta.
Dalam perjalanan, Wina Armada, anggota Dewan Pers dan Sekjen PWI itu bertanya berapa umur saya. ”Hari ini tepat 41 tahun,” kata saya.
Wah, kalau begitu, selamat ulang tahun, ya? kata Wina seraya menyebutkan, ia tanya umur saya hanya feeling-nya saja.
Pulang dari bandara, saya ketiduran. Ternyata, sorenya dua buah hati saya, Axel Ariel Muhammad dan Sonya dan istri saya Yenni sudah menyiapkan kue ulang tahun. Sore itu saya masih sempat berkebun. Anak saya minta, agar lilin segera dinyalakan dan acara ultah sederhana di rumah dimulai.
Malamnya, saya telepon kakak dan adik saya Linda dan Ira agar bergabung. Di rumah, ada Novi dan suaminya Agus. Saya juga ajak Ridwan Ginting, guru saya nyetir. Hampir semua ponakan hadir. Kami menuju restoran Sri Rejeki di Batu Besar. Acara ulang tahun bersama keluarga pun dimulai.
Mama memberi saya kado. Isinya, sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Sebuah buku. Tapi, buku kali ini lebih istimewa, yakni buku pintar haji dan umroh. ”Keluarga sudah, kedudukan sudah, rumah dan mobil sudah. Hanya naik haji yang belum,” kata mama. Insya Allah!
Orang Amerika bilang, life begin fourthy atau hidup dimulai umur 40 tahun. Entah apa arti harfiahnya. Usia saya sudah 41 tahun. Banyak hal yang sudah saya capai dan berkah dari Allah SWT.Sepasang anak yang cantik dan ganteng, istri yang baik, keluarga yang hangat dan akrab, serta direktur perusahaan media terkemuka. Terima kasih ya Allah.
Namun, setiap ulang tahun saya, setiap itu pula hari Kebangkitan Nasional dirayakan. Apalagi, kali ini seabad hari kebangkitan itu. Hari ini, kebangkitan itu sangat diperlukan. Negara terancam kolaps setelah harga minyak dunia naik gila-gilaan. Sebentar lagi, harga BBM di dalam negeri, juga akan dinaikkan. Aksi demo menentang kenaikan BBM marak dimana-mana.
Indonesia Bisa! kata Presiden SBY membangkitkan semangat bangsa yang makin terpuruk. Meski slogan itu meniru Malaysia, pemimpin harus tetap optimis. Ibu SK Trimurti pengetik naskah proklamasi dan Ali Sadikin mantan gubernur DKI yang kontroversial itu, wafat.
Di hari Kebangkitan Indonesia ini, saya ingin menjadi orang Indonesia yang lebih baik, berguna bagi orang Indonesia lainnya. ***

Lihat Kebun Bungaku

May 21, 2008 · Filed Under pribadi · 1 Comment 

Keinginan punya kebun bunga, akhirnya terkabul juga. Selain menyalurkan hobi bercocok tanam, lingkungan jadi asri, bisa dapat uang pula. Inilah cerita kebun bungaku–yang belum diberi nama–di tikungan jalan kompleks Taman BPD Indah, Batam Centre.

