Program Wali Kota Masa Depan

April 24, 2008 · Filed Under politika · Comment 

Sebagai warga kota, saya memimpikan Batam menjadi kota yang hebat. Kota ini berpotensi jadi kota megapolitan dan dikenal secara global. Masyarakatnya dinamis. Kota ini diisi oleh orang-orang profesional, sejahtera dan modern. Inilah beberapa program saya, seandainya suatu saat saya menjadi wali kota Batam.

Sadar atau tidak, selama ini di Batam terjadi survival of fittes atau seleksi alam. Bagi yang kuat, bertahan dan berhasil meningkatkan taraf hidupnya. Sebaliknya, tak sedikit pula yang kalah, bangkrut dan akhirnya pergi meninggalkan Batam.
Biasanya, seorang calon wali kota wajib menyusun program yang akan dijualnya kepada pemilihnya. Programnya hebat-hebat. Ini untuk meyakinkan orang, agar memilih dia. Saya juga menyusun program, seandainya suatu saat saya terpilih sebagai wali kota.
Bedanya, program ini sederhana saja, tapi fokus. Kalaupun saya gagal jadi wali kota, calon-calon lain, atau wali kota terpilih, bisa mengadopsi program saya ini. Tidak apa-apa. Demi kebaikan kita bersama sebagai warga Batam. Jika calon lain itu jujur dan tidak plagiator, ia akan bicara dengan saya, bahwa ia menyadur gagasan saya. Jika tidak? Ya tidak apa-apa.
Apa saja program saya sebagai wali kota Batam? Pertama, membangun jalan raya. Sebab, jalan raya adalah urat nadi perekonomian. Jalan raya di Batam adalah wajah Indonesia yang menjadi etalase ke negara jiran. Bandingkanlah jalan di Singapura dan Malaysia dengan Batam. Sungguh kualitasnya beda jauh.
Lihatlah kualitas jalan protokol, dari bandara Hang Nadim sampai ke Nagoya. Penuh lubang, bekas tambalan dan bergelombang. Padahal, baru beberapa bulan diaspal ulang. Jalan yang tidak berkualitas, tidak hanya membuat ekonomi tersendat, juga menyebabkan banyak nyawa melayang.
Yang dituduh penyebab jalan rusak gara-gara hujan dan banjir menggenangi bahu jalan. Atau, alasan klasik minimnya anggaran. Sementara, banyak jalan dibangun tanpa gorong-gorong dan kendaraan berat bebas melenggang.
Jika saya jadi wali kota, saya akan bangun ulang jalan raya yang bersifat permanen dan memenuhi kebutuhan jangka panjang. Kendaraan dengan tonase yang melebihi daya dukung jalan, tidak boleh melintas sembarangan. Harus lewat jalur alternatif atau jalan tanah, agar tanah yang diangkut tidak berceceran di jalan.
Kedua, program lingkungan dan pengijauan total. Saya merindukan Batam yang nyaman, asri dan tertata. Banyak warga yang mengeluh, udara kota ini panas sekali dan membuat orang tidak betah berlama-lama di kota ini.
Selama ini, pemerintah–siapapun dia, baik Otorita maupun Pemko–tak perduli dan main babat saja. Tidak hanya menebangi pohon, hutan lindung dan bukit pun dibabat. Kalau saya jadi wali kota, stop semua tindakan yang tidak bersahabat dengan lingkungan.
Pernahkah Anda perhatikan tangan supir taksi. Banyak yang tangannya hitam sebelah. Kebiasaan para supir itu, menyetir sambil mengeluarkan tangan kanannya. Akibatnya, tangannya hitam dan belang diterjang terik matahari.
Saya akan keras dengan developer yang seenaknya menebang hutan dan mengambil tanah
perbukitan untuk timbunan. Yang melanggar, akan saya umumkan secara terbuka dan masuk daftar hitam pengusaha tak ramah lingkungan. Ini agar publik tahu dan tidak tertarik membeli rumahnya.
Janji-janji membuat fasilitas umum dan sosial, wajib dipatuhi. Drainase dan gorong-gorong, harus mereka bangun, agar kota ini tidak menjadi langganan banjir.Para pengembang, melalui REI harus menyisihkan sedikit keuntungan untuk program penataan kota.
Saya juga akan mengawasi pemotongan bukit dan penimbunan daerah rendah, lantaran kontur tanah di Batam yang berbukit-bukit. Termasuk reklamasi yang dilakukan pengembang. Sebab, reklamasi yang sembarangan malah mengakibatkan banjir lantaran buangan air ke laut makin jauh dan dataran rendah dan genangan air disulap jadi perumahan dan ruko.
Selain itu, setiap pasangan yang mau menikah, wajib menanam sepuluh pohon. Ini akan menjadi kado perkawinan mereka, melihat seberapa besar pohon itu tumbuh, sampai ke anak cucunya. Bisa dibayangkan, Batam menjadi hijau dan bersih. Kita tidak perlu khawatir global warning karena Batam sudah mengantisipasi sejak dini.
Saya akan menggandengn petani bunga, dan membiarkan mereka memanfaatkan row jalan dan buffer zone agar ditata sedemikian rupa sehingga Batam menjadi kota taman. Ini bukan karena saya sejak setahun lalu saya juga menjadi petani bunga di depan rumah saya. Setidaknya, saya membuka sedikit lapangan kerja, memperindah lingkungan dan warga pun senang.
Ketiga, program penataan pasar. Pasar induk, akan saya bongkar karena pedagang tidak memerlukan pasar seperti museum, cukup los-los untuk menggelar dagangan dan parkir yang cukup. Padahal, pasar yang dikelola swasta, cukup berhasil menarik pengunjung. Tentu ada yang salah dengan pasar-pasar yang sudah dibangun tapi gagal menjalankan fungsi tempat bertemunya pedagang dan pembeli. Nah, cukup tiga program dulu, setelah itu akan saya sampaikan kepada Anda program lainnya. ***

Wali Kota dan Rumus 5=2+2+1

April 23, 2008 · Filed Under politika · 1 Comment 

Tidak mudah jadi wali kota di era reformasi dan Pilkada langsung ini. Selain modal uang dan tampang, juga harus punya perahu partai politik. Saat seseorang maju jadi calon, ia sudah didekati dan mendekati berbagai elemen masyarakat. Sehingga, kini dikenal rumus: 5 = 2 + 2 + 1. Dan saya tidak mau jadi wali kota seperti pola itu.

Artinya, lima tahun berkuasa, dua tahun balas budi, dua tahun cari uang agar balik modal dan setahun siap-siap untuk maju lagi. Pertanyaannya, apakah sang wali kota masih memikirkan dan berbuat untuk rakyat yang memilihnya?

SAAT seseorang maju jadi calon wali kota, ada dua arus yang akan mengapungkannya, dan bisa jadi akan menenggelamkannya. Yang pertama, investor politik. Mulai dari partai politik, tim sukses, tim kampanye, sampai ke tokoh-tokoh masyarakat seperti RT dan RW yang akan menjadi mesin pendulang suara.
Kedua, investor ekonomi. Mulai dari pengusaha, simpatisan, broker dan calo politik, hingga keluarga yang punya dana. Nah, pada saat ia menjadi wali kota, kedua arus besar tadi akan menagih janji, meminta imbalan proyek, serta berbagai keuntungan finansial berlipat ganda.
Jadi, jangan heran. Ketika wali kota baru dilantik, antrian panjang kedua arus ini segera mendaftar. Alasan klasik, menghadap pak wali kota. Lihatlah daftar tamu di kantor wali kota. Wacana calon independen, setidaknya bisa meminimalisir keharusan berhadapan dengan kedua arus besar itu tadi.
Saat menjelang pemilihan wali kota tiba, kasak-kusuk tim sukses dan kelompok-kelompok kepentingan, segera meruap. Beberapa calon yang tadinya berminat maju ke bursa pemilihan, banyak yang kandas di tengah jalan dengan berbagai alasan. Yang paling sering menjadi sandungan adalah keterbatasan uang dan tidak punya perahu partai politik yang mengusungnya.
Saat-saat terakhir, calon potensial itu tadi harus menyingkir lantaran tak punya cukup uang menyetor untuk mengisi pundi-pundi pentolan partai. Atau karena tidak menemukan pasangan yang tepat karena kartu truf di tangan partai. Apalagi, energinya sudah terkuras menjelang babak penentuan siapa calon yang akan diusung.
Beberapa hari ini, saya berdiskusi dan berdebat dengan beberapa teman di Graha Pena, soal keinginan saya mencalonkan diri sebagai wali kota. Seperti Senin (21/4) sore, saya berdebat dengan Ngaliman, calon anggota KPUD Batam, Taman Tamba aktivis Angkatan Muda Partai Golkar, dan Jamil yang pernah menjadi rekdaktur opini dan menyusun buku soal pencalonan wali kota.
”Saya dukung Anda sekarang, tapi nanti belum tentu,” kata Tamba. Secara politis, ia ingin menegaskan, begitulah politik. Ia menyarankan agar saya mendekati partai tertentu. Itulah masalahnya. Saya tak pernah aktif di partai. Tamba termasuk yang sangat percaya kekuatan partai sebagai mesin politik.
Ngaliman lain lagi. Ia menganjurkan agar saya membangun akses yang luas dan nanti akan menjadi kendaraan saya mendulang dukungan. Ia menekankan, perlunya nilai jual seseorang agar dilirik partai. Sedangkan Jamin, lebih memposisikan diri sebagai penhamat dan melihat kemana arah pembicaraan mengalir.
Mungkin saya terlalu percaya diri. Belum apa-apa sudah mencalonkan diri. Tapi, itu lebih baik agar orang lain tahu, apa yang ada dalam pikiran saya. Jika orang lain memilih menahan diri agar tidak menjadi sasaran tembak, sebaliknya, penolakan terhadap keinginan saya menjadi wali kota, akan menjadi latihan jangka panjang. Sekecil apapun penolakan itu.
Yang meragukan kemampuan saya, sudah terbaca dari usulan agar saya cukup jadi wakil saja. Saya tidak mau. Saya mau jadi wali kota, satu periode saja. Waktu lima tahun cukuplah untuk berbuat sesuatu untuk masyarakat Batam. Hasan Aspahani membesarkan hati saya. ”Dulu, kita tahulah siapa orang-orang yang maju ke bursa pemilihan itu. Tapi, ternyata mereka bisa. Malah, George Bush punya blog sehingga orang bisa membaca pikiran dan gagasannya,” katanya.
Politik memang pas dilambangkan dengan Dewa Janus, dewa bermuka dua yang menghadap ke kiri dan ke kanan. Artinya, politik memang ibarat dua sisi mata uang dan sama dengan sifat manusia. Ada benci, ada cinta. Ada konflik, ada kerjasama. Ada rindu dan ada dendam.
Mereka yang benci politik, sering mengatakan bahwa politik itu kotor. Tapi, mereka yang lain mengatakan, dengan politik mengatur negara dan mencapai tujuan bersama. Politik memang paradoksal.
Partai bisa digunakan untuk mesin untuk mencari dan menjalankan kekuasaan, bisa pula dipakai untuk kepentingan pribadi dan kelompok tertentu. Tidak heran, ada yang memilih berada di luar partai, ada pula yang masuk ke dalamnya. Jabatan wali kota adalah jabatan politis. Sehingga, untuk menggapainya, diperlukan langkah-langkah politik. Misalnya, mencari dukungan sebanyak mungkin, menggunakan kekuatan partai, membentuk tim sukses dan sebagainya.
Saya, sejauh ini tidak melakukan apa-apa. Keinginan menjadin wali kota, baru sebatas melontarkan gagasan kepada Anda di blog ini.
Secara akademis, saya paham politik. Sebab, saya memilih mendalami sosiologi politik. Secara teori dan analisis, saya menggunakan pendekatan para pakar dan kepekaan terhadap data dan fakta di lapangan. Sampai saat ini, saya belum tertarik masuk ke partai politik.
Artinya, keinginan saya menjadi wali kota, hanya keinginan berbuat sesuatu untuk kemajuan dan kemaslahatan masyarakat di Batam. Yang jelas, saya sudah menyatakan keinginan saya. Setuju atau tidak, mendukung atau tidak mendukung, bahkan abstain sekalipun, terserah Anda….***

Wali Kota Masa Depan

April 21, 2008 · Filed Under politika · 2 Comments 


Tulis Ringkasan Postingan Anda

Tulis Akhir Postingan Anda

Wajah Wali Kota

April 21, 2008 · Filed Under Uncategorized · Comment 




Tulis Ringkasan Postingan Anda

Tulis Akhir Postingan Anda

Saya Mau Jadi Wali Kota (2)