Sudah lama saya ingin punya kebun bunga. Lantaran dapat membeli rumah di bukit yang dipotong, ada buffer zone berbentuk tebing dan bisa memandang jalan raya. Tebing di depan rumah itu, saya jadikan taman. Kebetulan, ada adik kelas di INS Kayutanam dulu yang jago bikin relief.
Dulu, tebing di depan rumah itu penuh rumput ilalang dan paritnya kotor. Sekali tiga bulan, saya panggil tukang potong rumput membabatnya. Apalagi, dua rumah di sebelah rumah saya dibiarkan kosong oleh pemiliknya.
Kalau sekitar rumah tak dibersihkan, nyamuk merajalela.
Kebetulan, saya dipercaya warga menjadi Ketua RW selama tiga tahun. Saya sering pulang malam dan bertemu dua satpam kompleks. Sering ia mengeluh lantaran gajinya tak cukup. Apalagi kalau ada warga yang menunggak uang keamanan. Bagaimana saya bisa membantunya?
Spontan, saya tawarkan kepadanya, apakah ia mau merangkap jadi tukang kebun? Jadi, gajinya bisa dobel. Petrus, warga Flores itu mau. Lantaran ia tak tahu berkebun bunga, saya belikan buku dan menyuruhnya membaca. Ternyata, berbisnis bunga bisa menghasilkan uang banyak. Yang penting, Anda hobi berkebun bunga.
Ada dua ancaman berkebun bunga. Yakni bunga bisa mati karena tidak dirawat atau salah media tanamnya dan dicuri orang. Saya pernah mengalaminya. Bunga aunthurium yang sudah keluar dua bonggolnya digasak maling dari teras rumah.
Sejak bulan Mei 2007 itulah, saya mulai berburu bunga. Beruntung, saya bisa membeli berjenis-jenis bunga termasuk puluhan bakalan bonsai beringin Rp300 ribu. Banyaknya satu lori! Saya juga mengurus izin peminjaman lahan ke Otorita Batam. Luas kebun bunga saya lumayan. 100 meter x 8 meter, termasuk tebing.
Saya mulai membeli bunga, meski dalam jumlah terbatas. Mulai dari Sekupang, Batuaji hingga saya beli kalau kebetulan keluar kota seperti ke Natuna, Pekanbaru, Payakumbuh, Jakarta. Malah, ada bunga yang saya datangkan dari Surabaya dan Medan. Tak terasa, beli pot, polibag, tanah hitam, gaji tukang kebun, bikin gazebo menelan dana yang cukup besar hingga puluhan juta.
Kadang-kadang, saya merasa seperti gila bunga. Di pekanbaru, saya beli bunga murah yang ditanam di pot kaleng bekas dan berkarat. Bunga itu saya bawa ke hotel. Bagaimana cara membawanya. Tanahnya saya gali pakai sendok, lalu dimasukkan ke plastik dan dibungkus kardus. Tanah di kamar mandi yang berserakan saya semprot sampai bersih. Bunga jenis keladi itu laku Rp15 ribu satu pot.
Lama-lama, tak kuat juga di kantong beli bibit bunga. Kadang-kadang, pada hari Minggu saya ke hutan berburu pohon yang bisa dibonsai. Beberapa di antaranya mati, tapi ada juga yang hidup. Pelan tapi pasti, kebun bunga saya mulai terisi berbagai jenis bunga dan tanaman. Selama setahun, apa hasilnya?
Hasil penjualan bunga jauh dari memadai. Tampaknya, butuh kesabaran mengurus kebun bunga. Tapi, yang saya senang, warga di kompleks saya ikut senang melihat kebun bunga itu. ”Nah, ini baru namanya Taman BPD Indah, ya pak,” kata mereka. Soalnya, meski namanya pakai Taman, tidak ada taman di komplek itu.
Kalau biasanya saya panggil tukang potong rumput, akhirnya saya beli mesin potong rumput buatan China seharga Rp800 ribu. Awalnya, saya tidak tahu bagaimana menjalankan mesin itu. Ya, coba-coba saja. Eh, lama-lama jadi bisa. Memang, pada awalnya tubuh dan tangan rasanya bergetar memakai mesin yang digantung di punggung itu. Kompleks saya pun makin bersih.
Meski selama setahun saya evaluasi hasinya hanya beberapa ratus ribu rupiah saja,saya tetap optimis. Apalagi, sejak bulan April 2008 lalu, saya bekerja sama dengan Mas Bambang, pemilik Anugrah Rose Nursery. Ia termasuk pedagang bunga kelas atas di Batam.
Ia setuju join dengan saya setelah melihat kebun saya yang strategis. Di tepi jalan menikung dan di kawasan Batam Centre ke Bandara, dibangu ribuan perumahan baru. Ia mulai mendrop ratusan bunganya dan ditata di kebun saya, eh kami. Ia juga mengirim lima orang tukang kebunnya menggarap kebun bunga itu.
Dalam tempo dua pekan, kebun bunga saya yang belum diberi nama itu, langsung berubah.Bunga ditata apik. Tebing di depan komplek itu langsung hijau dan asri. Tukang kebun itu boleh tahan. Mulai pagi hingga sore, mereka yang berasal dari Jawa Barat itu, bekerja sungguh-sungguh.
Semangat saya yang mulai luntur, bangkit lagi. Saya juga ikut bekerja menata taman. Tak heran, kulit saya jadi hitam terbakar matahari. Tapi yang jelas, tiap hari berkeringat, mandi lalu berangkat kerja. Selain itu, berkebun ternyata sungguh mengasyikkan.
Apalagi, sejak akhir April 2008, penjualan bunga saya meningkat drastis. Dua paranet pelindung bunga dipasang. Lampu taman ditambah dan akan dibangun pondokan semacam green house di ujung taman. Saya optimis, kebun bunga saya akan menjadi taman bunga yang menghasilkan. ***

Jurus Meliput Berita Kriminal

May 13, 2008 · Filed Under jurnalisme · 1 Comment 

Reportase kasus kriminal dan pengadilan pa-da dasarnya tak berbeda dengan liputan lainnya. Prasyarat wajibnya sama: memahami apa yang terjadi dan melaporkannya secara akurat, berimbang dan memikat. Tapi reporter pemula seringkali kelimpungan, bahkan kadang terintimidasi, kala diminta menangani kasus kriminal dan persidangan. Pangkal soalnya sederhana. Mereka tak cukup paham seputar polisi, pengadilan dan hukum. Padahal, sudah seharusnya mereka tahu itu semua.

Saran praktis untuk reporter pemula adalah mendesain program mbelajar sendiri untuk mendapatkan pengetahuan dasar seputar hukum. Dia harus memahami hukum. Dia harus memahami organisasi, fungsi, prosedur dan aparat di berbagai lembaga penegak hukum dan pengadilan. Dia harus memberi perhatian khusus pada pelbagai aturan yang bersinggu-ngan erat dengan peliputan kasus kriminal. Me-mang, jarang ada wartawan pemula yang diter-junkan meliput kasus peradilan besar di hari-hari awal mereka menjadi pekerja pers. Tapi hampir bisa dipastikan mereka lah yang akan didorong meliput kasus kriminal ringan bila re-porter senior tak punya waktu turun ke lapangan.

Reportase Kasus Kriminal
Prinsip dasar reportase persidangan dan ka-sus kriminal adalah tak ada yang diperbolehkan merusak hak tertuduh untuk mendapatkan per-adilan yang adil dan berimbang. Sebab itu, si-apapun yang diminta melaporkan kasus kri-minal, secara hukum, menerima kewajiban re-portase yang berimbang dan akurat, sampai pengadilan menjatuhkan putusan. Kewajiban ini bersifat penuh dan mengikat.
Reportase kasus kriminal dan peradilan seringkali dibagi dalam empat tahap:
1. Tindak kriminal
2. Penangkapan
3. Pengadilan atau persidangan.
4. Putusan

Tindak Kriminal
Dalam peliputan kasus kriminal, tak ada aturan hukum yang bisa disematkan ke orang tertentu sampai seseorang ditangkap dan di-dakwa. Urusan kita sebagai wartawan hanya pa-da akurasi berita. Dengan kata lain hanya Men-yampaikan fakta dasar tanpa pernak-pernik dan sensasionalisme. Jika memungkinkan, tam-pilkan fakta yang tertulis dalam laporan polisi. Ingat, laporkan hanya kasus kriminal yang ber-hubungan dengan masyarakat umum. Karena pembaca tak bisa memilih, kita harus lebih ber-hati-hati menyulam fakta dan kata-kata.

Penangkapan. Prinsip dasar saat melaporkan penangkapan ada-lah kita tak mengatakan apa-pun yang nantinya bisa menciderai posisi si ter-tuduh di pengadilan.Jika kita berhadapan de-ngan sebuah berita tentang perampokan se-buah bank dan polisi memburu seorang pria namun belum menangkapnya, ini sudah cukup adil. Kita akan menyajikan fakta yang tak bisa disangkal. Tapi waspadalah. Ada batasan se-jauh mana Anda bisa melangkah. Sebagai contoh, kita tak bisa mengatakan hal seperti pria itu sedang membakar dokumen kantor saat polisi tiba atau dia punya alat pembobol brankas atau dia menolak berhenti saat diminta polisi. Bahkan, jika pernyataan seperti itu keluar dari mulut polisi kita sama sekali tak berhak mela-porkannya. Ingat, kita sedang meliput penang-kapan.Tinggalkan informasi seperti itu saat me-laporkan penangkapan, tunggu sampai per-sidangan digelar dan barang bukti dipaparkan di pengadilan.
Seorang pria ditemukan tewas, dan hasil visum menunjukkan dia mati tertembak; peluru menembus jantungnya dan dia telah meninggal sekitar enam jam lalu. Ini adalah kejadian kri-minal, bukan penangkapan. Serupa dengan itu, kita bisa mengatakan polisi menyita sebuah pisau di ruangan, tapi kita tak boleh me-nga-takan sesuatu yang bisa mengindiksaikan ada-nya pembunuhan, bunuh diri, pembantaian atau kecelakaan. Biarkan pengadilan yang memu-tuskannya. Semua itu akan ditentukan berda-sarkan barang bukti dan kita belum tahu.
Anda perlu keterampilan mengedit dan re-portase yang lebih tinggi agar bisa mengha-silkan peliputan yang aman. Ingat, ada banyak kasus yang sulit dipetakan permasa-lahannya. Dalam keadaan seperti itu, siapapun yang ragu mesti konsultasi ke redaktur. Ingat selalu, sebelum seseorang diajukan ke peng-adilan, kita tak boleh mengatakan sesuatu yang bisa mempengaruhi keberimbangan persida-ngan atau tak menyebutkan apapun yang bisa diinterpretasikan sebagai barang bukti kesa-lahan atau identifikasi seseorang.