April 20, 2008 · Filed Under politika · Comment 

Kita lahir, hidup dan mati dalam organisasi. Jika tidak memahami organisasi, akan tersesat dalam hutan rimba yang membingungkan. Itulah kata-kata seorang pakar politik dan organisasi sosial. Saat lahir, Anda sudah harus punya akte kelahiran, lalu mengurus KTP, surat izin usaha, sampai akhirnya mendapat surat keterangan kematian. Organisasi itu bernama negara.
Seperti Anda, saya mulai berorganisasi dengan menjadi ketua kelas, punya geng dan teman sepermainan. Saya suka menjadi pemimpin dan mau dipimpin. Kemampuan organisasi saya, baru terasah saat kuliah. Saya menjadi ketua kesenian, pimred buletin kampus, ketua Unit Kegiatan Olahraga tingkat universitas dan sering menjadi team manager saat kejuaraan nasional berbagai cabang olahraga.
Memang, saya hanya aktif di organisasi intra kampus. Namun, pergaulan dengan teman-teman dari Himpunan Mahasiswa Islam, saya belajar memimpin rapat dan sidang-sidang organisasi mahasiswa. Setelah bekerja, saya menjadi Ketua PWI Perwakilan Batam, lalu memimpin PWI Cabang Kepri. Ternyata, saya ketua PWI Cabang termuda se Indonesia. Saya juga aktif di Indonesian Marketing Association.
Di lingkungan rumah, saya dipercaya menjadi ketua Rukun Warga selama tiga tahun. Padahal, saya tidak pernah menjadi ketua RT. Saya juga diminta menjadi ketua mesjid di lingkungan perumahan kami. Mungkin tak terlalu banyak organisasi yang saya cemplungi, saya berusaha untuk fokus.
Pengalaman berorganisasi, tentu akan berguna kalau saya jadi wali kota. Sebab, memimpin rapat, mendelegasikan tugas, koordinasi, evaluasi didapat dari berorganisasi itulah. Termasuk kesediaan berbeda pendapat, dan mendengarkan orang lain. ”Saya sepakat untuk tidak sepakat” idiom yang sering terdengar dari seseorang yang menghargai perbedaan pendapat.
Maka, jangan heran kalau ada orang yang egois, mau menang sendiri dan memaksakan kehendak dan pikirannya dipenuhi prasangka negatif. Orang seperti ini, lebih mengandalkan kata hati. Padahal, kita juga dianugerahi otak dan logika.
Ada orang yang asyik berdialog dengan dirinya sendiri. Ia mungkin seorang peragu, tapi tak mengakui kondisi itu. Ketika mendengar ada masukan dari seseorang, dianggapnya sebagai sebuah kebenaran. Kekuasaan yang dipamerkannya, sebenarnya lebih untuk menutupi kelemahannya sendiri.
Bangsa kita memang sering tidak jujur. Sering terjadi, sadar atau tidak sadar, kita sulit memuji kelebihan orang lain. Yang dilihat, adalah kekurangannya. Akibat ketidakjujuran itu, ia merasa iri dengan keberhasilan orang lain. Ini tipe SMS alias Senang Melihat orang Susah.
Saya kerap memakai filosofi telunjuk. Ketika kita menunjuk kelemahan seseorang, dua jari kita kepada orang itu. Padahal, tiga jari lainnya mengarah kepada diri kita. Atau, kita diberi dua daun telinga dan satu mulut, agar kita mendengar lebih banyak daripada bicara. Alam terkembang, jadikan guru.
Setiap manusia, tentu memiliki kelebihan dan kelemahan. Selama ini, saya sering lebih berorientasi melihat kelebihan seseorang dan dari situ, saya belajar banyak. Kadang-kadang, saya berpikir, apakah saya orang yang sombong dan meremehkan orang lain?
Seorang teman peneliti pernah mengatakan, mental kita adalah mental orang jajahan dan minder. Apa bedanya orang yang sombong dengan orang yang percaya diri? Orang sombong hanya berkata besar, tapi tak punya bukti. Tapi sebaliknya orang percaya diri, ia sanggup membuktikan omongannya.
Karena dengan kepercayaan diri itulah, saya mengajukan diri sebagai calon wali kota. Dale Carnegi berkata, kalau kamu ingin berhasil, berbuatlah seolah-olah keberhasilan itu sudah di depan mata. Tak ada salahnya kalau saya mengikuti jalan pikiran seperti itu. Siapa tahu, saya benar-benar akan terpilih menjadi wali kota.
Saya orang yang optimis, aktif, kreatif dan dinamis. Meski terkesan terlalu percaya diri, saya percaya dengan kekuatan tim dalam sebuah organisasi, termasuk organisasi pemerintahan. Latar belakang saya yang penuh warna, akan membantu tugas saya sebagai seorang wali kota yang memimpin kota metropolis yang sangat heterogen ini.
Selain organisasi, birokrasi akan jadi fokus perhatian saya berikutnya. Sebab, pada dasarnya birokrasi tujuannya untuk memudahkan urusan, bukan mempersulit. Namun, yang terjadi adalah birokrasi memerangkap para pegawai seperti labirin dan mematikan kreativitas. Yang terjadi adalah pola hubungan atasan-bawahan atau patron-klien.
Nah, apa yang akan saya lakukan seandainya saya terpilih menjadi wali kota Batam. Nantikan posting berikutnya, (bersambung)

Saya Mau Jadi Wali Kota (1)

April 19, 2008 · Filed Under politika · Comment 

Tiba-tiba, saya mau jadi wali kota Batam. Keinginan itu saya sampaikan kepada beberapa teman. Ada yang pura-pura mendukung, ada yang tertawa mengejek, ada pula yang menganggap hanya main-main. Hanya satu orang yang kirim SMS mendukung. Kenapa muncul keinginan gila itu dan apa modal saya?