Persidangan
Saat seorang terdakwa tampil di persidangan, kita hanya boleh menyebut nama, umur, alamat dan pekerjaan (dan tolong dapatkan data esen-sial ini secara akurat), dakwaan dan apa yang terungkap selama persidangan. Saat kita telah melaporkan nama dan dakwaan atas sese-orang, kita wajib mengikuti persidangannya sampai tuntas, melaporkannya bahkan jika per-sidangannya masuk ke tahap banding. Jadi, jika kita belum menyentuh sebuah kasus, perhatian yang terungkap selama pembacaan dakwaan sehingga Anda lebih mudah memutuskan apa-kah bernilai untuk mengikuti persidangan ter-tentu hingga akhir. Jika tak ada yang unik pada kasus tertentu, ada baiknya tak menyentuhnya sama sekali karena sekali saja kita menyen-tuhnya maka kita wajib melaporkannya hingga akhir.
Meliput persidangan seharusnya mudah. Ane-ka kesulitan yang menghadang lahir dari kega-galan dasar seorang reporter memahami bah-wa persidangan akan lebih mudah jika dila-porkan secara straight dan kita wajib hanya menggunakan apa yang terucap selama per-sidangan. Dengan kata lain akurat! Sisakan pada tulisan Anda hanya yang relevan dengan kasus yang disidangkan. jangan mencatumkan dalam liputan persidangan bahan yang didapat dari luar ruang ruang sidang. Ini berbahaya dan tak bisa dimaafkan.
Yang ada di kepala polisi atau yang diceritakan polisi kepada Anda bukanlah barang bukti dan tak boleh digunakan sama sekali. Ingat, Anda sedang meliput persidangan. Jika Anda tengah mengedit berita dan ragu bahan mana yang aman dipakai atau tidak dipakai, hanya ada satu aturan aman: Kill the Whole story. Dan yang perlu diingat:
1. Seorang hakim sejatinya adalah ”pemilikï” ruang sidang, dia bisa memerintahkan apapun selama persidangan berlangsung. Karena itu, jika dia memutuskan persidangan berlangsung tertutup, Anda tak boleh, tanpa sepengetahu-annya, melaporkan kasus itu. Jika dia meme-rintahkan barang bukti atau nama tertentu tak boleh digunakan, maka yang dia sebutkan itu tak boleh muncul dalam pemberitaan
2. Kita sama sekali tak berhak melaporkan se-belum atau selama persidangan bahwa ter-dakwa A punya catatan kejahatan di masa lalu. Yang seperti ini hanya boleh digunakan saat terucap dalam persidangan dan jika yang mun-cul kemudian adalah putusan bersalah.

Putusan
Putusan sidang, kecuali ada banding, adalah akhir dari kewajiban kita meliput sebuah kasus. Jika kita telah memulainya, maka jelas kita
harus melaporkan hasil akhirnya. Kita punya pilihan jika yang muncul kemudian adalah pu-tusan bersalah. Jika putusannya ternyata tidak bersalah kita harus terus melaporkan persida-ngannya. Kita terikat pada kewajiban mela-por-kan hasil persidangan banding yang meme-nangkan terdakwa.
Contempt. Secara umum berarti otoritas ha-kim di atas segalanya. Karena itu, kita tak dapat mengatakan sembarang hal seperti hakim bias, tak adil, lembek, atau mempertanyakan otoritas hakim. Ini sudah jelas. Contempt juga berarti apapun yang bisa merusak keberimbangan se-lama persidangan. Jika Anda berpegang pada peliputan straight maka Anda tak bakal jatuh ke jebakan mematikan ini. Ingat tak ada kasus, dalam fase persidangan apapun, yang bisa di-hubungkan dengan kasus apapun yang bisa menciderai posisi tertuduh di pengadilan. Akhir-nya, laporkan hanya persida-ngan yang punya nilai berita. Editor akan memutuskan kasus mana yang sebaiknya diliput secara mendetail. Dalam sebagian besar kasus, sudah cukup jika Anda melaporkan pembacaan dakwaan, tun-tutan dan putusan hakim.

Next Page »