SEJAK jadi kota, Batam sudah dipimpin empat walikota dan dua Pelaksana Tugas Walikota. Yakni, Usman Draman, RA Aziz, Nazief Soesila Dharma, Nyat Kadir, Manan Sasmita dan Ahmad Dahlan.
Namun, peran wali kota baru agak terasa saat dipimpin Nyat Kadir dan Ahmad Dahlan yang akan menjabat hingga 2011 nanti. Sebab, perannya didukung oleh undang-undang otonomi daerah. Wali Kota sebelumnya, perannya dikebiri lantaran Otorita Batam begitu powerfull dan berkuasa.
Nah, siapa wali kota Batam ke lima? Bisa jadi, saya orangnya. Saya sudah menjadi warga Batam sejak sebelas tahun yang lalu, saat Batam dipimpin wali kota kedua. Saya menyaksikan kota ini tumbuh menjadi kota metropolis, serta beragam masalah yang dihadapinya.
Batam membutuhkan pemimpin yang cakap dan cerdas. Punya akses nasional dan internasional. Egaliter dan diterima masyarakat yang heterogen. Berpikir dan mampu memahami cara kerja mafia. Tegas dan berani mengambil tindakan yang tidak populer. Komunikatif dan cekatan bertindak.
Saya berasal dari keluarga menengah. Artinya, tidak kaya, tidak pula miskin. Bapak saya seorang pengusaha angkutan antar kota. Ibu saya seorang perawat bidan dan membuka apotik. Meski pribumi, keluarga saya tinggal di kawasan Pecinan, di kota Payakumbuh.
Bapak dan ibu saya, punya banyak teman orang Cina. Saya anak ketiga dari empat saudara. Sekolah Dasar kami semua di SD Pius, sekolah terbaik dan berbaur dengan anak-anak Tionghoa. Hanya saya sendiri yang melanjutkan ke sekolah menengah negeri. Keluarga kami kemudian pindah ke Labuh Basilang, kawasan strategis di kota kami.
Daerah ini terkenal dengan premannya. Saya bergaul dengan mereka. Nongkrong sambil main gitar, begadang, berkelahi, mencuri buah-buahan, cari uang dengan membongkar pasir, saya ikut. Yang perlu dicatat, dalam dunia preman terkenal dengan kesetiakawanan.
Karena nakal dan tinggal kelas, saya pindah sekolah ke INS Kayutanam, sekolah yang didirikan sejak tahun 1926. Muridnya berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Berbaur dan tinggal di asrama, tanpa sadar memupuk toleransi dan kemampuan menyesuaikan diri.
INS adalah sekolah unik. Menggabungkan akademik seperti SMA dengan ketrampilan kerja seperti STM. Saya bergaul dengan anak-anak dari Riau, Medan, Jawa sampai dari Aceh serta berbagai kota di Sumatera Barat. Motto sekolah ini sederhana. Dari pohon mangga, jangan harapkan buah rambutan, tapi harapkanlah mangga yang paling manis.
Kami diajar mandiri. Hidup teratur dan disiplin serta bertanggungjawab. Di asrama, murid SMA digabung dengan SMP, empat orang sekamar. Makan siang dan malam, di ruang makan. Pagi sekolah, dan siangnya praktek kerja ketrampilan. Mulai dari pertukangan, besi, otomotif, keramik dan anyaman.
Tamat dari INS, kalau tak bisa menyambung kuliah, bisa wiraswasta. Guru-guru, sebagian tinggal di lingkungan sekolah. Luas sekolah itu 18 hektar. Memang, cap negatif INS sekolah anak nakal. Tapi, saya tahu teman-teman saya anak pintar yang kurang perhatian dan umumnya anak orang kaya.
Kebersamaan, rasa senasib sepenanggungan, itulah yang terasa di INS dan berbeda dengan sekolah lain. Kalau tanggal tua, sebatang rokok bisa diisap bertiga. Jangan coba-coba jadi orang pelit di asrama. Selain dikucilkan, dikerjai anak-anak lain.
Kalau ada yang berkelahi, dilakukan secara sportif, di asrama kosong. Setelah berkelahi, berdamai dan berteman lagi. Sulit melupakan kenangan di INS selama tiga tahun. Saya satu-satunya di angkatan saya yang lulus Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru dan diterima di jurusan Sosiologi FISIP Universitas Andalas.
Sejak jadi mahasiswa, kesulitan ekonomi menghadang. Bapak saya stroke dan lumpuh. Ibu menjadi tumpuan dan tiang ekonomi. Ibu saya wanita yang mandiri dan kuat. ”Kalau orang makan ayam, ya kita makan bayam,” katanya, memberi semangat.
Saya berusaha kuliah sambil bekerja. Mulai dari jaga toko, jual stiker di kampus dan sejak semester tiga, menulis di surat kabar sejak tahun 1989. Saya juga aktif di kampus. Mulai dari bikin acara kesenian, diskusi dan seminar hingga kegiatan olahraga. Saya sempat jadi pimpinan redaksi buletin kampus. Terbit empat edisi, kemudian mati.
Nilai akademis saya tidak jelek-jelek amat. Meski tamatnya lama (7 tahun) Indeks Prestasi saya 3,2. Saya tiga kali dapat beasiswa. Dari 47 mahasiswa di angkatan saya, hanya saya sendiri yang mengambil mata kuliah spesialisasi sosiologi politik. Skripsi saya malah tentang Kamar Dagang dan Industri.
Saat kuliah, saya punya empat cita-cita. Jadi konsultan di perusahaan asing, peneliti, dosen dan jadi wartawan. Saya melakukan sembilan penelitian di luar skripsi. Mulai dari jadi surveyor, menulis tesis hingga asisten peneliti penulisan disertasi mahasiswa S3 Flinders University Australia. Namanya DR Syarif Hidayat, peneliti LIPI.
Selama dua tahun, saya Ketua UKM Olahraga di tingkat Universitas. setiap ada kejuaran nasional olahraga, saya selalu menjadi team manager kampus saya. Padahal, saya tak mengerti olahraga. Saya hanya bisa –bukan pandai– main pandai, main pingpong dan catur.
Sebelum tamat, saya sempat bekerja di sebuah tabloid lokal. Setamat kuliah, saya diterima bekerja sebagai wartawan. Karir saya tergolong cepat. Baru delapan bulan bekerja, saya ditunjuk jadi kepala perwakilan. Secara bertahap, naik jadi redaktur, lalu koordinator liputan, redaktur pelaksana, pimpinan redaksi dan meloncat lagi menjadi pimpinan umum dan perusahaan. Saya tidak pernah jadi wakil atau asisten.
Nah, pembaca yang budiman. Apa gunanya saya sampaikan cerita ini? Sedang menyombongkan dirikah saya kepada Anda? Mungkin saya terlalu percaya diri. Tapi, saya memang sedang mempromosikan diri. Saya juga sedang menguji kekuatan blog ini.

Saya ingin mengatakan, latar belakang saya yang dinamis, cukup layak menjadi seorang wali kota. Siapa tahu, gagasan saya membuat Anda tertarik mendukung saya, ketika saatnya tiba dan saya berkata: Inilah calon wali Kota Batam. Dalam postingan berikut, akan saya sampaikan gagasan saya tentang masa depan Batam. Kalau ada calon lain yang mengungkapkan hal ini, bisa diduga ia membaca blog ini. Terima kasih atas kesabaran Anda mengikuti cerita ini.(bersambung)

Jika Saya Wali Kota Batam

April 17, 2008 · Filed Under feature · Comment 

TIBA-TIBA orang -orang mengelu-elukan saya sebagai walikota Batam. Saya berhasil mengumpulkan suara terbanyak setelah terjadi voting yang menegangkan. Sekaligus mengalahkan lawan-lawan politik saya selama ini. Ucapan selamat berdatangan. Ada karangan bunga, ada pula iklan satu halaman. Astaga? Saya kini jadi walikota..!

Rasanya, saya boleh bangga. Sebab, sayalah walikota pertama yang dipilih berdasarkan aspirasi masyarakat Batam. Dua walikota sebelumnya, hanya seorang pejabat karir yang ditunjuk atasan. Yang satu dinilai suka melawan instansi lain, sedangkan yang satu koordinasi hanya di tingkat elit birokrasi.
Perjalanan saya menjadi walikota memang tidak gampang. Betapa berat perjuangan saya sebelum ini. Modal saya hanya kejujuran, antusiasme, semangat kemasyarakatan, akal sehat serta kemampuan memimpin. Tetapi, itu saja tidak cukup.
Saya tahu betul, rival-rival saya sesama kandidat walikota, selain terkenal, juga punya uang. Mereka sering bicara di koran sehingga warga pulau ini tahu siapa calon mereka. Kadang ada fotonya. Begitu namanya disebut, orang segera tahu siapa dia.
Apalagi, kabarnya mereka punya tim sukses. Tugasnya hanya satu. Bagaimana mengegolkan calonnya menjadi walikota. Mereka inilah yang kasak-kusuk melobi ke sana kemari agar orang-orang, baik secara pribadi maupun kelompok memberikan dukungannya terhadap bakal calon walikota.
Sedangkan saya? Ah, pusing kepala saya memikirkannya. Konon, di luar negeri orang punya kekayaan dulu, baru menjadi pejabat. Tapi di negeri saya, terbalik. Jadi pejabat dulu, baru mengumpulkan kekayaan. Saya tidaklah kaya dan juga bukan pejabat. Makanya, saya jadi bingung begitu ada yang mencalonkan saya.
Tapi, sudahlah. Kini saya seorang walikota. Saya mulai bekerja semampu saya. Tugas pertama saya memimpin rapat di kantor walikota. Saya panggil asisten, kepala-kepala dinas serta kabag-kabag. Saya tanyakan, apa masalah yang dihadapi. Dengan mendengarkan anak buah saya, sekaligus saya belajar menutupi kebodohan saya sebagai orang baru.
Ternyata, jadi walikota tidak semudah yang saya duga. Masalah utama adalah, selama ini tidak ada komitmen jangka panjang dan investasi kepada masyarakat kota ini. Orientasi pembangunan hanya ke soal fisik dan bisnis belaka. Namun masalah sosial kemasyarakatan terlupakan dan jadi tumpang tindih.
Penduduknya bertambah tak terkendali. Harapan orang terhadap pulau ini bertambah tinggi. Padahal, kemampuannya menerima pendatang makin melemah. Akibatnya, banyak yang nganggur. Kriminalitas tinggi dan membuat warga kota kehilangan rasa aman. Sebagian besar warga saya tinggal di ruli.
Kesenjangan sosial makin menjadi-jadi. Ini bisa dilihat dari disparitas penda-patan yang menganga lebar. Seperti syair lagu dangdut, yang kaya makin kaya, yang miskin tambah melarat. Bisnis dikendalikan orang-orang tertentu, yang bisa berkolusi dengan pejabat dan memberi upeti serta tidak mengungkit-ungkit kekuasaan mereka.
Saya kini jadi tahu, partisipasi warga kota sangat rendah. Siapa lu, siapa gue. Budaya yang berkembang adalah ketidakpastian dari kaum urban. Hukum tak jelas kemana berpihak. Siapa yang kuat, itu yang menang. Primordialisme menjadi-jadi.
Kesempatan buat warga tidak sama. Ketidakadilan ada dimana-mana. Akibatnya, warga kota saya gampang marah. Mereka frustrasi karena setelah jauh-jauh merantau ke sini, belum juga berhasil. Mau kembali ke daerah asal, malu sama orang sekampung. Saya pening memikirkan semua ini. Seperti lingkaran yang tak berujung.
Sebagai walikota, saya harus bekerja keras mengurus masyarakat saya. Saya merasa antusias, kota ini akan maju seperti Singapura. Saya punya keberanian dan bekerja sesuai prioritas tanpa kompromi dengan mengembangkan keya-kinan dan membuat komitmen. Badan saya memang tidak tinggi besar, tapi se-mangat saya menyala-nyala
Saya menginginkan warga Batam punya antusiasme, akal sehat, kerja keras, semangat kemasyarakatan serta komitmen untuk maju dalam zaman yang penuh persaingan ini. Dengan begitu, saya yakin bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat secara dramatis.
Masalah-masalah di kota pulau ini, tanpa saya sadari membuat saya menjadi lebih sabar. Sabar menghasilkan kegigihan, kegigihan menghasilkan watak, watak menghasilkan harapan dan harapan menghasilkan kekuatan.
Sebagai walikota, saya sering datang ke pasar-pasar, pusat keramaian dan juga ke pemukiman liar. Saya berdialog dengan mereka. Mencoba memahami warga saya dari kaca mata mereka. Ternyata, selain miskin, warga saya yang tinggal di rumah beratap getah dan dinding seadanya itu, merasa betah-betah saja.
Mereka datang ke pulau ini menyeberangi lautan dengan harapan merubah nasib dan masa depan. Dan, mereka hanya berniat tinggal sementara. Namun, sadar atau tidak, mereka sudah bertahun-tahun berlidung dari panas dan terik matahari di ruli. Dan sudah beranak pinak pula.
Di pasar-pasar, warga saya berdagang kaki lima. Sebab, mereka tak sanggup menyewa ruko pakai dolar Singapura. Jangankan punya dolar, mengumpulkan rupiah demi rupiah saja, mereka sudah bekerja mati-matian. Apalagi, tak ada tempat bagi mereka di los pasar yang sempit. Pasar Rakyat yang dijanjikan, entah kapan selesainya.
Saya temui buruh-buruh yang bekerja di pabrik-pabrik. Saya bercakap-cakap dengan supir taksi gelap dan yang terang. Saya bertemu dengan pemulung, penjaga malam, kuli bangunan, sampai pengangguran dan wanita yang menjajakan cinta sesaat. Pokoknya, saya ingin menyerap secara langsung aspirasi masyarakat saya.
Saya tidak mau dan tidak betah duduk berlama-lama di kantor yang ber-AC, menerima tamu dari pagi sampai petang, atau keliling-keliling kota dengan alasan urusan dinas. Yang saya lakukan, mengurus masyarakat kota saya dan menjadi kepala pelayan bagi mereka. Toh, karena merekalah saya bisa duduk di kursi empuk ini sebagai wali kota.
Sebagai orang nomor satu di Batam, saya sedang menunggu dengan penuh harap pelaksanaan otonomi daerah. Apalagi, sudah terlalu lama daerah dihisap pusat seperti lintah. Pendapatan Asli Daerah saya ini, dulu harus disetor ke pusat. Setelah itu, kami tidak tahu kemana uang itu. Entah masuk kas negara yang makin bangkrut, atau masuk ke kantong bapak-bapak semalam.
Kini, sayalah yang menentukan penggunaan lahan. Sebab, tidak ada artinya saya jadi walikota, tapi semua diatur oleh Otorita Batam. Kalau masih seperti dulu juga, itu berarti saya hanya sebagai walikota boneka. Saya tidak mau, ah…
Sebagai walikota di zaman otonomi ini, saya akan mewujudkan persamaan hak politik (political equalitiy) untuk berpartisipasi bagi warga saya. Sebab, saya menyadari, masyarakat Batam sangat heterogen, yang terdiri dari kelompok-kelompok sosial dan masing-masing akan memperjuangkan kepentingannya.
Saya juga akan membuka kran kebebasan berpolitik (political liberty) bagi warga Batam. Pemda bisa mengambil kebijakan tanpa campur tangan pusat, tidak seperti selama ini. Setiap kebijakan saya, sesuai dengan tuntutan masyarakat. Dan yang lebih penting, saya mengembangkan apa yang disebut local responsiveness dimana Pemda akan lebih responsif terhadap komunitas masyarakat Batam.
Saya sadar benar, saya mesti bersedia berbeda pendapat dan dikritik masyarakat serta mengorbankan kepetingan saya dan kelompok saya demi orang banyak. Klise memang. Tapi, walikota sebagai bos di Pemda, prilaku walikotanya akan mempengaruhi pemerintahnya. Itulah sebabnya, yang pertama kali saya benahi adalah jajaran birokasi sebagai pelayan masyarakat.
Pelan tapi pasti, saya berhasil membangun ekonomi rakyat Batam. Memang tidak sehebat Singapura, tapi lumayanlah. Sebab, selama ini sudah dimotori oleh Otorita Batam. Kerja keras saya mulai menampakkan hasil dengan tumbuhnya rasa memiliki warga kota terhadap pulau ini.
Konflik-konflik sosial, bisa ditangani berkat kerjasama yang harmonis antara komponen masyarakat. Sebab, saya menyadari betul, konflik dan integrasi ibarat dua sisi mata uang, tergantung kita memeneejnya. Saya juga mampu menjalin hubungan yang harmo
nis dengan Otorita Batam yang kini mengurusi investasi yang mengalir ke pulau ini. Tapi, soal masyarakat, itu urusan saya.
Sebagai pemimpin yang didahulukan selangkah dan ditinggikan seranting, saya merasa dicintai masyarakat saya. Mereka menyampaikan dukungannya agar saya kembali mencalonkan diri untuk periode kedua sebagai walikota. Tapi saya menolak. Sudah cukuplah rasanya. Yang penting, saya sudah meletakkan tatanan hidup bermasyarakat dalam pulau ini.
Tiba-tiba saya terbangun. Hari sudah hampir pagi. Mata saya mengerjap-ngerjap, lalu saya gosok dengan punggung tangan. Tak ada siapa-siapa, selain istri saya di tempat tidur kami. Astaga? Ternyata saya bermimpi menjadi walikota.
Lama saya merenung. Ternyata saya hanya bermimpi panjang. Tapi saya tak habis pikir, kenapa mimpi seperti itu yang datang. Lalu saya teringat, sorenya saya membaca berita tentang penjaringan aspirasi masyarakat tentang walikota. Sampai-sampai terbawa dalam mimpi.
Saya teringat satu hal. Memang baik menjadi orang penting, tetapi lebih penting menjadi orang baik. Saya memang bukan walikota, saya hanya seorang wartawan. ***

Berhenti Merokok

April 16, 2008 · Filed Under pribadi · 2 Comments 

Hari ini, sudah tiga hari saya berhenti merokok. Ternyata, saya hebat juga. Bisa menyetop kebiasaan buruk bertahun-tahun itu. Karena tidak ada yang memuji, bolehlah saya puji keberhasilan saya ini. Padahal, saya mengantongi resep dokter untuk berhenti merokok. Tapi, ternyata bukan karena resep itu…

SAYA mulai belajar merokok kelas II SMP atau pada usia 15 tahun. Saat itu tahun 1981. Baru terasa kecanduan pada kelas I SMA. Saya masuk SMA tahun 1983 dan tamat tahun 1987. Lho, kok empat tahun. Ya iyalah, karena pakai tinggal kelas, saat kelas satu, he..he.
Nah, anggaplah saya merokok sejak tahun 1983 berarti, saya sudah menjadi perokok selama 25 tahun! Itu berarti lebih separuh dari usia saya saat ini. Kalau rata-rata saya merokok sebungkus per hari atau 20 batang x 365 hari x 25 tahun berarti saya sudah mengisap 182.500 batang rokok.
Itu baru jumlah rokoknya. Kalau hitung-hitungan duit yang sudah ‘terbakar’ selama ini? Taruhlah sebungkus Rp7.500 saja maka uang yang sudah terbuang percuma Rp7.500 x 365 x 25 tahun berarti Rp68.437.500. Lumayan besar, bukan?
Tapi, ya begitulah. Namanya juga kecanduan. Saat SMP saya pernah kabur dari rumah. Agar tetap bisa merokok, saya bekerja setengah hari di pabrik tas, memasang paku yang diketok palu ke tas-tas itu. Sorenya, langsung dapat gaji. Saya belikan rokok, dan asap pun mengepul.
Setelah tinggal kelas, saya masuk INS Kayutanam, sekolah dengan areal 18 hektar, lengkap dengan asrama, ruang makan, kolam renang dan lapangan sepakbolanya. Merokok tetap dilarang dan kami lakukan sembunyi-sembunyi. Kalau tanggal tua, malah sebatang rokok bisa diisap tiga orang!
Pernah saya melihat ada teman yang mengumpulkan puntung rokok, lalu dilinting dan dibungkus kertas tipis, dan diisap lagi. Persis seperti orang melinting ganja. Itu karena kiriman uang dari orangtuanya belum datang-datang dan di kantin tak dikasih ngutang lagi.
Saat di asrama, saya jadi punya teman akrab karena rokoknya sama-sama Bentoel Biru. Saat kuliah, saya lama sekali mengisap rokok putih Dunhill. Lumayan mahal, tapi saya terdorong untuk cari uang agar bisa beli rokok. Saya kuliah sambil bekerja serabutan. Sehingga, beli rokok sudah tak masalah.
Pada tahun 2003 saya pernah berhasil berhenti merokok selama empat bulan. Saya tidak ingat karena apa. Yang jelas, saya ingin berhenti. Tapi, suatu sore, rumah kontrakan saya dilalap api karena korsleting. Saya stres, lalu merokok lagi. Rokok pun gonta-ganti. Marlboro, lalu Sampoerna, pindah ke LA Light, balik lagi ke Marlboro dan Sampoerna lagi.
Keinginan berhenti merokok tetap ada. Tapi, bagaimana caranya dan kapan memulainya? Saya pernah membeli CD untuk menghipnotis orang agar berhenti merokok. Saya putar sebentar, lalu saya merokok lagi.
Pernah pula saya beli buku saku.Ukuran dan disainnya seperti kotak rokok. Judulnya, baca buku ini dan berhenti merokok.Saya tidak sempat baca semuanya, bukunya saya simpan saja. Dalam beberapa tahun terakhir, saya termasuk rajin check-up kesehatan.
Termasuk memeriksa darah dan jantung. Saya pernah treathmill selama 12 menit. Kata dokter, tak ada masalah. Begitu pula rekam jantung. Hanya saja, belakangan ulu hati terasa sesak, perut kembung dan dada nyeri. Ternyata, itu karena naiknya asam lambung.
Nah, terakhir saya konsultasi dengan dokter Afdalun, spesialis jantung. Saya bertanya cara berhenti merokok. Dokter itu tersenyum. Lalu, ia memberi saya resep. ”Kalau coba obat ini, lama-lama rokok terasa tidak enak,” katanya. Resep itu saya simpan dan tidak jadi saya tebus. Saya merasa, sehebat apapun obatnya, kalau kita tidak mau berhenti, ya susah.
Malam tanggal 13 April itu, dua bungkus rokok di ruang tamu, berikut korek apinya, saya remas sampai setengah hancur, lalu saya buang jauh-jauh. Saya berhenti merokok,” kata saya dalam hati. Saat kisah ini saya posting, sudah tiga hari saya berhenti merokok.

Ini lelucon tentang rokok. Seorang lelaki berusia 50 tahun pergi ke dokter. Terjadi dialog seperti berikut:
Dokter: Anda merokok?
Pasien: Oh, tidak, dok.
Dokter: Minum minuman keras?
Pasien: Ah, juga tidak, dok.
Dokter: Main perempuan?
Pasien: Wah, apalagi itu dokter. Nggaklah!
Dokter: Jadi, buat apa lagi Bapak hidup. Tiga itulah kenikmatan dunia.

Lalu, ada kisah seorang lelaki yang batuk-batuk dan sesak nafas, datang berobat ke dokter penyakit dalam. Sambil menulis resep, dokter berkata. ”Bapak tidak boleh merokok lagi,” katanya. Sebatang rokok terselip di bibirnya dan asapnya berkepulan. Pasien itu heran, lalu bertanya,” Dokter, Anda melarang saya merokok, tapi Anda sendiri merokok,’’sergahnya.
”Nah, itulah beda dokter dan pasien,” jawab dokter itu kalem.
Saat istri saya melahirkan, saya melihat dokter spesialis kandungan juga merokok sebelum melaksanakan operasi caesar. Alasannya, ia tegang dan stres sehingga merokok.
Jadi, kalau saya berhenti merokok, itu sudah hebat. Kalau saya nanti merokok lagi, maklum sajalah! Yang jelas, saya sudah merasakan salah satu kenikmatan dunia. Bagi yang tidak merokok, cobalah, lalu berhentilah. ***

Doa Wartawan Tua

April 15, 2008 · Filed Under Uncategorized · Comment 

Inilah salam dan doa dari seorang Rosihan Anwar, wartawan tua yang masih tetap energik, aktif dan tetap menulis. Saya mengutip tulisannya agar menjadi bahan renungan bagi wartawan-wartawan muda, seperti Anda. Selamat membaca.

BERKAITAN dengan telah tiba saatnya kita memasuki Tahun Baru 2008,terimalah salam hormat dari seorang wartawan tua beserta doa. Saya doakan wartawan Indonesia, baik yang sudah memenuhi standardisasi profesional dan kompetensi, maupun yang belum memperolehnya, baik yang sudah mantap maupun yang masih susah agar tetap bekerja sesuai dengan tradisi pers pergerakan nasional pada awal abad ke-20 yaitu melindungi golongan yang lemah dan terjajah, membela rakyat yang dizalimi oleh penguasa, atau dalam bahasa kaum muda sosdem (sosial demokrasi) sekarang agar memihak kaum miskin atau pro-poor.
Dengan begitu, wartawan Indonesia tetap jujur pada dirinya, berbuat benar menaati jati diri dan idealismenya. Kepada sesama anak bangsa, saya sampaikan salam silaturahmi disertai doa semoga kita semua mampu menjaga agar Indonesia tetap jujur terhadap dirinya, mampu menegakkan martabat dan harga dirinya, tidak terombang-ambing di tengah pergolakan globalisasi dunia dan tersihir oleh pengaruh neokapitalisme dan neoliberalisme yang tidak berperikemanusiaan.
Betapa pun sulitnya dirasakan beban tekanan ekonomi dalam kehidupan sehari-hari, betapa pun suramnya masa depan, betapa besarnya kekecewaan akibat ketertingggalan Indonesia dari negeri-negeri lain di kawasan Asia Tenggara, namun janganlah lupa berterima kasih tiap hari kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Jika di negara lain di benua lain terdapat peperangan, pengeboman,
pembunuhan, kita di Indonesia relatif masih aman. Oleh karena itu, marilah kita bersyukur tiap kali bangun pagi kepada Tuhan Yang Maha Pelindung.
Banyak generasi muda, kendati telah menyelesaikan studi dan meraih
gelar kesarjanaan, amat sulit memperoleh pekerjaan. Banyak rakyat kita mengalami pengangguran, menghadapi kesukaran di bidang pendidikan, kesehatan dan mereka tidak bisa keluar dari keterpurukan karena pemimpin yang tanpa visi dan tanpa peduli, karena elite dan oligarki politik dan bisnis lebih sibuk dengan kepentingan dan kekuasaannya sendiri ketimbang menolong rakyat yang mayoritas.
Dalam keadaan sulit demikian, kita makin terdorong mendoakan dan mengharapkan supaya anak bangsa mengubah kehidupannya, mentransformasi sikap dan wataknya. Mereka yang terimpit dalam kesakitan agar berusaha bangkit berdiri menjadi insan yang kreatif dan bekerja walaupun di bidang terbatas dan sekecil-kecilnya. Namun, mereka yang di atas memegang kekuasaan berubah menjadi insan yang menaruh welas-asih dan memberikan perhatian kepada keadilan dan kesejahteraan sosial bagi rakyat ini yang telah begitu lama menderita.
Saya doakan agar kita semua punya sikap membantu orang-orang lain. Jangan lupa memuliakan kaum ibu kita, usahakan memberdayakan kaum perempuan supaya mereka lebih tangguh berfungsi sebagai pendidik anak bangsa. Ingat selalu ibu-ibu kita yang selama sembilan bulan mengandung anak mereka, kemudian membesarkan dan mengasuh anak dengan kasih sayang. Kita berutang budi pada mereka. Bantulah mereka.
Saya doakan agar dalam keadaan bagaimanapun juga kita tetap bersikap
positif. Tidak terus mengomel dan mengkritik. Berusaha mengurangi kesenjangan sosial dan melenyapkan kecemburuan sosial. Berusaha bersama-sama mencari cahaya terang di ujung terowongan gelap. Berusaha memperbaiki lingkungan hidup.
Tidak ada yang orisinal, tidak ada yang luar biasa dalam salam dan doa di atas tadi. Saya hanya mengutip filsafat Oprah Winfrey, tokoh media televisi ternama di Amerika, seorang Afro-America, talkshow hostess yang berpengaruh dan berwibawa. Filsafat Oprah dirumuskan dalam kata-katanya sendiri adalah (1) Be true yourself, (2) Be grateful every day, (3) Transform your life, (4) Help others, (5) Stay positive.
Mungkin biasa-biasa saja kedengarannya, tetapi bagi saya cukup mengesankan justru karena biasa-biasa itu, namun mengandung suatu kebenaran yang mendalam. Dengan pengharapan agar bangsa Indonesia dalam tahun 2008 akan lebih baik keadaannya, sekali lagi bersama ini terimalah salam dan doa akhir tahun dari seorang wartawan tua. Semoga Tuhan memberkati kita semua.***

Tuhan Sembilan Senti

April 14, 2008 · Filed Under humaniora · 1 Comment 


* Oleh Taufiq Ismail

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok. Dimana-mana, orang merokok. Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok. Dimana-mana, orang merokok. Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,
Di sawah petani merokok, di pabrik pekerja merokok, di kantor pegawai merokok, di kabinet menteri merokok, di reses parlemen anggota DPR merokok, di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok, hansip-bintara-perwira nongkrong merokok, di perkebunan pemetik buah kopi merokok, di perahu nelayan penjaring ikan merokok, di pabrik petasan pemilik modalnya merokok, di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,
Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok, di ruang kepala sekolah ada guru merokok, di kampus mahasiswa merokok, di ruang kuliah dosen merokok, di rapat POMG orang tua murid merokok, di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok,
Di angkot Kijang penumpang merokok, di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok, di loket penjualan karcis orang merokok, di kereta api penuh sesak orang festival merokok, di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok, di andong Yogya kusirnya merokok, sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok.
Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok, tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok, Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,
Di pasar orang merokok, di warung Tegal pengunjung merokok, di restoran di toko buku orang merokok, di kafe di diskotik para pengunjung merokok,
Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan asap rokok, bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok,
Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menularkan HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya. Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus, kita ketularan penyakitnya. Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS,
Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia, dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu, bisa ketularan kena, Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok, di apotik yang antri obat merokok, di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok, di ruang tunggu dokter pasien merokok, dan ada juga dokter-dokter merokok,
Istirahat main tenis orang merokok, di pinggir lapangan voli orang merokok, menyandang raket badminton orang merokok, pemain bola “futsal” sembunyi-sembunyi merokok, panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis, turnamen sepakbola mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,
Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok, di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok, di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok merokok,
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi orang perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok, Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita, Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap. Haasaba, yuhaasibu, hisaaban. Bukan ahli hisab ilmu falak, tapi ahli hisap rokok. Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala kecil, sembilan senti panjangnya, putih warnanya, ke mana-mana dibawa dengan setia, satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,
Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang, tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan, cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri. Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?
Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu. Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz. Kyai, ini ruangan ber-AC penuh. Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i. Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok. Laa taqtuluu anfusakum.
Min fadhlik, ya ustadz. 25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan. 15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan. 4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?
Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith. Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu, sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.
Jadi ini PR untuk para ulama. Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok, lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan,
Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini. Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu, yaitu ujung rokok mereka. Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir. Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai terbatuk-batuk,
Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini, sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok. Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas, lebih gawat ketimbang bencana banjir, gempa bumi dan longsor, cuma setingkat di bawah korban narkoba,
Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita, jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan celana, dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna, diiklankan dengan indah dan cerdasnya,
Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri, tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini, karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,
Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.

« Previous PageNext Page »